Gempuran Truk China hingga Bahan Baku Naik, Puluhan Karoseri di Jabar Bangkrut

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas pabrik industri karoseri PT Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang, Jawa Barat. Foto: Sena Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas pabrik industri karoseri PT Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang, Jawa Barat. Foto: Sena Pratama/kumparan

Industri otomotif yang sulit tak hanya menjadi tantangan untuk sektor roda empat atau roda dua, melainkan juga berimbas bagi pelaku body builder atau karoseri lokal. Bahkan, jumlah pemain di ranah ini sudah menyusut cukup besar.

Direktur PT Metalindo Teknik Utama (MTU), Syarifuddin Tangka, bercerita bahwa pemain industri karoseri di wilayah Jawa Barat tinggal menyisakan sekitar 200 pabrikan. Padahal sebelumnya bisa mencapai lebih dari 300 pabrikan.

"Di Jawa Barat saja, itu kurang lebih ada 320 karoseri. Kita mau menjadi lima terbaik, dan sepanjang perjalanan ini, yang eksisting sampai sekarang tinggal 230 di awal tahun 2026. Jadi, lebih kurang ada yang sudah dibilang tidak aktif atau mati suri. Tapi itulah kondisi teman-teman kita," buka Syarifuddin di Karawang, Jawa Barat.

Salah satu penyebab utamanya adalah permintaan yang sedang lesu, belum lagi persoalan truk impor asal China yang sudah menjadi persoalan sejak beberapa tahun terakhir. Syarifuddin bilang, tahun ini para pelaku karoseri masih harus dihadapkan dengan harga bahan baku yang meningkat dan pelemahan nilai mata uang rupiah.

Aktivitas pabrik industri karoseri PT Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang, Jawa Barat. Foto: Sena Pratama/kumparan

"Ini juga yang betul-betul mematikan customer kami, yang ada di ATPM, sebelumnya yang biasa order 30-50 unit dalam satu bulan, ini tidak ada lagi. Paling ada cuma 1-2 unit dan harga bahan baku sekarang terutama besi naik hampir 40 persen," paparnya.

Selain itu, karoseri juga tak luput dari dampak melemahnya nilai mata uang rupiah saat ini. Menurut Syarifuddin, masih banyak komponen inti yang harus didatangkan utuh dari luar negeri untuk diaplikasikan di kendaraan.

"Pasti berdampak, karena dolar (AS) yang diserang pertama adalah bahan bakar minyak. Sebagai bocoran saja, dari bulan Januari ke Mei itu kenaikan bahan baku sudah 39 persen, hampir 40 persen, berpengaruh pada barang impor untuk sistem," terangnya.

Asosiasi karoseri sudah sampaikan ke pemerintah

Aktivitas pabrik industri karoseri PT Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang, Jawa Barat. Foto: Sena Pratama/kumparan

Sejatinya, perusahaan dan Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) sudah melayangkan keluhan kepada pemerintah. Padahal pihaknya bersama dengan komunitas karoseri lokal lainnya selalu mematuhi peraturan pemerintah.

"Kita dibatasi oleh aturan, misalnya aturan ODOL yang harus kita patuhi. Sementara truk impor ini dari sisi emisi saja ada yang masih Euro2, Euro3, sementara kita dipaksakan Euro4 dengan teknologinya kita," jelasnya.

"Itu betul-betul miris. Karena kita dipaksakan untuk mengikuti aturan yang ada, sementara yang impor jauh dari itu, belum lagi kalau bicara ukuran dimensinya, sudah betul-betul tidak ada aturan kalau mobil impor," kata Syarifuddin.

Kabar impor truk dari China untuk kebutuhan tambang memang masih hangat saat ini. Menilik laman resmi Badan Pusat Statistik Ekspor Impor Tahun 2024, aktivitas impor truk dari China ke sejumlah tambang di Indonesia telah mencapai angka ribuan unit.

Truk Shacman F3000. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

Sebenarnya permasalahan tersebut sudah mendapat perhatian dari perwakilan Kementerian Perindustrian, yang berkomitmen mengkaji regulasi agar lebih ketat. Tujuannya melindungi produsen yang telah memiliki dan membangun ekosistem industri di Indonesia.

“Kita akan mengusulkan ke Kementerian Perdagangan, (merumuskan) Permendag terkait tata perdagangan impor,” buka Staf Direktorat IMATAP, Ditjen ILMATE Kemenperin, Andi Komara saat di Kemayoran, Kamis (9/4/2026).

Andi menambahkan, sejumlah langkah akan diambil untuk mengurangi jumlah truk impor yang terus masuk ke Tanah Air. Cara yang ditempuh salah satunya dengan menerbitkan dokumen TPT (Tanda Pendaftaran Tipe) dan varian kendaraan bermotor impor.

“Untuk membatasi truk impor ini, kita bisa mendekati jadi dua. Kita terapkan satu lartas (larangan dan pembatasan) atau dengan pengenaan tarif,” imbuhnya.

Selain itu, Kemenperin mengeluarkan usulan agar pengadaan truk impor tersebut dikenakan tarif pajak. Kebijakan tersebut dinilai lebih realistis karena regulasi PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) tidak hanya mengatur banderol kendaraan.

DCVI dukung industri karoseri dan otomotif nasional

Aktivitas pabrik industri karoseri PT Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang, Jawa Barat. Foto: Sena Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas pabrik industri karoseri PT Metalindo Teknik Utama (MTU) di Karawang, Jawa Barat. Foto: Sena Pratama/kumparan

Sementara itu, PT Metalindo Teknik Utama (MTU) juga menjadi mitra terpercaya bagi PT Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) selaku pemegang merek Mercedes-Benz Bus & Truck di dalam negeri.

Truck Body Builder Advisor PT DCVI, Hendro Sembodo menjelaskan, kerja sama yang terjalin dengan karoseri lokal merupakan salah satu aspek penting dalam roda industri otomotif nasional dan mendukung pembangunan ekonomi negara.

"Selain yang penting itu tentu ada ATPM, ada diler, ada leasing, itu adalah faktor-faktor lainnya dan karoseri merupakan salah satu pihak yang sangat penting untuk bisnis kendaraan komersial," ucapnya kepada media di Karawang.

Sejak tiga dekade lalu, industri karoseri sangat bergantung dengan pasar kendaraan komersial, utamanya bisnis angkutan dan pertambangan dengan membangun rumah-rumah untuk jenis tractor head dan non-tractor head.

"Nah keduanya butuh karoseri, untuk yang tractor head kita butuh priority dan itu juga berasal dari karoseri. Kemudian untuk yang kendaraan landasan, kita juga butuh rumah-rumah dari karoseri," tandas Hendro.