Xabi Alonso di Chelsea: Proyek Impian atau Jebakan Uang Terlalu Banyak?
Tulisan dari Muhammad Ilham Prakoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada ironi besar yang mengikuti Chelsea ke mana pun klub itu pergi dalam satu dekade terakhir. Klub dari London Barat ini telah membelanjakan uang lebih dari yang bisa dibayangkan oleh kebanyakan liga sepak bola di dunia, dan hasilnya adalah finis di posisi ke-10 Premier League musim 2025/26.
Bukan bawah tabel, bukan terancam degradasi. Tapi ke-10 itu terasa seperti sebuah pernyataan: bahwa uang banyak saja tidak cukup, dan mungkin justru menjadi bagian dari masalah.
Lalu datanglah Xabi Alonso, menandatangani kontrak empat tahun mulai Juli 2026. Dan pertanyaan yang paling jujur untuk diajukan bukan apakah ia pelatih yang bagus, karena rekam jejaknya di Bayer Leverkusen sudah menjawab itu, melainkan apakah Chelsea adalah tempat yang tepat untuk mereplikasi kesuksesan itu.
Ketika Uang Bukan Lagi Keunggulan
Musim panas 2026, klub-klub Premier League secara resmi memecahkan rekor pengeluaran transfer dengan total belanja melebihi 3,4 miliar poundsterling. Chelsea ada di garis terdepan pengeluaran itu. Mereka memecahkan rekor transfer klub dengan mendatangkan Morgan Rogers dari Aston Villa seharga 138 juta euro, menjadikan Chelsea sebagai klub dengan selisih pengeluaran transfer terbesar pada musim panas 2026.
Ini bukan anomali. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Pada Januari 2023 saja, Chelsea menghabiskan lebih dari 300 juta euro untuk mendatangkan delapan pemain baru dalam satu jendela transfer, sebuah angka yang melampaui total pengeluaran gabungan La Liga, Serie A, Bundesliga, dan Ligue 1 pada periode yang sama.
Tapi trofi Premier League tidak kunjung datang. Yang datang justru kerugian finansial terbesar dalam sejarah Premier League, dengan Chelsea menghabiskan 65,1 juta poundsterling hanya untuk membayar komisi agen dalam satu musim. Chelsea bukan klub miskin yang berjuang. Chelsea adalah klub yang membuktikan bahwa kekayaan tanpa arah adalah beban, bukan keunggulan.
Leverkusen Bukan Templat yang Bisa Disalin Begitu Saja
Reputasi Alonso dibangun di Bayer Leverkusen dengan cara yang hampir mustahil direplikasi. Ia mendapat sebuah klub dengan skuad yang relatif kohesif, pemain yang lapar gelar karena belum pernah juara, dan kebebasan membangun identitas dari nol tanpa beban warisan pelatih-pelatih mahal sebelumnya. Hasilnya adalah Bundesliga tanpa kekalahan yang menjadi legenda sepak bola modern.
Chelsea adalah skenario yang berbeda di hampir setiap aspek. Menurut laporan The Athletic, Alonso dan manajemen Chelsea telah menyepakati tujuh pemain yang dianggap tidak bisa dijual: Reece James, Cole Palmer, Moises Caicedo, Levi Colwill, Estevao Willian, Joao Pedro, dan Josh Acheampong. Tujuh pemain inti yang tidak boleh disentuh dalam proyek seorang pelatih baru adalah sesuatu yang tidak pernah Alonso hadapi di Leverkusen.
Di sisi lain, dalam sepekan pertama memimpin latihan pramusim, Alonso langsung memasukkan lima pemain senior ke daftar jual: kiper Filip Jorgensen, bek tengah Axel Disasi dan Benoit Badiashile, winger Alejandro Garnacho, serta penyerang Liam Delap, dengan total valuasi pasar sekitar 160 juta poundsterling. Kecepatan keputusan itu mengesankan, tapi juga menunjukkan betapa besar renovasi yang dibutuhkan.
