Kisah Kakak, Dewa Dan Perjalanan Menyambut Mentari

Tulisan dari Orlando Prasaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Matahari selalu menjadi simbol utama dari banyak kebudayaan kuno. Salah satunya adalah Mesir. Di negeri para dewa ini sangat terkenal dengan konsep keseimbangannya. Sehingga, setiap unsur pasti mempunyai pasangannya. Seperti lelaki dan perempuan, kakak dewa dan adik dewa, hitam, dan putih, serta yang lainnya.
Bahkan unsur-unsur pasangan tersebut tidak terikat kepada sesuatu yang bersifat materiil saja, tetapi juga bisa ke sifat. Seperti pemberani dan pengecut, jujur dan bohong. Bahkan bisa menjadi sebuah atribut identitas, seperti penyabar, penipu, pelakor, dan sebagainya.
Legenda tentang sesuatu yang berpasangan itulah yang membuat kakak dan Dewa memutuskan untuk pergi bersama. Kakakku adalah seorang perempuan yang cantik dan baik. Sedangkan Dewa, aku sendiri tidak tahu tentangnya. Tapi banyak yang mengatakan kalau dia adalah seorang penipu. Tepatnya adalah penipu hati wanita.
Tapi entah mengapa kakak begitu tergila-gila dengan dirinya. Mereka memang sangat akrab dan sering membicarakan kisah legenda dan sejarah-sejarah dunia. Utamanya tentang mitologi dan kisah para dewa.
Kini kakak pergi bersama si penipu itu untuk mengejar matahari. Mereka ingin menyambut mentari. Mereka begitu tergila-gila dengan benda bulat panas yang selalu berputar-putar itu.
Mungkin mereka terlalu banyak menonton film fiksi. Bagiku, hal itu sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin mereka menyambut mentari? Bagaimana caranya?
Matahari sendiri dalam berbagai kebudayaan mempunyai banyak nama. Dalam mitologi Mesir, ia bernama dewa Ra. Dalam kebudayaan India, ia bernama dewa Surya. Dalam mitologi Nordik ia bernama dewa Matahari. Lalu bagaimana cara mereka akan menggapainya? Kakak dan dewa, si pencuri hati itu.
Jika saja mereka ingin pergi ke Barat untuk mencari sebuah buku, mungkin nalarku masih bisa menggapainya. Tapi kali ini, mereka berniat menggapai mentari. Sungguh merupakan suatu hal yang mustahil dan tak masuk akal.
Kini aku hanya bisa mendoakan mereka berdua. Semoga Dewa dan kakak bisa tersadar bahwa keinginan untuk menyambut mentari bukanlah sesuatu yang rasional, tapi lebih ke khayalan. Semoga mereka bisa tersadar dengan cepat dan segera.
