Menperin: Indonesia Bukan Lagi Pasar, Harus Jadi Basis Produksi Otomotif

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proses perakitan mobil Toyota Yaris Cross di Karawang Plant. Foto: dok. TMMIN
zoom-in-whitePerbesar
Proses perakitan mobil Toyota Yaris Cross di Karawang Plant. Foto: dok. TMMIN

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan Indonesia tengah bertransformasi dari sekadar pasar otomotif, menjadi basis produksi kendaraan. Karena itu, ia meminta seluruh pelaku industri memanfaatkan besarnya potensi pasar domestik dengan meningkatkan kapasitas produksi di dalam negeri, bukan mengisinya melalui produk impor.

Menurut Agus, kinerja industri otomotif nasional pada semester I 2026 menunjukkan tren positif. Produksi kendaraan bermotor mencapai 619 ribu unit atau tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, penjualan secara wholesales meningkat 15,9 persen menjadi 436 ribu unit.

"Dengan angka-angka tersebut, kami meyakini target penjualan otomotif tahun ini seharusnya bisa di atas 850 ribu unit," ujar Agus saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (30/7).

Ilustrasi aktivitas di pabrik baru Karawang Assembly Plant 2 (KAP 2) milik Astra Daihatsu Motor (ADM) yang berlokasi di Kawasan Industri Surya Cipta, di Karawang Timur, Jawa Barat. Foto: Astra Daihatsu Motor

Namun, menurutnya capaian tersebut bukanlah batas atas pertumbuhan pasar otomotif Indonesia. Agus menilai peluang industri masih sangat besar mengingat tingkat kepemilikan mobil di Indonesia masih jauh di bawah negara-negara tetangga.

Ia menyebut rasio kepemilikan mobil di Indonesia saat ini baru mencapai 19 unit per 1.000 penduduk. Sebagai perbandingan, Thailand telah mencapai 275 unit per 1.000 penduduk, sementara Malaysia mencapai 490 unit per 1.000 penduduk.

"Dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 290 juta jiwa, kenaikan satu poin saja pada rasio tersebut setara dengan tambahan sekitar 280 ribu unit kendaraan. Oleh sebab itu, target 850 ribu unit seharusnya bukan menjadi batas atas, melainkan titik awal karena pasar otomotif Indonesia masih jauh dari titik jenuh," katanya.

Proses perakitan mobil di pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI). Foto: Hyundai

Melihat besarnya ruang pertumbuhan tersebut, Agus menegaskan pemerintah tidak ingin peningkatan permintaan kendaraan dipenuhi oleh produk impor.

"Ruang tumbuh yang sebesar itu tidak boleh diisi oleh barang-barang impor. Harus diisi oleh barang-barang yang diproduksi di dalam negeri dari setiap tingkatannya," tegasnya.

Agus juga menilai arah perkembangan industri otomotif nasional mulai menunjukkan perubahan yang positif. Hal itu tercermin dari meningkatnya ekspor kendaraan maupun komponen, di saat impor kendaraan justru mengalami penurunan.

Ia memaparkan ekspor kendaraan utuh atau completely built up (CBU) tumbuh 7,7 persen, ekspor completely knocked down (CKD) meningkat 38 persen, sedangkan ekspor komponen melonjak 46 persen.

"Empat variabel tersebut membentuk satu pola yang sama, yaitu semakin dalam posisi kita di dalam rantai nilai, semakin cepat kita akan tumbuh. Indonesia tidak lagi sekadar mengekspor kendaraan, tetapi mulai mengekspor kemampuan untuk membuat kendaraan," ujarnya.

Seremoni ekspor kendaraan mobil dan motor Suzuki di pabrik Tambun, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (18/11/2025). Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Menurut Agus, kondisi tersebut menunjukkan bahwa strategi memperkuat industri manufaktur otomotif nasional telah berada di jalur yang tepat dan perlu terus dijaga.

"Jadikan Indonesia sebagai basis produksi dan basis ekspor bagi kawasan. Jangan hanya menjadi pasar," pungkasnya.