Mbappe Dua Kali Top Skor La Liga, tapi Tak Pernah Juara: Tragedi atau Takdir?
Tulisan dari Muhammad Ilham Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah angka yang terasa tidak masuk akal jika dibaca tanpa konteks: 56. Itulah jumlah gol yang dicetak Kylian Mbappe di La Liga dalam dua musim pertamanya bersama Real Madrid. Musim 2024/25 ia mencetak 31 gol dan meraih Sepatu Emas Eropa. Musim 2025/26 ia menambahkan 25 gol dan mempertahankan gelar Pichichi Trophy sebagai pencetak gol terbanyak La Liga.
Dalam sejarah panjang La Liga, hampir tidak ada preseden pemain yang mendominasi daftar pencetak gol selama dua musim berturut-turut namun klubnya gagal menjadi juara di kedua musim tersebut. Mbappe bukan hanya mencatatkan paradoks statistik. Ia sedang menciptakan kisah yang belum pernah ditulis sebelumnya.
Angka yang Tidak Berbohong, tapi Juga Tidak Bercerita Seutuhnya.
Dalam dua musim pertamanya di Spanyol, Mbappe langsung menjadi top skor liga dua kali berturut-turut, dengan 31 gol pada 2024/25 dan 25 gol pada 2025/26. Jika digabungkan dengan 15 golnya di Liga Champions musim 2025/26 yang juga menjadikannya top skor Eropa, total 42 gol dalam 44 pertandingan di semua kompetisi musim itu adalah angka yang tidak dimiliki hampir semua penyerang di dunia.
Tapi angka tidak pernah bercerita seutuhnya. Keberhasilan individu Mbappe selalu dibarengi dengan kegagalan Real Madrid meraih trofi La Liga, di mana mereka kembali harus puas berada di bawah Barcelona. Di musim pertamanya, Real Madrid finis di posisi kedua tertinggal dari Barcelona. Musim 2025/26, Barcelona kembali mengamankan gelar La Liga dengan kemenangan atas Madrid di El Clasico, memastikan gelar liga kedua berturut-turut dan membuat Real Madrid menjalani musim lagi tanpa trofi utama.
Ketika Bintang Terlalu Terang Meredup Tim.
Masalah Mbappe di Real Madrid bukan soal produktivitasnya. Masalahnya justru lebih rumit dari itu. Madrid terlalu mudah dibaca lawan karena ketergantungan pada Mbappe sebagai tumpuan utama serangan. Mereka dipecundangi oleh tim-tim yang bermain dengan serangan balik cepat seperti Barcelona, maupun tim berbasis penguasaan bola seperti Arsenal.
Ketika Arbeloa menerapkan pendekatan "umpan ke Mbappe dengan segala cara" melawan Mallorca dan Girona, Real Madrid hanya meraih satu poin dari enam yang tersedia. Sebaliknya, ketika Vinicius Jr kembali ke performa terbaiknya dan tim bermain lebih kolektif, hasilnya jauh lebih baik. Perbandingan itu berbicara lebih keras dari statistik gol mana pun.
Masalah Real Madrid bukan kurangnya bakat. Melainkan kurangnya kohesi. Skuad mereka memiliki kekuatan bintang, atletisme, dan kedalaman, namun tim masih membutuhkan struktur yang lebih jelas untuk memaksimalkan pemain-pemain seperti Bellingham, Vinicius, Mbappe, dan Valverde secara bersamaan. Terlalu banyak ego di satu ruang ganti bukan sekadar kiasan, melainkan tantangan taktis nyata yang belum terpecahkan.
Kutukan Liga Champions yang Belum Juga Berakhir.
Di luar La Liga, ada dimensi lain dari kisah Mbappe yang tidak kalah menyakitkan. Sejak debutnya di Liga Champions bersama AS Monaco pada 2016, Mbappe telah mencatatkan 98 penampilan dan mencetak 70 gol, namun ia menjadi satu-satunya pemain di daftar delapan pencetak gol terbanyak sepanjang masa kompetisi ini yang belum pernah mengangkat trofinya.
Di usia 27 tahun, Mbappe kini sejajar dengan sejumlah legenda yang juga tidak pernah menjuarai Liga Champions, seperti Ronaldo Nazario, Gianluigi Buffon, dan Zlatan Ibrahimovic. Nama-nama itu bukan nama pemain biasa. Tapi mereka menjadi pengingat bahwa kehebatan individu tidak selalu berakhir dengan trofi tertinggi.
Dalam dua musim terakhir, Mbappe belum mampu membawa timnya melampaui babak perempat final, catatan yang bahkan lebih buruk dibanding saat ia membela PSG maupun Monaco. Perpindahannya ke Real Madrid, yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai klub paling dekat dengan trofi Liga Champions, justru belum mengubah nasibnya di kompetisi itu.
Barcelona, Flick, dan Mengapa Tim Selalu Mengalahkan Bintang.
Di sisi lain El Clasico, ada jawaban yang paling jujur atas pertanyaan mengapa Mbappe bisa top skor tapi Real Madrid tetap kalah. Barcelona telah mengubah model mereka menjadi hasil nyata. Di bawah arahan Hansi Flick, Barca menggabungkan talenta muda, kejelasan taktis, dan konsistensi serangan untuk memenangkan liga dua kali berturut-turut. Hal ini membuat Barcelona saat ini yang menetapkan ritme kompetitif di La Liga.
Lamine Yamal bukan top skor La Liga. Raphinha juga bukan pencetak gol terbanyak. Tapi Barcelona juara. Sementara Mbappe, pencetak gol terbanyak dua musim berturut-turut, pulang tanpa trofi domestik. Sepak bola, dalam cara yang paling indah dan paling kejam sekaligus, terus membuktikan bahwa trofi tidak diraih oleh satu pemain, melainkan oleh sebelas.
Kembali ke pertanyaan awal: apakah ini tragedi atau takdir?
Tragedi mensyaratkan kesalahan yang bisa dihindari. Mbappe tidak melakukan kesalahan dalam hal produktivitas gol. Ia melakukan tugasnya dengan sempurna, mencetak gol lebih banyak dari siapa pun di La Liga, dua tahun berturut-turut. Jika ada yang gagal, itu adalah sistem di sekitarnya, bukan dirinya sendiri.
Takdir, di sisi lain, menyiratkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang berjalan. Bahwa Mbappe mungkin memang ditakdirkan untuk menjadi pencetak rekor individu yang belum tentu berakhir dengan koleksi trofi tim yang setara. Seperti halnya Ronaldo Nazario yang dianggap penyerang terbaik sepanjang masa tapi tidak pernah punya lebih dari satu gelar Liga Champions.
Yang pasti, kisah Mbappe di La Liga hingga hari ini adalah kisah yang paling sulit dikategorikan: terlalu sukses untuk disebut gagal, terlalu tanpa trofi untuk disebut berhasil.
Dua Pichichi Trophy sudah terpajang di lemari prestasi Mbappe. Golden Boot Eropa sudah ada di tangannya. Tapi rak itu masih kosong di bagian yang paling penting: trofi liga bersama Real Madrid. Musim demi musim, Barcelona terus mengambil trofi yang seharusnya menjadi milik tim dengan penyerang paling produktif di La Liga. Mbappe bukan pemain yang gagal. Ia adalah pemain yang sedang membuktikan bahwa sepak bola modern tidak bisa dimenangkan oleh satu orang saja, tidak peduli seberapa banyak gol yang ia cetak.

