Arsenal Juara Bertahan, tapi Musim Baru Dimulai dari Nol
Tulisan dari Muhammad Ilham Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada hal yang berubah saat Arsenal memasuki musim 2026/27. Bukan pemain utamanya, bukan pelatihnya, bukan pula filosofinya. Yang berubah adalah cara mereka berjalan masuk ke setiap pertandingan.
Pada 19 Mei 2026, Arsenal mengakhiri penantian panjang 22 tahun untuk kembali meraih takhta tertinggi Premier League, mengunci gelar dengan 82 poin, unggul empat angka dari Manchester City. Setelah tiga musim finis di posisi kedua dan dicap sebagai tim yang tidak bisa menutup musim, mereka akhirnya membuktikan sebaliknya.
Musim baru pun dimulai persis seperti musim lama berakhir: Arsenal memimpin klasemen Premier League 2026/27 dengan 12 poin dari empat kemenangan beruntun, termasuk kemenangan 2-0 atas Sunderland lewat gol Bruno Guimaraes dan penalti Bukayo Saka, unggul selisih gol dari Manchester City yang menempel ketat di posisi kedua.
22 Tahun, Lalu Semuanya Berubah.
Untuk memahami betapa besar artinya musim 2025/26 bagi Arsenal, perlu diingat bahwa sebelum gelar itu datang, klub ini sudah tiga kali berturut-turut finis di posisi kedua. Setiap musim membawa harapan yang sama, setiap musim berakhir dengan kekalahan di ujung.
Di bawah arahan Arteta, Arsenal musim lalu mencatatkan 27 kemenangan dan tujuh hasil imbang dari 38 pertandingan liga, mencetak 91 gol, dan hanya sekali turun dari puncak klasemen sejak pertama kali memimpin pada Oktober 2025. Itu bukan hasil keberuntungan. Itu hasil dari sistem yang akhirnya berjalan sebagaimana seharusnya.
Arteta juga menjadi manajer pertama yang pernah membela Arsenal sebagai pemain dan kemudian menjuarainya sebagai pelatih. Sebuah lingkaran yang tertutup dengan indah.
Mempertahankan Lebih Sulit dari Meraih.
Prediksi banyak analis musim ini: Arsenal akan berlari meraih gelar Premier League kedua berturut-turut, tapi kembali gagal di Eropa. Narasi itu tidak lahir dari keraguan atas kualitas Arteta, melainkan dari fakta bahwa Arsenal di bawah Arteta selalu memperlihatkan jurang antara performa domestik yang konsisten dan performa Eropa yang tidak bisa diandalkan di momen kritis.
Musim ini, pertanyaan itu makin relevan. Arsenal memulai kampanye Liga Champions dengan kemenangan atas Atletico Madrid, sinyal awal yang positif. Tapi sejarah menunjukkan bahwa Arsenal bisa melakoni babak awal UCL dengan baik sebelum akhirnya tersandung di fase gugur.
Yang berbeda musim ini adalah kedalaman skuad. Bruno Guimaraes yang datang dari Newcastle langsung menjadi andalan di lini tengah, memberikan stabilitas yang selama ini kadang hilang ketika Thomas Partey atau pemain kunci lain cedera. Ronald Araujo yang dipinjam dari Barcelona menjadi solusi tak terduga di bek kanan. Dan Christos Tzolis dari Club Brugge mengisi celah di sayap kiri setelah kepergian Trossard dan Martinelli.
Max Dowman dan Generasi yang Tidak Berhenti Datang.
Di balik semua pembelian besar itu, ada cerita yang jauh lebih organik. Max Dowman, 16 tahun, mencetak brace malam ini untuk Arsenal di Carabao Cup melawan Ipswich, menyamai rekor Wayne Rooney sebagai pemain usia 16 yang mencetak dua gol dalam satu pertandingan untuk klub Premier League.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda bahwa Arsenal tidak hanya membangun dari luar, tapi juga dari dalam. Sistem akademi yang menghasilkan Nwaneri, lalu Porter, lalu Dowman, adalah jaminan jangka panjang yang tidak bisa dibeli di jendela transfer manapun.
Arteta tidak membutuhkan pemain muda itu untuk bersaing di puncak Premier League musim ini. Tapi kemunculan mereka secara konsisten setiap musim adalah sinyal tentang kesehatan klub yang jauh melampaui klasemen pekan ini.
Arsenal memulai musim 2026/27 sebagai juara yang tahu cara menjadi juara, sebuah perbedaan tipis tapi krusial dari musim-musim sebelumnya ketika mereka masuk sebagai kandidat yang tidak tahu cara menutup musim. Analis boleh memprediksi mereka kembali gagal di Eropa. Tapi dengan 12 poin sempurna di empat laga pertama, seorang bocah 16 tahun yang baru saja menyamai rekor Rooney, dan pelatih yang akhirnya tahu rasanya mengangkat trofi, Arsenal memulai musim ini bukan dengan pertanyaan, melainkan dengan jawaban.

