IBC: LFP Kuasai Pasar EV, Baterai Nikel Punya Kelasnya Sendiri

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mobil listrik Hyundai Kona Electric saat peresmian fasilitas pabrik sel baterai PT Hyundai LG Indonesia (HLI Greenpower Indonesia) di Karawang, Jawa Barat, Rabu (3/7/2024). Foto: Sena Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mobil listrik Hyundai Kona Electric saat peresmian fasilitas pabrik sel baterai PT Hyundai LG Indonesia (HLI Greenpower Indonesia) di Karawang, Jawa Barat, Rabu (3/7/2024). Foto: Sena Pratama/kumparan

Pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia terus berhadapan dengan persaingan antara baterai berbasis nikel dan Lithium Iron Phosphate (LFP). Jenis terakhir saat ini mendominasi pasar domestik karena harganya dinilai lebih terjangkau.

"Di Indonesia saat ini memang mayoritas produsen masih menggunakan LFP karena target pasarnya sangat sensitif terhadap harga," ungkap Direktur Pengembangan Bisnis Indonesia Battery Corporation (IBC), Niko Chandra ditemui di Kemayoran, Jakarta (26/8/2026).

Meskipun segmen pasar menengah ke bawah dikuasai LFP, baterai berbasis nikel dikatakan masih punya tempat, terutama untuk kelas kendaraan premium. Pengaplikasiannya pun juga masih luas di jenis hibrida.

"Baterai nickel-based masih tetap punya tempat khususnya untuk mobil-mobil premium, di mana nama-nama besar seperti BMW, Mercy, dan Hyundai sudah menggunakannya," imbuh Niko.

Pekerja memotret kemasan sel baterai di kontainer di pabrik baterai kendaraan listrik PT Hyundai LG Industry (HLI) Green Power usai diresmikan di Karawang, Jawa Barat, Rabu (3/7/2024). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Sebelumnya pemerintah semakin mempertegas arah peta jalan industri nikel nasional menuju hilirisasi yang jauh lebih terstruktur. Memastikan kekayaan mineral dalam negeri tidak sekadar habis diekspor dalam bentuk setengah jadi, melainkan mampu menjadi tulang punggung teknologi canggih masa depan.

"Kalau kita lihat ekosistem nikel kan banyak ya, ratusan, smelter juga sudah banyak, makanya supaya memang memberikan value yang lebih tinggi kalau semakin ke hilir," jelas Niko.

Dorongan masif ke hilir ini dinilai sangat mendesak mengingat tren perkembangan teknologi mobilitas global yang melesat cepat. Kebutuhan akan penyimpanan daya tidak lagi hanya terbatas pada kendaraan listrik konvensional roda dua maupun roda empat.

"Ke depan kami optimistis tidak hanya bicara EV, untuk teknologi tinggi seperti drone, robotika, itu pastinya akan butuh baterai yang sifatnya ringan tapi density energy-nya tinggi," papar Niko.

Menjawab tantangan padat energi tersebut, Niko bilang konsorsium BUMN di sektor baterai mulai aktif membuka keran kemitraan strategis dengan para pemain global. Salah satu fokus penjajakan saat ini adalah mengejar ketertinggalan dalam riset baterai generasi terbaru yang jauh lebih padat dan aman.