news-card-video
30 Ramadhan 1446 HMinggu, 30 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna

Kurban ke Yordania, Tengok Nelangsa Ribuan Keluarga Pengungsi Suriah

Aksi Cepat Tanggap
Aksi Cepat Tanggap adalah organisasi kemanusiaan global profesional berbasis kedermawanan dan kerelawanan masyarakat global
25 Agustus 2017 16:31 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:15 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Aksi Cepat Tanggap tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kurban ke Yordania, Tengok Nelangsa Ribuan Keluarga Pengungsi Suriah
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT
Mengingat Yordania, di benak kebanyakan masyarakat Indonesia bisa jadi yang paling terbayang adalah sebuah negara dengan kemakmuran yang sedang meningkat. Sebuah negara yang berada di bawah Kerajaan Monarki tetapi punya tingkat perkembangan manusia yang bergerak ke atas, alias makin makmur, lebih dari cukup untuk sekadar mencukupi makan dan papan. Yordania pun sejajar dengan negara Timur Tengah yang tingkat ekonomi baik. Bagi yang awam sekilas setara dengan Qatar, Uni Emirat Arab, atau Arab Saudi.
ADVERTISEMENT
Faktanya memang, begitulah kondisi Yordania hari ini. Mata uang Dinar Yordania berada dalam posisi yang tangguh di antara negara-negara Timur Tengah lain. Sekira 7 juta 500 ribu penduduk Yordania sedang merasakan perputaran ekonomi yang tumbuh pesat, dengan sebuah iklim ekonomi pasar bebas yang baik.
Akan tetapi, fakta-fakta ekonomi dan kemakmuran Yordania yang tampak mapan nan tangguh itu tak pernah berarti apa-apa bagi ratusan ribu pengungsi, ya pengungsi. Jumlahnya jutaan jiwa. Yordania membuka pintu lebar-lebar untuk arus pengungsi, menampung untuk sementara bahkan selamanya.
Silakan lihat peta Timur Tengah, posisi Yordania berada tepat di tengah lingkaran kekalutan negeri-negeri yang berkonflik.
Kurban ke Yordania, Tengok Nelangsa Ribuan Keluarga Pengungsi Suriah (1)
zoom-in-whitePerbesar
Sebelah barat Yordania ada batas wilayah langsung yang mengarah ke Palestina dan Israel, sebelah utara Yordania bersisian langsung dengan negeri Suriah yang berdarah-darah, sementara sebelah timur Yordania mengarah langsung ke luasnya wilayah Irak.
ADVERTISEMENT
Bahkan sebagai perbandingan jarak dari Palestina ke Yordania, bagi pendatang siapa pun yang hendak masuk ke dalam lingkungan Kompleks Suci al-Aqsa, pilihan paling masuk akal adalah transit via Amman Yordania, kemudian melaju jalur darat menuju Yerusalem. Jaraknya sekira 217 kilometer atau tak lebih dari 5 jam perjalanan.
Bukan hanya dalam hitungan tahun, sudah lebih dari tiga dekade terakhir Yordania menjadi salah satu lokasi penampungan pengungsi terbesar di dunia. Tiga dekade lampau, laju pengungsi asal Palestina bergerak menuju Yordania. Di tanah Yordania, ratusan ribu pengungsi asal Palestina berharap menemukan nasib hidup yang lebih baik, ketimbang harus bertahan di tengah gempuran Zionis Israel yang tak henti menggencet, menjajah, mengambil dan mengakui tanah Bangsa Palestina sebagai tanah mereka.
ADVERTISEMENT
Kini, lebih dari 30 tahun berjalan, puluhan sampai ratusan ribu keluarga Palestina masih bertahan di tengah hiruk pikuk ekonomi Yordania, beradu kesempatan pekerjaan dengan 7 juta populasi asli Bangsa Yordania.
Belum usai masalah Palestina, pecah konflik paling berdarah-darah dalam sejarah konflik modern: perang sipil Suriah.
Dari sebelah utara Yordania, ada garis batas dengan Suriah memanjang ribuan kilometer. Tak ayal, Yordania kembali menjadi destinasi pengungsi yang lari dari gempuran rudal dan roket di Suriah.
Kurban ke Yordania, Tengok Nelangsa Ribuan Keluarga Pengungsi Suriah (2)
zoom-in-whitePerbesar
Bulan Juli tahun 2012, demi menampung membludaknya arus pengungsi asal Suriah, Yordania mengambil sikap untuk membuka Zaatari Refugee Camp, sebuah kamp penampungan raksasa yang berada di sebelah utara Yordania, tak jauh dari gerbang perbatasan Suriah dan Yordania. Zataari Camp menampung permanen puluhan ribu pengungsi asal Suriah.
