Pemerintah Dorong Baterai EV Berbasis Nikel, Gotion Siap Penuhi

Upaya meningkatkan nilai industri otomotif dalam negeri dan memanfaatkan momentum transisi kendaraan listrik, pemerintah mendorong lebih banyak penyerapan penggunaan baterai berbasis nikel atau Nickel Mangan Cobalt (NMC).
Pasar domestik saat ini tengah kebanjiran mobil listrik murni asal China dengan harga terjangkau. Namun kebanyakan mengusung jenis baterai LFP (Lithium Ferophosphate) yang tidak memiliki kandungan nikel di dalamnya.
Di dalam negeri, sejumlah produsen komponen baterai sudah menanamkan investasi dan menjalankan aktivitas bisnisnya di Indonesia. Salah satunya adalah Gotion Indonesia yang telah memiliki fasilitas di Cikarang dan Bogor.
Kepada kumparan, Marketing Director Gotion Indonesia, Stephen Tong mengaku siap memenuhi permintaan pemerintah terkait pemanfaatan bahan baku nikel. Meski kini pihaknya baru memproduksi baterai LFP di dalam negeri.
"Kami sejujurnya terbuka untuk itu, entah itu berbasis nikel atau LFP. Di China hampir semua baterai (kendaraan listrik) adalah LPF sekitar 80 persen dan NCM hanya sekitar 20 persen. Jadi sebenarnya kita tidak bisa memaksakan permintaan pasar," katanya ditemui di Kemayoran, Jakarta (26/8/2026).
Stephen menambahkan, skala produksi Gotion secara global saat ini memang didominasi baterai kendaraan listrik berjenis LFP, sementara baterai jenis NMC hanya sekitar 5-10 persen dari total keseluruhan produksinya.
"Selain kendaraan penumpang, kami juga menargetkan untuk suplai ke kendaraan komersial seperti truk. Kami sudah punya dua pabrik di Cikarang dan Bogor, total kapasitas produksinya sekitar 5 GWh," paparnya.
Menyoal baterai untuk motor listrik, Stephen menyebut Gotion telah memiliki portofolio untuk menyuplai komponen penyimpanan daya tersebut. Perusahaan terbuka bilang diminta untuk memasok baterai jenis NMC untuk program motor listrik nasional.
"Kami pernah berkunjung ke Honda untuk sepeda motor, tetapi rencana mereka baru lima tahun kemudian, jadi itu masih terlalu jauh. Kami baru semata melakukan diskusi dengan Honda, tetapi untuk motor listrik kami sudah pernah dengan manufaktur lokal seperti Volta. Kalau tidak salah sudah lebih kurang 20 ribu baterai," tandasnya.
Pemerintah dorong produksi baterai berbasis nikel
Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur Energi dan Telekomunikasi, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur Republik Indonesia, Ridha Yasser menyampaikan ambisi pemerintah agar penggunaan bahan baku nikel dapat diserap lebih banyak.
"Memiliki sumber daya alam memang memberikan Indonesia tiket masuk ke dalam industri baterai global, tetapi itu tidak serta merta menjamin kita mendapatkan baris terdepan. Hal yang akan menentukan posisi Indonesia adalah sejauh mana kita mampu menciptakan nilai tambah bagi sumber daya tersebut di dalam negeri," ucap Ridha di acara International Battery Summit (IBS) 2026 Kemayoran, Jakarta (26/8/2026).
Dikatakannya ada lima tahap proses olah bahan baku nikel untuk menjadi salah satu material penting dalam baterai kendaraan listrik. Negara membidik tidak hanya mengekspor bahan baku ke luar negeri, tetapi juga produk jadinya.
"Dahulu kita mengekspor bijih mentah, saat bijih tersebut meninggalkan pelabuhan kita, sebagian besar nilai tambah, teknologi, dan peluang kerja turut terbawa pergi bersama kapal-kapal pengangkutnya. Kini, kita berupaya mengubah paradigma tersebut," paparnya.
"Kita ingin beralih dari ekspor bijih mentah ke produk olahan, kemudian ke bahan prekursor dan material utama, sel baterai, hingga akhirnya menjadi paket baterai itu sendiri. Semakin panjang rantai nilainya, semakin banyak yang dapat kita bangun di Indonesia, dan semakin besar pula nilai yang memberikan manfaat bagi Indonesia," pungkas Ridha.
