Ketika Como 1907 Datang ke Liga Champions dan Tidak Membaca Naskahnya
Tulisan dari Muhammad Ilham Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pertandingan yang hasilnya mengejutkan. Dan ada pertandingan yang hasilnya mengejutkan sekaligus mengingatkan kita mengapa sepak bola selalu punya cara untuk membuat semua prediksi terasa tidak ada gunanya. Como 1907 melawan RB Leipzig di matchday pertama Liga Champions masuk kategori kedua.
Bukan hasil imbang. Bukan kekalahan tipis yang bisa dimaklumi. Como menang 4-1 atas Leipzig, dalam penampilan pertama mereka di Liga Champions sepanjang sejarah klub. Tim dari Danau Como yang baru beberapa musim terakhir kembali berbenah dan membangun skuad kompetitif, langsung menyampaikan kepada Eropa bahwa kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap daftar peserta.
Tiga Tahun Transformasi yang Berbuah Malam Bersejarah
Untuk memahami betapa signifikannya hasil ini, perlu sedikit konteks tentang perjalanan Como beberapa tahun terakhir. Sebelum kembali promosi ke Serie A, Como adalah tim yang bertahun-tahun berputar di divisi bawah Italia. Kepemilikan baru, investasi yang terukur, dan keputusan rekrutmen yang konsisten membawa mereka tidak hanya ke Serie A, tapi kini ke panggung Eropa.
Martin Baturina membuka skor untuk Como, lalu Anastasios Douvikas menggandakan keunggulan. Leipzig yang datang sebagai tim yang sudah punya pengalaman panjang di Liga Champions mencoba merespons, tapi pertahanan Como berdiri sangat solid. Douvikas mencetak gol keduanya untuk memperlebar jarak sebelum Assane Diao menutup pesta di babak akhir. Leipzig hanya bisa membalas satu gol.
Diao, Pemain yang Baru Dikenal Eropa Malam Ini
Nama Assane Diao mungkin belum familiar bagi penggemar yang tidak mengikuti Como atau sepak bola Italia secara intens. Tapi penampilannya malam itu di depan perhatian seluruh Eropa layak disimak lebih dalam. Diao tampil tidak hanya sebagai pencetak gol, tapi sebagai pemain yang bergerak dengan kecerdasan dan keyakinan yang tidak biasa untuk pertandingan sebesar ini, apalagi dalam konteks debut pertama sejarah klubnya.
Di antara semua hasil matchday pertama, dari PSG yang mencetak enam gol hingga Bayern yang menggasak Bodo lima gol, kemenangan Como atas Leipzig adalah yang paling tidak terduga dan mungkin yang paling relevan sebagai cerita tentang apa yang bisa dicapai sebuah tim ketika persiapan dan momentum bertemu di momen yang tepat. Leipzig, yang sudah akrab dengan atmosfer malam Liga Champions, pulang tanpa poin. Como, yang baru pertama kali merasakannya, pulang sebagai tim yang tidak ada yang ingin menghadapi di matchday berikutnya.

