Mengenal Hipoksia: Jenis, Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegah

#SemuaUntukSiKecil
Tulisan dari Orami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Moms, pernah mendengar kondisi bernama hipoksia (hypoxia)? Beberapa waktu lalu, happy hypoxia menjadi sorotan karena menjadi salah satu gejala dari COVID-19. Ada baiknya Moms memahami lebih jelas tentang kondisi hipoksia, serta penyebab dan gejala yang ditimbulkan.
Hipoksia adalah rendahnya kadar oksigen dalam jaringan tubuh. Kondisi in terjadi akibat dari rendahnya kadar oksigen di udara.
Tentunya, hipoksia bisa berakibat fatal, karena tubuh memerlukan oksigen. Ketika kadar oksigen berkurang drastis, maka jaringan tubuh dapat terganggu serta mengakibatkan beberapa kondisi lainnya.
Jenis-jenis Hipoksia
Sebelum memahami tentang penyebab terjadinya hipoksia, ada beberapa jenis hipoksia yang dibedakan dalam pengobatannya, yaitu:
Hipoksemik hipoksia, terjadi saat tekanan oksigen dalam darah mengalir ke jaringan terlalu rendah untuk memenuhi hemoglobin.
Hipoksia anemik, yaitu ketika jumlah hemoglobin terlalu rendah, sehingga kapasitas darah untuk membawa oksigen juga terlalu rendah.
Hipoksia stagnan, ketika kondisi darah normal, namun aliran darah ke jaringan berkurang atau tidak terdistribusi secara merata.
Hipoksia histotoksik, yaitu ketika sel-sel jaringan diracuni dan tidak dapat menggunakan oksigen dengan benar.
Hipoksia metabolik, yaitu kondisi yang terjadi karena lebih banyak oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh daripada biasanya.
Perlu dipahami, penyakit pada darah, jantung, dan paru-paru dapat menyebabkan beberapa jenis hipoksia sekaligus.
Sementara itu, jenis hipoksia juga bisa dibedakan dilihat dari mekanismenya:
Hipoksia yang terjadi karena penurunan jumlah oksigen yang terjadi secara mendadak. Kondisi ini dapat dialami oleh pilot, pendaki gunung, atau orang yang tinggal di dataran tinggi.
Hipoksia karena gagal jantung dan paru, ketika paru-paru tidak dapat secara efisien mentransfer oksigen dari alveoli ke darah.
Itulah jenis-jenis hipoksia yang perlu dipahami. Kondisi seperti apa saja yang meningkatkan risiko terjadinya hipoksia?
Baca Juga: Mengenal Terapi Oksigen, Manfaat, dan Risikonya Bagi Tubuh
Penyebab Terjadinya Hipoksia
Penyebab utama terjadinya hipoksia adalah berkurang atau tidak adanya suplai darah ke otak, tidak adanya suplai oksigen, dan kurangnya kadar oksigen dalam darah. Namun, kondisi yang menyebabkan terjadinya hipoksia tidak dapat dilihat dari satu kondisi saja.
Ada berbagai kondisi yang menjadi penyebab hipoksia. Berikut ini beberapa faktor risiko yang bisa menyebabkan terjadinya hipoksia:
Keracunan bahan kimia atau gas, misalnya seperti keracunan sianida atau karbon monoksida.
Berkurang atau tidak adanya konsentrasi oksigen. Kondisi ini dapat terjadi saat berada di tempat ketinggian tanpa bantuan oksigen, tenggelam, atau kebakaran.
Terjadi masalah pada paru-paru, seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), empisema, bronkitis, edema paru, kanker paru, sleep apnea, radang paru, pneumotoraks, asma, atau COVID-19.
Kerusakan paru-paru akibat trauma tertentu.
Konsumsi obat yang dapat mengurangi atau menghentikan upaya bernapas.
Masalah pada jantung, seperti bradikardia atau fibrilasi ventrikel.
Anemia, atau kondisi lainnya yang merusak sel darah merah. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah. Saat seseorang mengalami anemia, maka kadar hemoglobinnya akan rendah sehingga dapat mengalami hipoksia.
Penyakit stroke iskemik juga dapat menyebabkan hipoksia. Kondisi ini terjadi ketika suplai darah rendah dan terhalangnya pembuluh darah utama yang menyuplai otak.
Baca Juga: Awas, Sesak Napas saat Berbaring Bisa Jadi Pertanda Penyakit Jantung
Apa Saja Gejala saat Mengalami Hipoksia?
Gejala hipoksia dapat berbeda-beda pada tiap orang. Namun, menurut WebMD, ada beberapa gejala umum saat seseorang mengalami hipoksia. Perhatikan gejala berikut ini:
Perubahan warna kulit, mulai dari membiru hingga memerah.
Mengi.
Merasa kebingungan.
Batuk-batuk.
Denyut jantung cepat.
Napas cepat.
Sesak napas.
Tubuh berkeringat.
Gelisah.
Jika terjadi kondisi di atas, Moms harus waspada dan sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Apabila anggota keluarga Moms tiba-tiba mengalami hipoksia, sebaiknya lakukan penanganan mandiri sambil menuju ke rumah sakit.
Ada beberapa hal yang bisa segera dilakukan, yaitu:
Memberikan bantuan tabung oksigen. Maka dari itu, selalu sediakan tabung oksigen berukuran kecil di rumah sehingga mudah untuk digunakan dan dibawa bepergian.
Duduk dan condongkan tubuh ke depan untuk meningkatkan pernapasan diafragma.
Jangan berkerumun di dekat seseorang yang sedang mengalami hipoksia. Bawa ke tempat terbuka agar lebih banyak mendapatkan oksigen.
Longgarkan pakaian dengan tujuan memperlancar pernapasan. Pastikan tidak ada kerah baju atau ikat pinggang yang mengikat.
Perlu Moms pahami, semakin lama seseorang berada dalam kondisi hipoksia, maka akan lebih besar kemungkinan kerusakan organ yang dialami karena tidak mendapatkan suplai oksigen. Jadi, jangan pernah sepelekan kondisi ini, ya.
Baca Juga: Pengertian Anosmia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan
Nah, itulah beberapa informasi penting yang bisa Moms pahami tentang hipoksia. Ingat selalu untuk menjaga kesehatan paru-paru dengan baik, ya!
Artikel dari Orami Parenting
