Ketika Gaya Hidup Lebih Diutamakan daripada Kehidupan Perkuliahan

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ozi Sara Sitanggang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah perkembangan zaman yang semakin dipengaruhi oleh media sosial, kehidupan mahasiswa tidak lagi hanya berkisar pada ruang kelas, tugas, dan proses belajar. Kampus yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu justru sering bergeser menjadi panggung gaya hidup. Nongkrong di kafe estetik, mengikuti tren fesyen, hingga menjaga citra di media sosial kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius: ketika gaya hidup lebih diutamakan daripada perkuliahan, apakah tujuan utama pendidikan masih dapat tercapai?
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit mahasiswa yang lebih fokus pada penampilan dan pengakuan sosial dibandingkan prestasi akademik. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar atau mengerjakan tugas sering kali habis untuk aktivitas yang bersifat konsumtif. Bahkan, sebagian mahasiswa rela mengorbankan kebutuhan akademik demi mengikuti tren, seperti membeli barang bermerek atau menghabiskan waktu di tempat hiburan. Dalam jangka pendek, hal ini mungkin terlihat sepele, tetapi dalam jangka panjang dapat berdampak pada kualitas pendidikan dan masa depan mereka.
Pengaruh media sosial menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan ini. Platform digital menghadirkan standar kehidupan yang sering kali tidak realistis. Mahasiswa terpapar pada konten yang menampilkan kehidupan “ideal”, sehingga muncul dorongan untuk meniru tanpa mempertimbangkan kondisi pribadi. Akibatnya, muncul fenomena di mana mahasiswa lebih sibuk membangun citra daripada membangun kompetensi. Riset menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengurangi fokus belajar dan menurunkan prestasi akademik, terutama jika tidak dikelola dengan baik.
Selain itu, tekanan dari lingkungan juga memperkuat kecenderungan tersebut. Lingkar pertemanan yang mengedepankan gaya hidup tertentu dapat membuat seseorang merasa perlu menyesuaikan diri agar tidak dianggap tertinggal. Dalam situasi ini, mahasiswa sering kali mengabaikan prioritas utama mereka sebagai pelajar. Kehidupan kampus yang seharusnya menjadi fase pembentukan intelektual dan karakter justru berubah menjadi ajang pembuktian gaya hidup.
Dampak dari fenomena ini tidak hanya terlihat pada penurunan prestasi akademik, tetapi juga pada pola pikir mahasiswa itu sendiri. Ketika gaya hidup menjadi prioritas, nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras perlahan memudar. Mahasiswa cenderung mencari kepuasan instan daripada berproses dalam jangka panjang. Padahal, dunia kerja dan kehidupan nyata menuntut kesiapan yang tidak bisa dibangun secara instan.
Contoh nyata dapat dilihat pada mahasiswa yang lebih sering hadir di kafe daripada di perpustakaan, atau yang lebih aktif di media sosial daripada dalam kegiatan akademik. Tidak jarang pula ditemukan mahasiswa yang menunda tugas hingga batas waktu hanya karena lebih memilih aktivitas yang bersifat hiburan. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas yang perlu menjadi perhatian bersama.
Penting untuk dipahami bahwa memiliki gaya hidup bukanlah hal yang salah. Setiap individu berhak menikmati hidupnya. Namun, masalah muncul ketika gaya hidup tersebut mengganggu tanggung jawab utama. Dalam konteks mahasiswa, perkuliahan tetap harus menjadi prioritas. Gaya hidup seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti tujuan utama.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dari mahasiswa untuk kembali menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Pengelolaan waktu yang baik menjadi kunci agar antara kebutuhan akademik dan kehidupan sosial dapat berjalan seimbang. Selain itu, penting juga untuk membangun pola pikir yang lebih kritis terhadap pengaruh media sosial, sehingga tidak mudah terjebak dalam standar yang tidak realistis.
Lingkungan kampus dan keluarga juga memiliki peran penting dalam mengarahkan mahasiswa. Dukungan dalam bentuk motivasi, pengawasan, dan teladan dapat membantu mahasiswa tetap fokus pada tujuan pendidikan. Budaya akademik yang kuat perlu dibangun agar mahasiswa lebih menghargai proses belajar.
Pada akhirnya, fenomena ketika gaya hidup lebih diutamakan daripada kehidupan perkuliahan adalah cerminan dari perubahan sosial yang perlu disikapi dengan bijak. Jika dibiarkan, hal ini dapat melemahkan kualitas generasi muda sebagai aset bangsa. Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa kembali menyadari perannya sebagai pembelajar. Menikmati hidup boleh saja, tetapi tidak dengan mengorbankan masa depan. Karena pada akhirnya, bukan seberapa menarik gaya hidup yang ditampilkan, melainkan seberapa siap seseorang menghadapi kehidupan nyata yang akan menentukan keberhasilannya.