Taktik yang Bergantung pada Pemain, Bukan Sebaliknya
Salah satu kekuatan terbesar Alonso sebagai pelatih adalah kemampuannya membaca karakter pemain sebelum menetapkan sistem. Jurnalis terkemuka Kaveh Solhekol menegaskan bahwa Alonso tidak akan terpaku pada satu formasi di Chelsea. Ia menggunakan tiga bek di Leverkusen karena sangat cocok dengan karakteristik pemain yang ia miliki saat itu, dan ia sangat nyaman pula bermain dengan pola empat bek.
Pendekatan itu terdengar bijak, tapi juga berarti tidak ada jaminan sistem mana yang akhirnya akan menjadi identitas Chelsea. Rekrutan Marco Palestra dari Atalanta seharga 57 juta euro, seorang wing-back yang sangat cocok untuk formasi 3-4-2-1, memberikan petunjuk bahwa Alonso kemungkinan akan menghidupkan kembali sistem tiga bek yang pernah sukses di Leverkusen. Namun ada kekhawatiran mengenai kondisi fisik Reece James untuk menjalankan peran sebagai wing-back yang sangat menguras stamina.
Dari analisis laga pramusim, formasi tiga bek Alonso di Chelsea belum sepenuhnya matang. Tim masih memerlukan peningkatan kualitas serta kedisiplinan tingkat tinggi dari sisi bertahan, kreativitas menyerang, hingga ketenangan dalam penyelesaian akhir. Itu catatan dari pramusim, bukan dari laga kompetitif. Tapi pramusim adalah cermin yang jujur.
Satu Pemain yang Bisa Mengubah Segalanya
Di tengah semua ketidakpastian itu, ada satu nama yang menjadi pegangan: Joao Pedro. Alonso menyamakan Joao Pedro dengan legenda Real Madrid Karim Benzema, menyebut sang striker mampu bermain di dalam maupun luar kotak penalti, bergerak ke sisi lapangan, dan mengandalkan kemampuan duel udara. Alonso menegaskan bahwa Joao Pedro memiliki target besar untuk musim ini, tidak hanya mencetak banyak gol tetapi juga menjadi kandidat Pemain Terbaik Bulanan secara konsisten.
Pujian sebesar itu dari seorang pelatih baru kepada seorang striker adalah sinyal yang jelas: Joao Pedro adalah pusat dari proyek ini. Bukan Cole Palmer yang lebih sering disebut media. Bukan Reece James yang lebih sering disebut kapten. Alonso menempatkan tanggung jawab tertinggi di pundak seorang penyerang Brasil berusia 23 tahun yang musim lalu baru menunjukkan kilatan potensi pertamanya.
Proyek yang Benar, tapi di Tempat yang Belum Tentu Siap
Xabi Alonso adalah pelatih yang tepat. Filosofinya jelas, reputasinya terbukti, dan keputusan-keputusan awalnya di Chelsea menunjukkan ketegasan yang selama ini absen dari Stamford Bridge. Penunjukan Alonso disambut antusias karena ia diharapkan membawa stabilitas jangka panjang bagi klub yang sudah berganti pelatih berkali-kali sejak era Todd Boehly dimulai.
Tapi Chelsea bukan Leverkusen. Chelsea adalah klub yang sudah membuktikan bahwa bahkan pelatih berbakat pun bisa tersesat di antara banyaknya pemain, besarnya ekspektasi, dan sulitnya membangun kohesi di atas fondasi yang terus berubah setiap musim. Dua pelatih sebelumnya, Enzo Maresca dan Liam Rosenior, sama-sama tidak bertahan cukup lama untuk membuktikan diri.
Alonso mendapat kontrak empat tahun, yang artinya manajemen Chelsea sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Itu hal yang baik untuk diucapkan. Yang menentukan adalah apakah mereka akan menepatinya ketika hasil di bulan Oktober belum sesuai harapan.
Proyek Xabi Alonso di Chelsea adalah salah satu kisah paling menarik di Premier League musim 2026/27, bukan karena hasilnya sudah bisa diprediksi, justru sebaliknya. Ini adalah pertemuan antara seorang pelatih dengan rekam jejak luar biasa dan sebuah klub dengan masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan uang. Jika Alonso berhasil, Chelsea akan menjadi juara dengan cara yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Jika gagal, pertanyaannya bukan soal kemampuan sang pelatih, melainkan apakah ada klub di dunia yang terlalu kaya untuk bisa dibenahi.

