Dari Ragu Jadi Langganan, Cerita Konsumen Borong Proton Exora Bekas

Nama Proton mungkin sudah lama tidak terdengar di daftar merek mobil di Indonesia. Jaringan penjualannya pun sudah tidak lagi seperti ketika merek asal Malaysia tersebut masih aktif memasarkan produknya di Tanah Air.
Namun, cerita berbeda justru masih ditemui di kalangan pemiliknya. Ada yang awalnya datang dengan keraguan, tetapi usai menjajalnya sendiri, mereka akhirnya memantapkan hati untuk memboyong Proton ke rumah.
Cerita seperti itu kerap ditemui Kemal, pemilik Bengkel Proton Centre Jatiasih. Selama menangani berbagai model Proton, ia melihat pengalaman menggunakan mobil tersebut menjadi alasan sejumlah konsumennya tetap bertahan dengan merek besutan Negeri Jiran.
Salah satunya konsumen asal Tasikmalaya yang hendak mencari unit Toyota Innova untuk bisnis travel kepada Kemal. Selain memiliki usaha bengkel, Kemal juga mencoba peruntungan di bisnis jual beli mobil bekas.
Karena dulunya pernah bekerja sebagai mekanik Proton pada tahun 2008, ia mencoba menawarkan stok Proton Exora miliknya. Setelah mengecek kondisi mobil dan mencoba mengendarainya, keraguan si konsumen pun perlahan berubah menjadi keputusan untuk membeli.
“Konsumen dari Facebook. Pas ketemuan saya suruh coba, satu putaran paling, pokoknya duit saya pegang kan. Abis nyoba akhirnya dia beli karena katanya cocok. Saya kasih rekomendasi Proton karena secara harga lebih murah,” kata Kemal.
Menurut Kemal, si konsumen membeli Exora sebab membutuhkan mobil dengan kabin yang cukup lega dan nyaman untuk membawa banyak penumpang. Karakter tersebut dinilai sesuai dengan kebutuhan kendaraan travel yang dijalankannya.
Setelah menggunakan unit pertama, sang konsumen ternyata kembali membeli Exora. Pembelian tersebut berlanjut hingga total model Exora yang pernah dimilikinya mencapai tiga unit.
“Buat usaha travel cocok katanya karena lega. Di sana banyak orang tua kan yang biasanya ziarah, butuh bisa muat banyak dan nyaman. Awalnya beli tipe manual, enam bulan kemudian beli yang matik, terus nggak lama beli manual lagi dia sukses sampai bisa nyicil beli Hiace,” tutur Kemal.
Cerita serupa juga dialami konsumen lain yang memiliki toko kue. Saat pertama kali bertemu, si konsumen tersebut membeli satu unit Exora, sebelum kemudian jumlah mobil yang digunakannya bertambah.
“Dari satu unit, jadi empat. Exoranya semua beli sama saya. Nama tokonya Exo Bakery di Pluit. Jadi saking sukanya sama Exora, sampai tokonya dikasih nama begitu. Sayangnya sekarang sudah nggak ada tokonya, sudah bangkrut karena Covid-19,” lanjut Kemal.
Baginya, cerita seperti ini menjadi salah satu gambaran bahwa keraguan terhadap Proton sering muncul sebelum mencoba mobilnya secara langsung. Nama merek yang tidak sebesar pemain Jepang membuat sebagian orang merasa ragu terhadap kualitas dan kenyamannya.
Kemal bilang, pengalaman berkendara menjadi faktor yang menurutnya paling mudah mengubah pandangan tersebut. Terutama pada Exora yang menawarkan ruang kabin luas dan karakter berkendara yang dinilai nyaman untuk perjalanan bersama banyak penumpang.
