Inter Milan Dihajar Bodo/Glimt, Finalis Tahun Lalu Tersingkir dari UCL
Tulisan dari Muhammad Ilham Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setahun yang lalu, Inter Milan bermain di final Liga Champions. Musim ini, mereka tidak akan bermain di babak 16 besar.
Bodo/Glimt, tim dari kota paling utara yang pernah tampil di Liga Champions, menang 2-1 di San Siro dan memastikan Inter tersingkir dari kompetisi Eropa musim ini dengan agregat yang menyakitkan: 5-2. Inter yang musim lalu hanya selangkah dari trofi terbesar sepak bola Eropa, kini harus mengakui bahwa tim Norwegia itu terlalu baik untuk mereka dalam dua pertemuan.
Ini adalah kali pertama Inter Milan absen dari babak 16 besar Liga Champions sejak musim 2020/21, dan kekalahan paling mengejutkan dari sebuah mantan finalis di kompetisi ini dalam beberapa tahun terakhir.
Tiga Kekalahan Kandang yang Tidak Bisa Dijelaskan.
Yang membuat situasi Inter semakin sulit dipahami adalah pola yang terbentuk: tiga kekalahan kandang berturut-turut di Liga Champions. San Siro, yang seharusnya menjadi benteng yang mengintimidasi tim-tim Eropa, justru menjadi tempat di mana Inter paling rentan musim ini.
Pelatih Inter Cristian Chivu, yang menggantikan Simone Inzaghi setelah sang pelatih pergi ke PSG musim panas lalu, tidak menyembunyikan kenyataan di depan wartawan. Dalam pernyataan pascapertandingan yang dikutip luas, ia mengakui secara jujur bahwa timnya tidak pantas melaju lebih jauh dan bahwa ini adalah situasi yang tidak dapat diterima bagi klub sekelas Inter.
Kejujuran itu diapresiasi, tapi tidak mengubah fakta bahwa Inter kini harus fokus sepenuhnya ke Serie A sambil menyaksikan Liga Champions berlanjut tanpa mereka.
Bodo/Glimt dan Keajaiban yang Sudah Tidak Mengejutkan.
Bodo/Glimt bukan tim yang seharusnya mengejutkan siapapun di Liga Champions. Mereka sudah membuktikan kemampuan mereka untuk bersaing dengan tim-tim besar Eropa dalam beberapa musim terakhir, termasuk kemenangan bersejarah atas Roma di Conference League beberapa tahun lalu.
Tapi mengalahkan finalis Liga Champions dua kali dalam dua pertandingan, satu di kandang dan satu di San Siro, tetaplah pencapaian yang melampaui ekspektasi siapapun. Bodo/Glimt bermain dengan intensitas yang konsisten, transisi yang cepat, dan organisasi defensif yang membuat Inter kesulitan menciptakan peluang berkualitas di rumah sendiri.
Kemenangan ini tidak hanya memastikan mereka lolos ke babak 16 besar, tetapi juga menjadi momen yang akan dikenang dalam sejarah klub kecil yang bermarkas di kota dengan populasi hanya 55.000 orang di lingkaran Arktik.
Musim Tanpa Inzaghi, Musim Tanpa Arah.
Ada konteks penting yang tidak bisa diabaikan: Inter memulai musim ini tanpa Simone Inzaghi, arsitek yang membawa mereka ke final Liga Champions musim lalu dan membangun kerangka permainan yang membuat Nerazzurri menjadi salah satu tim paling ditakuti di Eropa.
Chivu adalah nama yang dihormati di Inter, mantan bek andal yang menghabiskan tahun-tahun terbaiknya di sana. Tapi menjadi pelatih tim utama sebuah klub sekelas Inter, langsung di musim setelah mereka finalis Liga Champions, adalah lompatan yang sangat besar, dan hasilnya di UCL menunjukkan betapa besarnya tantangan itu.
Inter kini memiliki satu misi yang tersisa: mempertahankan dominasi di Serie A dan membuktikan bahwa tersingkirnya mereka dari UCL adalah anomali, bukan pertanda sesuatu yang lebih dalam.
Sepak bola Eropa tidak memberi diskon kepada siapapun, tidak peduli apa yang terjadi musim lalu. Inter Milan adalah finalis Liga Champions 2024/25. Musim ini, mereka tidak akan bermain di babak 16 besar karena kalah dari tim yang bermarkas di kota yang matahari tidak terbenam selama berbulan-bulan di musim panas. Kejatuhan seperti ini bukan hanya tentang satu atau dua pertandingan yang buruk. Ini tentang apa yang terjadi ketika sebuah tim kehilangan fondasi yang membuatnya hebat, dan belum menemukan fondasi baru yang cukup kuat untuk menggantinya.