ADVERTISEMENT
Tenda-tenda berjejer di tengah tanah lapang yang tandus dan gersang, panas dan pengap sudah tentu menjadi hari-hari pengungsi di Zataari Camp, apalagi makin hari populasi pengungsi Suriah yang ditampung makin membengkak. Estimasi terakhir tahun 2015 lalu sekira ada 79.900 jiwa pengungsi Suriah yang bergelut dengan panas dan kemiskinan di Zataari Camp. Mungkin hari ini, populasinya sudah hampir menyentuh 90.000 jiwa pengungsi.
Temui pengungsi Suriah di Yordania, bawa amanah kurban dari Indonesia
Begitu realitas Yordania hari ini. Walau rata-rata ekonomi negeri itu stabil bahkan meningkat, tapi di sudut lain Yordania, ada ratusan ribu, bahkan hampir sejuta populasi pengungsi yang tak punya masa depan.
Pengungsi dan warga asli Yordania hidup berbarengan, membagi kesempatan pekerjaan, mencoba segala peruntungan demi bisa menyambung hidup dengan status pengungsi korban perang. Bahkan di Amman Ibukota Yordania pun berjubel pengungsi asal Suriah, juga Palestina.
Kurban ke Yordania, Tengok Nelangsa Ribuan Keluarga Pengungsi Suriah (3)
zoom-in-whitePerbesar
Dari Jakarta ke Yordania, Global Qurban menjalin korespondensi dengan mitra lokal yang bermukim di Amman. Mengulang kembali kisah kurban tahun kemarin, insyaAllah Global Qurban tahun 2017 akan kembali menghampiri rumah-rumah atau kamp pengungsi di Kota Amman, juga di sepanjang perbatasan utara Yordania dan Suriah.
ADVERTISEMENT
Kurban setahun lalu, di Kota Amman Global Qurban bertemu dengan Um Abdo, seorang ibu paruh baya yang bermukim di Amman. Um Abdo (Ibu dari Abdo) dulu tinggal di Homs, Suriah. Tapi konflik Suriah meletus dan menghilangkan seluruh harta Ibu Abdo. Dari Homs, Um Abdo lari lari ke Beirut Lebanon bersama dengan 4 orang anaknya. Tak lama, Lebanon mengusir secara halus Um Abdo dan ribuan pengungsi lainnya. Sampai akhirnya Um Abdo dihempas di Kamp Zataari, Yordania.
“Saudara saya lalu datang membawa saya keluar dari kamp Zataari dan hidup di Amman. Rumah kami hanya rumah sewaan. Saya menjual harta terakhir cincin pernikahan saya untuk menyewa rumah di Amman. Hidup makin sulit karena pekerjaan tak pernah mudah untuk kami yang berstatus pengungsi,” katanya haru.
Kurban ke Yordania, Tengok Nelangsa Ribuan Keluarga Pengungsi Suriah (4)
zoom-in-whitePerbesar
Lain lagi cerita dari Sorour, seorang ibu dengan lima anak yang ditemui Tim Global Qurban di Amman. Ibu berusia 32 tahun ini juga berasal dari Homs, Suriah. Tahun 2012 Sorour nekat dengan suami dan lima orang anaknya membayar penyelundup untuk membawa masuk ke Yordania, menjadi pengungsi korban perang.
ADVERTISEMENT
“Saya punya dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, saya juga sedang hamil. Rumah di Homs tetap lebih nyaman dibanding menjadi pengungsi di Amman. Di sini, suami saya tidak pernah mendapat pekerjaan, karena sebagai pengungsi harus punya izin kerja yang sulit sekali didapat. Tapi mau bagaimana lagi? Untuk kembali ke Homs hampir mustahil, perang belum usai,” kata Sorour.
Dua perempuan tangguh, Um Abdo dan Sorour hanyalah contoh kecil dari nelangsa yang kini sedang jenuh di Amman Yordania. Setahun kemarin, Global Qurban datang jauh dari Indonesia sampai ke negeri Yordania. InsyaAllah tahun 2017 ini cerita kurban yang sama bakal terulang lagi di Yordania, mengetuk pintu rumah-rumah pengungsi asal Suriah dan Palestina, bawa gurih daging kurban dari Indonesia. []
Kurban ke Yordania, Tengok Nelangsa Ribuan Keluarga Pengungsi Suriah (5)
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT