Konten dari Pengguna

Apakah Sebagai Pendatang Harus Bersikap Berbeda?

Naufal Abiyyu Ghazy

Naufal Abiyyu Ghazy

Mahasiswa S1 Informatika UNS

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Naufal Abiyyu Ghazy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siswa pendiam (Sumber : https://www.shutterstock.com/image-photo/lonely-sad-schoolboy-crying-while-all-2489698103)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siswa pendiam (Sumber : https://www.shutterstock.com/image-photo/lonely-sad-schoolboy-crying-while-all-2489698103)

Jadi gini, waktu saya memutuskan buat pindah ke kota baru buat kuliah, saya nggak bener bener siap buat menghadapi semua tantangan yang bakal datang. Tinggalin rumah dan semua yang udah dikenal buat masuk ke tempat baru itu nggak gampang. Salah satu pertanyaan yang terus ada di kepala saya adalah apa saya harus bersikap beda sebagai pendatang dibandingkan sama orang orang yang udah lama tinggal di sini? Dari pengalaman saya, ada banyak hal yang bisa dipelajari tentang pentingnya beradaptasi dalam situasi kayak gini.

Pas saya baru nyampe di kota baru, hal pertama yang saya rasain adalah betapa berbeda budaya di sini. Saya dari salah satu kota istimewa di mana semua orang saling kenal dan interaksinya santai banget. Nah, di tempat baru ini, suasananya terasa lebih formal. Kalau saya masih bersikap kayak di rumah, bisa bisa saya dianggap kurang sopan. Dari situ, saya mulai paham pentingnya menghormati cara orang lain berinteraksi.

Salah satu momen yang cukup berkesan adalah saat saya berteman dengan teman teman saya. Saya melontarkan banyak candaaan. Tapi, reaksi teman-teman saya malah nggak sesuai ekspektasi. Beberapa dari mereka tampak bingung, dan suasana jadi awkward banget. Dari kejadian ini, saya belajar bahwa cara ngomong yang saya anggap akrab di rumah ternyata bisa jadi nggak diterima di sini. Ini bikin saya jadi lebih hati-hati saat berbicara dan berinteraksi sama orang orang di sekitar.

Nggak cuma cara berbicara, cara berpakaian juga jadi perhatian saya. Di kota ini, banyak orang yang tampil modis dan rapi. Saya merasa perlu menyesuaikan diri agar nggak terlihat aneh. Jadi, saya mulai ngecek gaya berpakaian orang-orang di sekitar dan coba untuk nyamain. Ini bikin saya merasa lebih percaya diri dan lebih diterima di lingkungan baru. Tapi, proses penyesuaian ini kadang bikin saya bingung, antara mau jadi diri sendiri atau mau diterima.

Terkadang, beradaptasi itu bikin saya merasa terasing. Ketika ngobrol sama teman-teman baru, sering kali saya bingung cari topik yang pas. Di satu sisi, pengen banget berbagi cerita dari kota asal, tapi di sisi lain, kadang khawatir mereka nggak bakal tertarik. Rasa cemas ini sering bikin menarik diri dan ngerasa kesepian. Momen-momen kayak gini bikin sadar bahwa sebagai pendatang, harus lebih aktif buat nyari cara terhubung dengan orang-orang di sekitar.

Buat ngatasin rasa terasing itu, mulai cari komunitas yang sesuai sama minat. Mencari tempat di mana bisa connect sama orang-orang yang punya vibe yang sama, biar bisa lebih mudah beradaptasi dan ngerasa diterima. Bergabung dengan beberapa organisasi di sekolah dan ikut berbagai kegiatan itu bener-bener bikin bisa ketemu teman-teman yang punya minat sama. Dari situ, bisa sharing pengalaman dan belajar dari orang lain tanpa merasa kesepian. Kegiatan kayak seminar dan acara sosial ngebantu banget buat merasa lebih terhubung. Selain itu, interaksi ini bukan cuma tentang belajar budaya lokal, tapi juga tentang ngerti diri sendiri lebih dalam.

Seiring waktu, makin sadar banyak keuntungan dari penyesuaian ini. Dengan buka diri buat belajar dan interaksi, banyak peluang yang sebelumnya nggak keliatan. Misalnya, bisa dapet teman baru dari latar belakang yang beda, yang bikin pandangan jadi lebih luas. Ada juga kesempatan buat ikut berbagai kegiatan seru, kayak acara-acara sekolah atau kegiatan komunitas yang mungkin nggak bakal ditemukan kalo tetap di zona nyaman. Rasanya seru banget, soalnya bisa ngerasain koneksi yang lebih dalam dengan orang-orang di sekitar.

Tapi, kadang juga ngerasa capek dengan semua penyesuaian ini. Ada momen-momen di mana ngerasa harus berpura-pura jadi orang lain biar diterima. Di situ, berusaha ingat bahwa beradaptasi bukan berarti kehilangan diri sendiri. Masih bisa jadi diri sendiri sambil menghormati budaya di sekitar. Belajar nemuin keseimbangan antara tetap setia sama nilai-nilai pribadi dan menyesuaikan diri dengan norma baru. Proses ini emang tricky, tapi seru juga bisa tetap autentik di tengah semua perubahan.

Kadang-kadang, ngerasa frustrasi banget sama perbedaan yang ada, dan itu wajar. Ada kalanya susah banget buat ngerti beberapa tradisi atau kebiasaan baru. Rasanya harus berusaha keras buat paham konteks dan makna di balik perilaku orang-orang di sekitar. Tapi, di saat-saat kayak gini, jadi ngerasa bingung dan capek.

Meskipun terus coba dan bertanya, kadang masih ngerasa kehilangan. Tapi belajar bahwa meskipun banyak perbedaan, ada juga kesamaan yang bisa nyambungin kita. Dari pengalaman sebagai pendatang, jadi sadar penting banget buat bersikap terbuka. Kadang galau sih, tapi emang harus berusaha buat nyesuaikan diri sama lingkungan baru.

Jadi, dari pengalaman saya sebagai pendatang, saya menyimpulkan bahwa penting banget buat bersikap berbeda dalam beberapa hal agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Penyesuaian terhadap budaya, norma, dan cara berkomunikasi sangat penting agar kita bisa diterima di komunitas baru. Meskipun proses ini nggak selalu gampang, banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan, seperti ketemu teman baru dan pengalaman berharga. Saya belajar bahwa jadi pendatang bukan cuma soal beradaptasi, tapi juga tentang nemuin tempat kita di dunia yang lebih luas. Dengan sikap terbuka dan keinginan buat belajar, saya yakin setiap pendatang bisa meraih kesuksesan dan kebahagiaan di tempat baru.

Naufal Abiyyu Ghazy, mahasiswa S1 Informatika UNS