Howard Webb dan Wasit Premier League: Dua Klub Besar Marah Bersamaan
Tulisan dari Muhammad Ilham Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Manchester United menuntut penjelasan atas gol kontroversial Haaland yang disahkan VAR di Derby Manchester, sebuah gol yang kemudian diakui Pro Ref seharusnya dianulir. Dua wasit VAR yang terlibat langsung diparkir dari penugasan.
Arsenal, di sisi lain, memiliki keluhannya sendiri. Mikel Arteta sempat murka soal keputusan memberikan penalti kepada Sunderland dalam pertandingan yang Arsenal akhirnya menangkan. Arteta menyebut keputusan tersebut sangat tidak bisa diterima di level Premier League.
Derby Manchester dan Gol yang Tidak Seharusnya Ada
Kronologi kontroversi VAR di Old Trafford sudah dibahas luas. Enzo Fernandez berada dalam posisi offside yang berpotensi memengaruhi pertahanan United, sebuah faktor yang seharusnya memicu on-field review tapi tidak dilakukan. Gol Haaland disahkan. City menang 1-0. United turun ke posisi ke-13.
Pro Ref kemudian mengakui kesalahan itu secara resmi, meminta maaf kepada United, dan memarkir Matthew Donohue serta Blake Antrobus dari penugasan wasit VAR hingga jeda internasional selesai.
Lisandro Martinez bereaksi keras, menyebut gol itu tidak dapat diterima. Wayne Rooney, dalam kapasitasnya sebagai analis, memilih menyerang lebih jauh dengan menyebut semua hal di Manchester United terasa tumpul saat ini, dari keputusan di lapangan hingga keputusan di luar lapangan. Rooney memang tidak hanya berbicara soal wasit, tapi sorotan kepada manajemen pertandingan tetap ada.
Arsenal dan Penalti yang Membuat Arteta Murka
Cerita Arsenal berbeda dalam konteks tapi serupa dalam nada. Dalam kemenangan atas Sunderland yang akhirnya Arsenal tutup dengan skor 2-1, wasit memberikan penalti kepada tuan rumah di momen yang Arteta nilai sebagai keputusan yang sangat tidak bisa diterima di level Premier League.
Arsenal memang menang, tapi cara mereka menang tidak membuat Arteta merasa tenang. Protes manajer Arsenal itu menambah tekanan kepada Webb, yang kini menghadapi kemarahan dari dua sisi klasemen: tim papan atas yang menang tapi merasa dirugikan, dan tim papan tengah yang kalah tapi merasa dirugikan lebih besar.
Situasi itu menciptakan narasi yang sulit untuk Webb: tidak ada keputusan wasit yang memuaskan semua pihak, tapi ketika kesalahan datang berturut-turut dalam satu pekan terhadap klub-klub besar, tekanan institusional meningkat secara eksponensial.
Webb, VAR, dan Pertanyaan yang Sudah Terlalu Lama Tanpa Jawaban
Howard Webb menjabat sebagai Kepala Perwakilan Wasit Premier League sejak 2022, dan dalam periode itu perdebatan tentang VAR tidak pernah benar-benar mereda. Setiap musim menghadirkan setidaknya satu insiden besar yang memperbarui pertanyaan tentang apakah sistem ini benar-benar bekerja atau hanya memindahkan sumber masalah.
Musim ini, insiden itu datang di pekan keempat, lebih awal dari biasanya. Dan tidak hanya melibatkan satu klub besar, melainkan dua sekaligus dalam rentang waktu satu pekan.
Reformasi VAR sudah dibicarakan berulang kali. Kemungkinan penghapusan VAR sepenuhnya sempat menjadi wacana serius beberapa musim lalu sebelum akhirnya ditolak. Kemungkinan memberikan lebih banyak transparansi dalam pengambilan keputusan VAR, termasuk komunikasi audio wasit yang disiarkan publik, sudah mulai diterapkan di beberapa liga lain tapi belum sepenuhnya di Premier League.
Yang jelas, permintaan maaf Pro Ref dan parkir dua wasit VAR adalah respons yang baik secara prosedural. Tapi selama tidak ada perubahan sistemik, respons yang sama akan terulang musim depan, dan musim berikutnya, dan seterusnya.
Howard Webb memimpin institusi yang sedang dalam tekanan dari dua arah paling kuat di Premier League: Arsenal yang juara bertahan, dan Manchester United yang sedang membangun kembali dengan investasi besar. Ketika keduanya memiliki alasan untuk tidak puas dengan keputusan wasit dalam satu pekan, bukan hanya Webb yang perlu menjawab pertanyaan. Premier League secara keseluruhan perlu memutuskan apakah sistem yang ada sudah cukup baik, atau apakah sudah waktunya perubahan yang lebih mendasar. Permintaan maaf bisa datang setiap Senin pagi, tapi kepercayaan publik terhadap integritas pertandingan tidak bisa dipulihkan hanya dengan surat permohonan.

