Leapmotor: Dari Hangzhou ke RI, Bawa Teknologi In-house dan Dukungan Stellantis

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Leapmotor. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Leapmotor. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Di tengah derasnya gelombang kendaraan elektrifikasi asal China, nama Leapmotor menjadi salah satu pemain yang mulai mencuri perhatian.

Berbeda dengan banyak pabrikan otomotif konvensional yang perlahan bertransformasi ke kendaraan listrik, Leapmotor sejak awal lahir dibangun sebagai perusahaan kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV).

Perusahaan ini berdiri pada 2015 di Hangzhou, China, sebuah kota yang juga dikenal sebagai pusat perusahaan teknologi besar di Negeri Tirai Bambu. Dari titik itulah Leapmotor tumbuh bukan sekadar sebagai manufaktur otomotif biasa, melainkan seperti perusahaan teknologi yang membuat mobil.

Model-model mobil NEV Leapmotor. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Modal tersebut terasa penting. Karena sejak awal, mereka memilih mengembangkan banyak teknologi inti secara mandiri atau in house. Di industri otomotif modern, langkah seperti ini tidak mudah. Sebab kebanyakan pabrikan masih mengandalkan banyak pemasok untuk sistem utama kendaraan.

Pendekatan tersebut membuat Leapmotor bisa lebih fleksibel dalam mengatur biaya produksi sekaligus mempercepat pengembangan produk baru. Di tengah kompetisi mobil listrik China yang sangat agresif, efisiensi menjadi kunci utama. Strategi itu pula yang kemudian menjadi pondasi utama mereka untuk berkembang cepat di tengah kompetisi industri EV China yang sangat agresif.

Kantor pusat Leapmotor di Hangzhou, China. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Paparan internal perusahaan mengemukakan, sekitar 65 persen biaya kendaraan berasal dari teknologi yang mereka kembangkan sendiri. Cakupannya bukan sekadar motor listrik atau baterai, tetapi hampir seluruh domain utama kendaraan.

Mulai dari platform kendaraan, sistem elektronik dan kelistrikan (E/E architecture), sistem penggerak listrik, smart cockpit, hingga Advanced Driver Assistance System (ADAS) dikembangkan secara internal.

Leapmotor mengembangkan arsitektur kendaraannya sendiri. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Leapmotor bahkan mengembangkan sendiri arsitektur kendaraan listrik modular dengan tingkat platform interchangeability mencapai 88 persen. Artinya, satu basis platform dapat digunakan untuk berbagai model berbeda, mulai dari sedan, SUV, hingga MPV.

Strategi modular itu membuat pengembangan produk menjadi lebih cepat dan efisien, sekaligus membantu menekan biaya produksi.

Leapmotor mengembangkan arsitektur kendaraannya sendiri. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Leapmotor juga mengembangkan sistem penggerak dengan pendekatan BEV dan REEV sekaligus. Jadi selain mobil listrik murni berbasis baterai, mereka juga mengembangkan Range Extended Electric Vehicle, teknologi yang mulai populer di China karena dianggap mampu mengurangi kecemasan jarak tempuh.

Oke balik lagi ke timeline pengembangan pabrikan tersebut. Perjalanan mereka sebenarnya dimulai cukup sederhana. Pada 2019, Leapmotor baru meluncurkan model pertamanya, S01.

instagram embed

Setahun kemudian hadir T03, city car listrik mungil yang menjadi salah satu model penting dalam pertumbuhan awal perusahaan. Setelah itu, ekspansi produk mereka berjalan cepat. C11 meluncur pada 2021, disusul C01 pada 2022, kemudian C10 dan C16 pada 2024.

Sementara pada 2025, Leapmotor mulai memasuki fase produk global baru lewat peluncuran B10 dan beberapa model lainnya.

Leapmotor Lafa 5. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Pertumbuhan bisnisnya juga terbilang agresif. Data perusahaan menunjukkan penjualan Leapmotor meningkat tajam dalam lima tahun terakhir. Pada 2019 mereka baru mengirim sekitar 1.139 unit kendaraan. Angka itu naik menjadi 8.050 unit pada 2020, kemudian melonjak ke 43.748 unit pada 2021.

Momentum pertumbuhan terbesar mulai terlihat setelah 2022 ketika penjualan menembus 111 ribu unit, lalu meningkat menjadi 144 ribu unit pada 2023. Pada 2024, penjualannya hampir dua kali lipat menjadi 293 ribu unit, sementara proyeksi 2025 disebut mencapai sekitar 596 ribu unit secara global.

Secara kumulatif, Leapmotor mengeklaim sudah mengirim lebih dari 1,2 juta unit kendaraan sejak 2019 hingga 2025.

Kemitraan Leapmotor dan Stellantis yang terjalin sejak 2023. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Di tengah pertumbuhan tersebut, Leapmotor memasuki fase penting pada 2023. Saat itu grup otomotif raksasa Stellantis resmi menjalin kerja sama strategis dengan mereka. Stellantis sendiri merupakan induk dari berbagai merek besar dunia seperti Peugeot, Citroen, Jeep, Fiat, Alfa Romeo, hingga Maserati.

Kolaborasi ini membuat Leapmotor memperoleh akses distribusi global yang jauh lebih luas, sementara Stellantis mendapat keuntungan dari pengembangan teknologi EV dan efisiensi kendaraan listrik asal China. Bisa dibilang, kerja sama tersebut mempercepat langkah global Leapmotor.

Leapmotor B10. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Kini, langkah ekspansi global Leapmotor akhirnya sampai ke Indonesia. Indomobil Group melalui PT Indomobil National Distributor resmi memastikan Leapmotor akan hadir di Indonesia pada pertengahan 2026.

Brand tersebut nantinya akan diperkenalkan dalam pameran GIIAS 2026 dan berada di bawah jaringan Stellantis Brand House yang juga menaungi Citroen dan Jeep di Indonesia.

Leapmotor B10. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Menariknya, Leapmotor yang masuk Indonesia tidak hanya hadir sebagai produk impor utuh. Seluruh model yang dipasarkan nantinya direncanakan berstatus CKD atau dirakit lokal di Purwakarta.

Strategi tersebut penting karena berkaitan dengan efisiensi harga sekaligus peluang mendapatkan berbagai insentif kendaraan listrik di Indonesia. Untuk tahap awal, Leapmotor B10 diproyeksikan menjadi model pembuka eksistensi mereka di Tanah Air.

instagram embed