Kurikulum Keselamatan Lalu Lintas: Solusi Mengubah Karakter Pengguna Jalan

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga berkerumun di lokasi insiden kecelakaan kereta api dengan truk di perlintasan sebidang JPL 190 Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, Selasa (28/4/2026) malam. Foto: Irfan Anshori/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga berkerumun di lokasi insiden kecelakaan kereta api dengan truk di perlintasan sebidang JPL 190 Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, Selasa (28/4/2026) malam. Foto: Irfan Anshori/ANTARA FOTO

Tingginya kasus kecelakaan di jalan raya tak bisa dipandang sederhana sebagai sistem lalu lintas yang error. Pakar dan pengamat sepakat, setiap insiden yang terjadi adalah akumulasi dari kesadaran dan pemahaman keselamatan masyarakat yang amat rendah.

Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno menekankan pentingnya menumbuhkan budaya keselamatan berlalu lintas sejak dini. Karena menurutnya, Indonesia selama ini hanya melakukan pendekatan administratif.

"Pentingnya mengintegrasikan pendidikan keselamatan lalu lintas ke dalam kurikulum di Indonesia. Alasan fundamental mengapa kurikulum ini menjadi sangat krusial di Indonesia," buka Djoko kepada kumparan.

Dirinya menambahkan, untuk mengubah perilaku atau kebiasaan masyarakat tidak bisa dilakukan instan. Apalagi hanya mengandalkan upaya penindakan yang bersifat prosedural atau formil, contohnya seperti tilang.

Kondisi taksi listrik yang rusak usai mengalami kecelakaan dengan KRL Commuter Line di Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

"Kalau masuk ke dalam kurikulum sekolah, etika berlalu lintas dipandang sebagai bagian dari norma sosial dan karakter bangsa, bukan sekadar ketakutan pada denda. Anak-anak yang telah teredukasi bisa jadi pengingat untuk orang tua dan sanak keluarganya," imbuh Djoko.

Djoko bilang, materi keselamatan berlalu lintas tidak selalu berdiri sendiri. Ia dapat diintegrasikan dengan kurikulum atau disiplin ilmu lainnya, seperti soal matematika untuk menghitung jarak pengereman atau fisika untuk mengetahui momentum dan gaya gesek.

"Pemanfaatan fasilitas praktik agar siswa dapat merasakan simulasi berkendara yang aman tanpa risiko nyata. Diperlukan kerja sama antara Kementerian Pendidikan, Kementerian Perhubungan, dan Kepolisian untuk memastikan materi yang diajarkan relevan dengan kondisi lapangan," terangnya.

Lebih lanjut, beberapa negara maju yang memiliki penerapan keselamatan berlalu lintas yang tinggi dapat menjadi panutan bagi Indonesia. Misalnya Belanda dengan Verkeersexamen, Jepang dengan Omoiyari, atau Jerman dengan Verkehrserziehung.

Aksi peserta Astra Honda Safety Riding Instructors Competition (AHSRIC) 2024 di Astra Honda Motor Safety Riding Park (AHMSRP) di Deltamas, Cikarang, Bekasi, Kamis (4/7/2024). Foto: Fitra Andrianto/kumparan

"Pendidikan keselamatan lalu lintas di mancanegara umumnya tidak hanya berfokus pada pengenalan rambu, tetapi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dan pembentukan karakter sejak usia dini. Pendekatannya sering kali menggabungkan aspek psikologi, infrastruktur yang mendukung pembelajaran, serta penegakan hukum yang ketat," ujar Djoko.

Tanpa kurikulum yang kuat, upaya perbaikan infrastruktur jalan yang masif di Indonesia tidak akan memberikan dampak maksimal, karena faktor manusia (human error) tetap menjadi penyebab utama kecelakaan.

"Melalui edukasi yang terstruktur, kita tidak hanya mencetak pengguna jalan yang cerdas, tetapi juga warga negara yang memiliki empati dan rasa tanggung jawab tinggi di ruang publik," pungkas Djoko.