Konten dari Pengguna

TEP UI Dorong Pala Berbasis Riset di Papua Barat

Riset Laboratorium Farmasi UI Komoditas Pala Weriangi-Werabur Papua barat 2026 oleh Muhammad Reza
zoom-in-whitePerbesar
Riset Laboratorium Farmasi UI Komoditas Pala Weriangi-Werabur Papua barat 2026 oleh Muhammad Reza

Papua Barat — Kampung Werianggi – Werabur, Distrik Teluk Wondama di Papua Barat memiliki kekayaan alam yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah pala, komoditas yang tumbuh melimpah dan telah lama dimanfaatkan masyarakat setempat.

Tidak hanya digunakan sebagai bahan rempah, pala di Kampung Werianggi juga telah diolah menjadi berbagai produk olahan sehari-hari seperti manisan pala, permen pala, sari pala, hingga kue bolu.

Kehadiran Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia 2026 membuka peluang untuk melihat komoditas pala dari perspektif yang lebih luas. Pala tidak hanya dipandang sebagai hasil kebun atau bahan olahan konsumsi, tetapi juga sebagai sumber daya hayati yang dapat dikaji untuk mengetahui potensi kandungan dan pemanfaatannya.

Potensi tersebut menjadi salah satu perhatian Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) 2026 yang hadir di Papua Barat untuk mendorong pengembangan potensi lokal melalui pendekatan bioprospeksi. Pendekatan ini diarahkan tidak hanya pada pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga pada proses pengembangan yang didukung oleh riset, pengujian ilmiah, standardisasi, serta peluang hilirisasi menjadi produk bernilai tambah.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong uji laboratorium melalui Laboratorium Farmasi Universitas Indonesia. Pengujian tersebut dapat dimulai melalui proses determinasi tumbuhan dan skrining fitokimia.

Ketua TEP UI Tri Wahyuni, Ph.D, mengatakan, “Penelitian dan riset laboratorium menjadi salah satu fondasi karena dapat memberikan informasi ilmiah mengenai bahan yang akan dikembangkan khususnya Komoditas Pala Papua barat” ungkapnya pada Selasa (09 September 2026).

Ketua TEP UI 2026 Bersama Petani Pala Lokal Papua barat oleh Muhammad Reza

Dengan mengetahui jenis tanaman secara jelas, penelitian berikutnya dapat dilakukan berdasarkan objek yang teridentifikasi dan terdokumentasi.

Adanya Determinasi tumbuhan dilakukan untuk memastikan identitas tanaman yang menjadi objek riset. Hal ini penting karena identifikasi tanaman secara tepat merupakan tahap awal dalam penelitian bahan alam.

Sementara itu, skrining fitokimia dilakukan untuk melihat keberadaan kelompok senyawa metabolit senyawa tertentu yang terdapat pada bahan tanaman. Hasil skrining tersebut dapat menjadi informasi awal mengenai kandungan kimia yang terdapat pada pala dan menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut.

Jika selama ini pala sebagian besar dijual atau diolah menjadi produk pangan sederhana, maka melalui pendekatan riset terdapat peluang untuk mengembangkan produk dengan spesifikasi dan standar yang lebih baik.

komoditas Pala Werianggi - Werabur Papua barat oleh Muhammad Reza

Hasil uji laboratorium nantinya dapat menjadi data awal untuk menentukan arah pengembangan produk. Apabila penelitian lanjutan menunjukkan potensi yang sesuai, komoditas pala dapat diarahkan untuk pengembangan berbagai jenis produk, antara lain pada sektor pangan, kesehatan, kecantikan, dan obat-obatan.

Untuk sektor pangan, pengembangan dapat dilakukan melalui diversifikasi produk olahan pala. Produk seperti manisan, permen, sari pala, dan kue bolu dapat terus dikembangkan dengan memperhatikan kualitas bahan, formulasi, daya simpan, keamanan pangan, dan kemasan.

Karena itu, hasil uji laboratorium bukanlah akhir dari proses, melainkan titik awal menuju riset dan pengembangan produk yang lebih terarah.

Dengan demikian, proses pengembangan tidak hanya berdasarkan asumsi bahwa pala memiliki manfaat tertentu, tetapi mulai diarahkan pada data dan bukti ilmiah melalui riset.