Konten dari Pengguna

Berani di Kamera, Diam di Dunia Nyata

Oni Tarsani

Oni Tarsani

Dosen Universitas Al-Azhar Indonesia dan penulis dengan nama pena Arsa Kalam. Aktif menulis tentang pendidikan, kehidupan kampus, literasi, pengembangan diri, dan fenomena sosial.

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Oni Tarsani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang menggunakan smartphone. Foto: Pexels/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang menggunakan smartphone. Foto: Pexels/Pixabay

Aneh, tetapi nyata. Ada orang yang mampu berbicara dengan percaya diri kepada ratusan orang melalui siaran langsung, tetapi mendadak gugup ketika harus menyampaikan pendapat di hadapan belasan orang dalam sebuah forum. Semakin sering saya memperhatikan, semakin saya sadar bahwa pemandangan seperti ini bukanlah hal yang langka.

Pemandangan seperti itu ternyata tidak sulit ditemukan hari ini. Di kampus, kantor, maupun lingkungan tempat tinggal, banyak orang tampak lebih percaya diri saat berhadapan dengan kamera daripada ketika harus berbicara secara langsung. Fenomena ini bisa ditemukan pada mahasiswa, pedagang, karyawan, bahkan siapa saja yang akrab dengan media sosial.

Barangkali inilah salah satu ironi kecil di era media sosial. Semakin mudah seseorang berbicara kepada ribuan orang melalui layar, semakin banyak pula yang merasa canggung ketika harus berbicara kepada orang-orang yang berada tepat di hadapannya.

Perubahan ini sebenarnya terasa dalam banyak situasi sehari-hari. Di ruang tunggu, misalnya, tidak sedikit orang yang lebih memilih menatap layar ponselnya daripada memulai percakapan dengan orang yang duduk di sebelahnya. Dalam acara keluarga, ada yang begitu aktif mengunggah momen kebersamaan ke media sosial, tetapi hanya sedikit terlibat dalam obrolan yang sedang berlangsung. Bahkan dalam pertemuan komunitas atau organisasi, tidak jarang diskusi yang sepi justru diikuti percakapan yang sangat ramai di grup WhatsApp setelah acara selesai.

Mengapa Kamera Terasa Lebih Aman?

Berbicara di depan kamera ternyata tidak selalu sama dengan berbicara di depan orang lain. Ketika membuat konten, seseorang bisa mengulang ucapannya jika merasa kurang pas, memilih bagian terbaik untuk ditampilkan, atau bahkan membatalkan unggahan yang dianggap kurang memuaskan. Sebaliknya, dalam percakapan langsung tidak ada tombol ulang. Apa yang terucap harus diterima saat itu juga, lengkap dengan berbagai kemungkinan respons dari orang lain.

Di depan kamera, seseorang juga tidak berhadapan dengan tatapan puluhan pasang mata yang menunggu untuk menilai atau menanggapi. Karena itulah banyak orang merasa lebih santai saat berbicara kepada layar ponsel dibandingkan ketika harus berdiri di depan forum, rapat, atau ruang kelas. Tidak heran jika ada orang yang tampak sangat percaya diri di media sosial, tetapi mendadak gugup ketika harus menyampaikan pendapat secara langsung.

Maka, orang yang lebih banyak diam dalam sebuah forum belum tentu tidak memiliki pendapat. Bisa jadi ia hanya lebih terbiasa menyampaikan pikirannya melalui ruang yang berbeda. Dunia digital telah memberi banyak orang tempat untuk bersuara, meskipun keberanian yang sama belum tentu mudah muncul ketika mereka berhadapan langsung dengan orang lain.

Saat Dunia Maya Terasa Lebih Ramah

Saat berada di media sosial, seseorang bisa menjadi dirinya sendiri dengan lebih leluasa. Ia bebas memilih cara berbicara, topik yang ingin dibahas, bahkan komunitas yang ingin diikuti. Tidak heran jika banyak orang merasa lebih santai saat berinteraksi di dunia digital.

Di sana, penggemar memancing bisa bertemu sesama pemancing, pencinta kuliner bisa saling berbagi rekomendasi makanan, dan pelaku usaha kecil bisa bertukar pengalaman tanpa merasa canggung. Perasaan diterima oleh orang-orang yang memiliki minat serupa sering kali membuat seseorang lebih percaya diri untuk berbicara.

Media sosial juga memberi sesuatu yang jarang ditemukan dalam percakapan langsung, yaitu kendali. Seseorang bisa memilih kapan ingin berbicara, kepada siapa ia ingin merespons, dan topik apa yang ingin diikuti. Jika merasa tidak nyaman, ia bisa keluar dari percakapan hanya dengan menutup aplikasi. Kemudahan seperti ini membuat banyak orang merasa lebih aman dibandingkan harus berhadapan langsung dengan situasi yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya.

Menjembatani Keberanian Digital dan Keberanian Nyata

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberanian berbicara memiliki banyak wajah. Ada yang percaya diri saat menyampaikan pendapat dalam forum, ada pula yang lebih mudah mengekspresikan diri melalui layar ponsel. Keduanya sama-sama bentuk komunikasi yang lahir dari lingkungan yang berbeda.

Bukan berarti kemampuan berkomunikasi masyarakat menurun. Yang berubah adalah ruang tempat kemampuan itu berkembang. Jika generasi sebelumnya belajar berbicara melalui pertemuan tatap muka, banyak orang hari ini justru belajar menyampaikan pendapat, membangun kepercayaan diri, dan berinteraksi dengan orang lain melalui layar ponsel. Cara belajarnya berbeda, tetapi kebutuhannya tetap sama: ingin didengar dan diterima.

Tantangannya bukan memilih antara dunia digital atau dunia nyata, melainkan menjembatani keduanya. Sebab sehebat apa pun kita berinteraksi melalui layar, pada akhirnya kehidupan tetap mempertemukan kita dengan percakapan-percakapan yang tidak bisa diulang, diedit, atau dihapus. Mungkin di situlah pelajaran penting zaman ini: bagaimana tetap berani berbicara di dunia nyata, setelah begitu terbiasa berbicara di depan kamera.