TEP UI Bidik Akar Kuning Menjadi Peluang Ekonomi Melalui Penelitian
Tulisan dari oza fansu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kampung Werianggi - Werabur, Papua Barat — Kekayaan alam Papua Barat tidak hanya terlihat dari luasnya hutan dan sumber hayati yang dimiliki, tetapi juga dari berbagai tumbuhan lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Salah satu potensi tersebut adalah akar kuning atau Tali Kuning, tumbuhan hutan dimanfaatkan oleh masyarakat di kawasan Werianggi-Werabur, Distrik Nikiwar, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat.
Hasil hutan akar kuning menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) 2026 di kawasan Werianggi–Werabur. Melalui pendekatan bioprospeksi, tim berupaya menggali lebih jauh potensi sumber daya hayati lokal agar pemanfaatannya tidak berhenti pada penggunaan tradisional, tetapi dapat dikembangkan berdasarkan penelitian dan menghasilkan produk dengan nilai tambah ekonomi.
Kehadiran Tim Ekspedisi Patriot UI sendiri membawa misi hilirisasi produk berbasis sumber daya hayati lokal. Bekerjasama dengan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia program tersebut diarahkan untuk mengeksplorasi bahan alam Werianggi–Werabur melalui tahapan pengumpulan bahan baku, riset laboratorium, standardisasi, pengembangan produk turunan, hingga penjajakan kemitraan industri.
Akar kuning menjadi salah satu contoh bagaimana pengetahuan masyarakat terhadap sumber daya alam dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian ilmiah.
Ketua TEP UI Tri Wahyuni, Ph.D., Mengatakan, “Akar Kuning salah satu potensi unggulan hasil hutan yang banyak dimanfaatkan untuk penyakit dalam, kedepanya pasti akan sangat baik untuk dijadikan produk Herbal ” ungkapnya Pada Jumat (18 September 2026).
Bagi masyarakat, tumbuhan hasil hutan bukan sekadar bagian dari keanekaragaman alam. Sebagian tumbuhan telah dikenal dan dimanfaatkan berdasarkan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pemanfaatan tradisional tersebut dapat menjadi informasi awal bagi peneliti untuk memahami bagaimana suatu tumbuhan digunakan, bagian tanaman mana yang dimanfaatkan, bagaimana proses pengolahannya, serta kebutuhan masyarakat terhadap tanaman tersebut.
Kehadiran Tim Ekspedisi Patriot UI 2026 di Werianggi–Werabur membawa pendekatan yang menghubungkan potensi alam, pengetahuan masyarakat, riset, teknologi, dan peluang industri.
Melalui pendekatan science to industry, yaitu mempertemukan masyarakat lokal, akademisi, dan mitra industri. Tahapannya meliputi eksplorasi dan koleksi bahan baku, penelitian laboratorium dan standardisasi, pengembangan produk turunan, penjajakan kemitraan, edukasi masyarakat, hingga pengkajian prospek pemasaran dan rantai pasok.
Dengan demikian, proses hilirisasi tidak sekadar mengambil tumbuhan dari alam lalu mengubahnya menjadi produk. Ada proses ilmiah yang harus dilalui untuk memastikan bahan yang digunakan benar, aman, memiliki kualitas yang konsisten, dan sesuai dengan tujuan pemanfaatannya.
Dari hutan Werianggi, Akar kuning dikenali Dari pengetahuan masyarakat, potensi digali. Dari laboratorium, data ilmiah diperoleh. Serta dari hasil riset tersebut, terbuka kemungkinan lahirnya produk kesehatan, kosmetik, maupun produk bernilai ekonomi lainnya.
Perjalanan dari tanaman hutan menjadi produk unggulan tentu membutuhkan proses yang cukup kompleks. Banyak potensi hayati atau hasil hutan menjadi obat, kosmetik, atau produk kesehatan. Diperlukan bukti ilmiah, pengujian keamanan pangan, standardisasi, formulasi, serta pemenuhan regulasi agar suatu produk dapat dikembangkan dan dipasarkan secara luas dan dapat menembus pasar global.

