GIAMM Sebut Rencana Relokasi Pabrik Komponen ke Vietnam Jadi Peringatan Keras

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pabrik VinFast di Vietnam. Foto: Dok. VinFast
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pabrik VinFast di Vietnam. Foto: Dok. VinFast

Sekretaris Jenderal GIIAM (Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor) Rachmat Basuki mengatakan, isu pemindahan sebagian aktivitas bisnis dua perusahaan komponen otomotif asal Jepang di Jawa Timur ke negara lain, patut dicermati serius.

"Kalau perusahaan tersebut benar-benar relokasi artinya di Vietnam sangat menguntungkan dibanding dengan Indonesia, dan ini merupakan alarm untuk pemerintah agar kebijakan dan iklim usaha untuk bisa perbaiki," kata Rachmat kepada kumparan, Senin (22/6/2026).

Ia menambahkan, melakukan relokasi perusahaan yang sudah memiliki basis produksi di dalam negeri dikatakannya tidak mudah, sebab dibutuhkan perhitungan yang matang. Berembusnya kabar tersebut tentunya menjadi tekanan tersendiri untuk iklim otomotif domestik.

"Kalau dilihat pasar domestik dari 2022 turun dan cenderung stagnan di 800 ribuan (unit), artinya dua tahun industri komponen sangat tertekan kecuali yang bisa suplai ke roda dua. Ada beberapa anggota GIAMM yang punya jaringan global untuk tetap survive dengan upaya ekspor, cuma supplier lokal kan agak sulit," jelas Rachmat.

Proses perakitan mobil Toyota Yaris Cross di Karawang Plant. Foto: dok. TMMIN

Disebutkan, dua perusahaan komponen otomotif asal Jepang tersebut berinisial PT J dan PT S yang berbasis di Jawa Timur. Produk yang jadi komoditi utama disebutkan oleh Rachmat adalah sistem jalur kelistrikan kendaraan (wire harness).

"Saya tidak bisa sebut, perusahaan besar untuk produksi wiring harness supply ke industri otomotif," tandas Rachmat singkat.

Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal membeberkan dua pabrikan suku cadang itu menyuplai produknya untuk beberapa merek seperti Toyota, Daihatsu, hingga Suzuki.

"Karena situasi perang yang tidak menentu, membuat prinsipalnya yang di Jepang akan memindahkan ke negara-negara yang lebih produktif dan mengubah diversifikasi produknya. Nah, karena ini mobil, jadi mereka akan berfokus di mobil listrik yang pengembangannya dilakukan di Vietnam, bukan di Indonesia," ujar Iqbal kepada kumparan, Senin (22/6/2026).

Ilustrasi aktivitas di pabrik baru Karawang Assembly Plant 2 (KAP 2) milik Astra Daihatsu Motor (ADM) yang berlokasi di Kawasan Industri Surya Cipta, di Karawang Timur, Jawa Barat. Foto: Astra Daihatsu Motor

Namun, Iqbal mengeklaim bahwa dua perusahaan komponen itu tidak sepenuhnya meninggalkan Indonesia. Pria yang juga menjabat Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh ini bilang akan segera berkoordinasi dengan pemerintah.

"Mitigasi yang akan dilakukan oleh pemerintah bersama serikat buruh minta bernegosiasi dahulu dengan perusahaan. Apa yang bisa dilakukan untuk meyakinkan prinsipalnya untuk tidak pindah ke Vietnam," katanya.

Iqbal juga meminta serikat pekerja di bawah naungannya, FSPMI untuk menggelar diskusi dengan perusahaan yang bersangkutan guna mengamankan hak-hak pekerja. Ia secara paralel menyampaikan informasi tersebut ke Presiden Prabowo.