Konten dari Pengguna

Mahasiswa: Mengisi Monev Tak Pandai, Mengeluhkan Kinerja Dosen Paling Lihai

Paksi Jaladara Bintara

Paksi Jaladara Bintara

Mahasisiwa Prodi Bahasa & Sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Paksi Jaladara Bintara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dosen sedang mengajar mahasiswa di kampus (Sumber: Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Dosen sedang mengajar mahasiswa di kampus (Sumber: Freepik)

Mahasiswa memang unik dan beraneka ragam jenisnya. Ada yang ambisius studi agar bisa selesai tepat waktu, ada pula yang bersantai-santai karena merasa belum cukup ilmunya di kampus, dan lain sebagainya. Namun, ada satu jenis mahasiswa yang cukup menyebalkan. Ialah mahasiswa yang mengeluhkan kinerja dosen, tetapi tidak pernah melaporkan dosen tersebut pada monev perkuliahan. Kalau kata grup musik Biancadimas dalam salah satu lirik lagunya:

“Manusia paling menyebalkan di dunia ... oh jelas kamu.”

Monev merupakan akronim dari monitering dan evaluasi. Nah, monev perkuliahan ini menjadi sebuah media aspirasi dan kritikan mahasiswa terhadap kinerja dosen, pelayanan staf akademik, hingga fasilitas kampus. Mahasiswa seharusnya memanfaatkan monev sebaik-baiknya, alih-alih mengeluhkan kinerja dosen pada dinding kampus atau pada sesama mahasiswa.

Bayangkan saja, setiap semester ketemu dosen yang tidak becus mengajar. Apa tidak stres itu mahasiswa?

Tentu saja hal tersebut terjadi karena minimnya mahasiswa yang mengkritik kinerja dosen di monev. Akhirnya, pihak universitas pun tidak punya bahan untuk mengevaluasi kinerja para dosen.

Alasan Utama Minim Mahasiswa yang Mengisi Monev

Setiap hal yang terjadi, pasti punya alasan. Sama hal dengan minimnya mahasiswa yang mengisi monev. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa mahasiswa adalah manusia dan manusia tak pernah luput dari rasa malas. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa alasan utama minim yang mengisi monev adalah rasa malas. Ditambah lagi monev berisikan banyak sekali pertanyaan terstruktur yang wajib dibaca dan diisi—tidak hanya sekadar langsung memberi komentar mengenai kinerja dosen yang tidak becus.

Karena melihat riset tingkat literasi masyarakat Indonesia yang belum memuaskan, saya pun meyakini rasa malas menjadi alasan utama minimnya mahasiswa yang mengisi monev.

Di sisi lain, monev umumnya disebar ketika UAS telah selesai dilaksanakan. Dengan kata lain, seluruh rangkai perkuliahan selama satu semester telah usai—saatnya mahasiswa bersiap-siap meninggalkan kota rantau, meninggalkan segala aktivitas akademik, dan menikmati liburan. Karena tidak ingin liburannya diganggu, mahasiswa pun enggan mengisi monev. Apalagi kebanyakan mahasiswa sudah capek dengan aktivitas akademik selama satu semester sehingga menjawab pertanyaan terstruktur dalam monev menjadi suatu beban tersendiri. Akhirnya, kembali lagi ke rasa malas sebagai alasan utamanya.

Adanya Trust Issue dengan Pihak Universitas

Data mahasiswa yang telah terkumpul di monev akan dikelola lagi oleh tim penjaminan yang dibentuk oleh universitas. Tim penjaminan inilah yang juga bertugas menyebar tautan monev ke mahasiswa. Setelah batas waktu yang telah ditentukan, tautan monev akan ditutup oleh tim penjaminan untuk dikelola datanya. Kemudian, data yang telah dikelola akan dipaparkan oleh tim penjaminan di depan pimpinan universitas dan dosen-dosen. Pada saat itulah, kritik, saran, serta aspirasi mahasiswa tersampaikan.

Secara umum, idealnya alur monev seperti itu. Namun, terkadang ada suatu hal yang tidak berjalan semestinya. Salah satunya, seperti minim mahasiswa yang mengisi monev. Hal lainnya lagi adalah adanya kecurangan di dalam tim penjaminan itu sendiri. Hal ini terkesan ironi sekali. Tim penjaminan dibentuk untuk menjamin mutu dan kualitas segala aktivitas di lingkup universitas. Namun, terkadang ada saja anggota tim penjaminan yang kongkalikong dengan salah satu dosen—barangkali karena ada kepentingan pribadi atau karena faktor senioritas dan pengaruh jabatan yang lebih tinggi—sehingga kritik dan data dari monev direkayasa. Dampak akhirnya, hasil monev tidak menunjukkan sisi kinerja buruk mengenai si oknum dosen sehingga tidak ada teguran dari pimpinan universitas.

Hal itu belum tentu terjadi di semua universitas. Itu hanyalah oknum. Namun, ada istilah dinding kampus berbicara sehingga akan ada kabar burung—seperti di atas—yang jadi bahan diskusi di kalangan mahasiswa. Akibatnya, birokrasi kampus yang citranya memang kurang baik akan semakin dipandang buruk oleh mahasiswa. Pun mahasiswa akan trust issue dengan pihak universitas terkait monev, seperti berpikir bahwa monev hanyalah sekadar formalitas yang dilaksanakan di akhir semester, sementara data yang termuat dalam monev hanyalah rekayasa alias tidak valid.

Mahasiswa harus mengisi monev dan pihak kampus mengelola data monev secara objektif

Di sisi lain, sebagian mahasiswa—biasanya yang masih junior—masih belum mengetahui tujuan dan alur monev. Namun, ada juga mahasiswa senior yang entah karena alasan apa masih saja belum paham mengenai monev perkuliahan. Karena ketidaktahuan, mahasiswa tersebut pun tidak menganggap monev sebagai hal yang krusial bagi lingkungan akademis universitas ke depannya. Hal ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi pihak universitas untuk mengatasi ketidaktahuan mahasiswa. Misalnya, mengadakan kuliah umum mengenai monev perkuliahan.

Pihak kampus pun sebaiknya bertanggung jawab secara objektif dalam mengelola data monev perkuliahan. Pun tidak melakukan kecurangan atau kongkalikong dengan seorang dosen untuk memanipulasi data. Selain itu, pihak kampus pun sebaiknya menjamin kerahasiaan mahasiswa yang mengisi monev agar mahasiswa bisa menyampaikan aspirasi dan kritik dengan bebas.

Tentu, hal tersebut tidak hanya menjadi upaya untuk memperbaiki citra birokrasi, juga sebagai upaya menciptakan lingkungan akademis universitas yang baik. Dengan kata lain, mahasiswa mendapatkan haknya untuk belajar dan menambah pengetahuan dari dosen, sementara dosen melaksanakan salah satu Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengajaran.

Dengan demikian, untuk mencapai utopia, seperti lingkungan akademis yang baik. Tentunya diperlukan kerja sama dari segala lapisan masyarakat universitas. Mahasiswa pun harus mengisi monev dengan objektif—sesuai keadaan yang riil di kelas. Sementara pihak kampus harus berani mengelola dan menyampaikan hasil monev dengan objektif, serta mengurangi sikap realistis untuk mempertahankan karier dan jabatan.