Konten dari Pengguna

Pak Teddy Membela Diri, Pak Dino Mengimbau?

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menarik sih menyimak tanggapan Seskab Teddy Indra Wijaya terhadap masukan dari diplomat senior Dino Patti Djalal. Akhirnya mengundang komentar dan tanggapan publik lebih luas. Biarlah publik yang menilai kualitasnya. Pak Dino diplomat itu mengimbau, kenapa jadinya Pak Teddy Sekab membela diri?

Apa yang dinyatakan Pak Teddy, itu bukti pentingnya literasi di Indonesia. Manusia literat itu bukan hanya "melek huruf". Tapi mampu memahami realitas yang terjadi di masyarakat dan cara merespon masukan atau krtitik. Semestinya pejabat publik, termasuk Pak Teddy Seskab menjadikan masukan atau kritik sebagai bahan pertimbangan, bukan justru seolah “menyerang balik” orang yang memberi masukan atau mengkritik.

Sebagai catatan literasi di balik Pak Dino diplomat mengimbau, Pak Teddy Seskab membela diri, ada 5 (lima) poin yang harus menjadi perhatian bersama:

1. Pejabat pubkik harus pahama kritik itu bukan ancaman, melainkan konsekuensi alami dari jabatan publik. Maka bila ada tokoh, masyarakat atau netizen yang mengimbau atau memberi masukan, respons pertama yang perlu muncul bukanlah pembelaan diri, melainkan upaya memahami esensi pesannya apa?

2. Ada prinsip sederhana dalam komunikasi adalah “jangan pernah berniat mengalahkan pengkritik tapi kalahkanlah keraguan publik". Kebijakan, cara dan langkah diplomasi pemerintah memanh boleh dikritik. Tapi untuk menjawabnya berikan penjelasan yang objektif atas kritik yang disampaikan. Sebenarnya, Pak Teddy sudah bagus kasih data-data dampak dari diplomasi cuma “jangan menyerang personal”. Foksu pada substansi, bukan personal.

3. Kesalahan fatal Pak Teddy itu saat menyebut “mantan wakil menteri walau hanya diberikan kesempatan 3 bulan”. Kalimat itu ”ad hominem”, kenap malah menyerang atribut personal. Apa hubungannya imbauan dengan “menjabat 3 bulan?”. Etika komunikasi pejabat publik harusnya “ad rem”, tetap berpegang pada esensi. Fokusnya pada masalah bukan lainnya.

4. Mungkin Pak Teddy perlu memahami bedanya “menjelaskan” dengan “membela diri”. Setiap penjelasan itu tujuannya memberikan pemahaman atau pengertian, sedangkan “membela diri” itu untuk memenangkan persepsi, kesannya lebih defensif. Pejabat public itu tidak harus sempuran dan boleh salah. Tapi harus disadarai pejabat public juga tidak identik dengan kebenaran. Di mana-mana, pemimpin itu tidak selalu benar tapi harus mampu memberi penjelasan.

5. Ada juga pembelaan yang menyebutkan “bila biaya perjalanan presiden melebihi budget, maka presiden menggunakan biaya pribadi”. Jelas statement ini “sesat berpikir” alias logical fallacy. Karena jelas membela diri dan upaya pengalihan isu. UU atau PP kan sudah mengatur kunjungan kepresidenan pasti atas biaya negara - APBN agar transparan dan akuntabel. Kenapa bisa ada biaya pribadi presiden? Terus cara hitungnya gimana? Ditambah lagi penekanan emosi bahwa “Presiden yang rela berkorban mengeluarkan dana pribadi untuk kepentingan negara”. Publik jadi bingung, kok bisa begitu negara kita?

Pak Dino dan Pak Teddy

Maka ada Pelajaran literasi di balik Pak Dino diplomat mengimbau, Pak Teddy Seskab membela diri, Bila pejabat publik kualitas komunikasinya bergeser dari esnsi ke personalisasi, maka kualitas diskusi dan demokrasi jadi ikut hilang. Dan akhirnya yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik. Seharusnya pejabat publik memebri ruang masyarakat untuk dialog, diskusi sambil memberi masukan. Bukan malah lebih reaktif dan membela diri.

Kita sepakatlah, bahwa pejabat publik atau pemimpin sama sekali tidak diukur dari seberapa keras ia menjawab kritik. Tapi seberapa tenang dan objektif menjawab masukan dan kritik dari rakyatnya. Pemimpin yang kuat itu justru mau menerima dan cukup percaya diri untuk mendengar kritik tanpa merasa kehilangan wibawa. Bukan malah membela diri atau menyerang personal pengkritik.

Apa yang diimbau Pak Dino diplomat, sebenarnya bisa dijawab Pak Teddy dengan sederhana. "Terima kasih atas masukan dan kritiknya kepada pemerintah. Kami menghormati pandangan tersebut. Akan tetapi perlu kami jelaskan sebegai berikut ……… bla-bla-bla" Selesai dan dapat dipahamai. Bukan malah jadi ramai di media sosial. Apapun bila jadi pro-kontra itu bukan penjelasan, bukan jawaban. Laksanakan Pak Teddy!