Konten dari Pengguna

Mourinho Kembali ke Elite Eropa, tapi Real Madrid Masih Mencari Dirinya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ilham Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat dengan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat dengan AI

Tiga belas tahun adalah waktu yang sangat panjang dalam sepak bola. Banyak yang berubah di Real Madrid sejak Jose Mourinho terakhir kali duduk di bangku pelatih Santiago Bernabeu pada musim 2012/13: presiden berganti, filosofi berulang kali dirombak, dan Barcelona sudah tiga kali juara La Liga berturut-turut tanpa perlawanan yang cukup kuat dari Madrid.

Mourinho kembali ke Madrid musim panas ini dengan misi yang sangat jelas: menghentikan dominasi Barcelona. Enam pekan pertama La Liga 2026/27 memberikan gambaran yang lebih kompleks dari sekadar menang atau kalah.

Menang Besar, tapi Tersandung di Tempat yang Tidak Terduga.

Mourinho membawa Real Madrid menang 4-1 atas Rayo Vallecano di pekan terakhir yang dimainkan di Santiago Bernabeu, sebuah kemenangan yang terasa meyakinkan dengan Mbappe mencetak dua gol. Di Liga Champions, Madrid sudah menunjukkan tanda-tanda stabilitas yang lebih baik dari musim lalu, ketika mereka sempat kalah 2-4 dari Benfica dan terpaksa melewati babak playoff.

Tapi di antara dua momen positif itu, ada kekalahan 0-1 yang menyakitkan di markas Real Betis pada 5 September. Sebuah laga di mana Madrid dominan, menciptakan banyak peluang, tapi gagal mencetak satu gol pun, gol yang seharusnya sah malah dianulir, dan Mbappe gagal mengeksekusi penalti di penghujung laga setelah kiper Betis berhasil membuatnya ragu secara psikologis.

Mourinho tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyoroti keputusan wasit soal kartu kuning yang menurutnya tidak konsisten, dan mengungkapkan betapa sulitnya menarik Guler keluar dalam situasi itu meski sang pemain sedang tampil sangat baik.

Masalah yang Sama, Pelatih yang Berbeda.

Real Madrid musim ini memiliki kualitas individu yang tidak perlu dipertanyakan. Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham, Arda Guler, Bernardo Silva, semua adalah pemain kelas dunia yang di atas kertas lebih dari cukup untuk bersaing dengan siapapun.

Masalahnya bukan kualitas individu, melainkan konsistensi kolektif. Musim lalu di bawah Alvaro Arbeloa, Mbappe sendiri mengkritik inkonsistensi tim dengan keras setelah kekalahan dari Benfica di UCL, menyebut Madrid bukan tim bermental juara. Pernyataan itu terdengar keras, tapi juga jujur, dan masalah yang sama tampaknya belum sepenuhnya terpecahkan musim ini.

Mourinho dikenal sebagai pelatih yang sangat baik dalam membangun pertahanan solid dan mengoptimalkan serangan balik cepat. Tapi Real Madrid musim ini memiliki skuad yang dirancang untuk bermain dominan dan menyerang, bukan untuk bertahan dan menyerang balik. Menemukan titik temu antara filosofi Mourinho dan karakter alami skuad ini adalah pekerjaan yang belum selesai di pekan keenam musim.

Barcelona yang Semakin Jauh.

Sementara Madrid masih mencari iramanya, Barcelona melaju tanpa hambatan. Enam menang dari enam laga, 28 gol, dan kemenangan 7-2 semalam atas Racing Santander menambah keyakinan bahwa Hansi Flick sedang membangun sesuatu yang akan sangat sulit dihentikan musim ini.

Jarak 12 poin antara Barcelona dan Madrid setelah enam pekan bukan angka yang mudah dipangkas. Dalam sejarah La Liga modern, tim yang tertinggal 12 poin di pekan keenam jarang berhasil memenangkan gelar di akhir musim kecuali ada kolaps besar dari tim yang memimpin.

Mourinho tahu ini. Dan mungkin itulah mengapa ia tidak banyak berbicara soal Barcelona di konferensi pers, melainkan fokus pada apa yang bisa ia kendalikan, yaitu permainan Real Madrid dari pertandingan ke pertandingan.

Jose Mourinho kembali ke Real Madrid dengan reputasi yang sudah teruji dan pengalaman yang tidak dimiliki pelatih manapun di La Liga saat ini. Tapi sepak bola tidak memberi diskon untuk pengalaman. Musim 2026/27 sudah berjalan enam pekan, Barcelona sudah 18 poin sempurna, dan Madrid masih mencari versi terbaik dari dirinya sendiri. Mourinho pernah menghentikan dominasi Barcelona sebelumnya, pada musim 2011/12 ketika Madrid meraih La Liga dengan 100 poin. Tapi tim itu punya Ronaldo, Xabi Alonso, dan Mesut Ozil. Tim ini punya Mbappe, Guler, dan Bellingham, dengan potensi yang tidak kalah besar, jika semuanya bisa berjalan dalam satu irama yang sama.