Serbuan Mobil China di Pasar ASEAN, Angka Ekspor Cetak Rekor

Geliat aktivitas ekspor mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) utuh asal China masih menunjukkan tren peningkatan di pasar global. Salah satunya di kawasan ASEAN yang catatkan pertumbuhan signifikan pada bulan lalu.
Data dari lembaga pemikir energi global, Ember menilai pengapalan BEV China secara global sukses menembus angka 9,2 miliar dolar AS atau setara Rp 165,1 triliun selama Mei 2026. Melonjak 49 persen dibanding periode serupa tahun lalu, dikutip dari laman resminya.
Menariknya, kawasan Asia Tenggara kini menjelma sebagai salah satu pasar tujuan paling dinamis yang mendorong peningkatan tersebut. Nilai ekspor BEV tembus rekor baru sebesar 1,2 miliar dolar AS atau berkisar Rp 21,5 triliun dalam kurun waktu satu bulan saja.
Akselerasi elektrifikasi armada kendaraan di Asia Tenggara ini dipimpin kuat oleh Thailand yang menyerap lebih dari 36 ribu unit asal China. Filipina di posisi ke-2 juga mencatatkan lonjakan pengiriman yang signifikan dengan volume melampaui 33 ribu unit.
Selain dua pasar utama tersebut, negara dengan skala pasar lebih kecil seperti Kamboja dan Laos juga mulai memperlihatkan pertumbuhan volume yang pesat. Tren ini didorong oleh berbagai stimulus insentif pajak dari pemerintah setempat, perluasan jaringan pengisian daya, hingga kemitraan perakitan lokal.
Analis Energi Asia dari Ember, Lam Pham memaparkan bahwa disrupsi pasar bahan bakar global akibat konflik Timur Tengah turut andil dalam mempercepat transisi ini. Lonjakan harga BBM dinilai membuat masyarakat di kawasan ASEAN kian realistis untuk berpindah ke moda transportasi bertenaga baterai.
Kondisi krisis energi tersebut pada akhirnya memperkuat posisi elektrifikasi sebagai jalur utama menuju ketahanan energi yang lebih stabil. Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan negara importir terhadap bahan bakar fosil, tetapi juga memangkas biaya transportasi konsumen dalam jangka panjang.
Secara kumulatif, komoditas ekspor EV ini kini posisinya kian mendekati baterai lithium-ion sebagai kategori teknologi elektrifikasi terbesar milik China. Secara total global, sebanyak 448 ribu unit BEV telah dikirim ke luar negeri, yang terdiri dari 279 ribu unit BEV dan 169 ribu unit jenis plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).
Data mobil listrik impor asal China di Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi pasar strategis bagi pelaku industri otomotif asal China. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, total BEV impor dari China periode Mei kemarin saja mencapai 1.692 unit.
Angkanya jauh lebih besar dibanding periodea Januari-Mei yang sudah tembus angka 24.238 unit untuk semua model, terlepas dari merek China atau bukan. Namun belakangan, angkanya melandai seiring dengan aturan tairf bea impor BEV CBU (Completely Built Up).
Data Impor BEV Asal China Mei 2026 (1.697 unit)
BYD Sealion 7: 258 unit
Denza D9: 210 unit
BYD M6: 197 unit
GAC AION V: 187 unit
BYD Atto 3: 174 unit
BYD E6: 129 unit
GAC AION UT: 105 unit
BYD Dolphin: 101 unit
BAIC BJ-30: 33 unit
BYD Atto 1: 26 unit
Changan Deepal S07: 24 unit
Maxus MIFA9: 15 unit
MINI: 13 unit
BYD Seal: 10 unit
BAIC X-55: 6 unit
MG Cyberster: 4 unit.
Data Impor Kumulatif BEV Asal China Januari - Mei 2026 (24.238 unit)
BYD Atto 1: 7.867 unit
BYD M6: 5.017 unit
BYD Sealion 7: 4.067 unit
Denza D9: 2.359 unit
GAC AION V: 1.420 unit
GAC AION UT: 1.191 unit
BYD Atto 3: 547 unit
MINI: 306 unit
BYD Seal: 201 unit
BYD Dolphin: 165 unit
BYD E6: 129 unit
Changan Lumin: 119 unit
Changan Deepal S07: 112 unit
Maxus MIFA9: 109 unit
BAIC BJ-30: 78 unit
GAC AION Hyptec HT: 77 unit
BAIC X-55: 39 unit
Maxus MIFA7: 5 unit
MG Cyberster: 4 unit
MG 4 EV: 1 unit.
