Bullying di Balik Grup Chat dari Dalam Circle

Mahasiswa S1 Informatika UNS
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Naufal Abiyyu Ghazy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya dulu mikir circle pertemanan itu tempat aman. Apalagi kalau udah masuk grup chat mereka, rasanya kayak "wah, gue diakui nih." Tapi makin ke sini, makin sadar kalau nggak semuanya seideal itu. Di grup itu, ada aturan nggak tertulis yang bikin beberapa orang jadi "penguasa" sementara sisanya, termasuk saya, cuma jadi pengisi.
Awalnya saya nyoba ikut nimbrung, lempar jokes, ngerespon, pokoknya pengen banget keliatan kalau saya tuh asik. Tapi, ya gitu deh, usaha saya tetep nggak cukup. Lama-lama, saya jadi sadar kalau saya mulai jadi sasaran. Awalnya halus, kayak chat saya nggak pernah dibales, atau kalaupun dibales, cuma singkat-singkat. Sementara orang lain? Chat mereka langsung dibanjirin balasan.
Lalu, perlahan-lahan mulai muncul sindiran. Nggak frontal sih, tapi nusuk. Cara saya ngetiklah, foto profil lah, atau hal kecil lain yang sebenernya nggak ada hubungannya. Mereka bilang itu cuma candaan, tapi kenapa ya, rasanya berat banget buat nerima?
Puncaknya adalah waktu saya diabaikan total. Grup rame banget, pada ngobrol seru, tapi saya nggak diajak. Bukan cuma nggak diajak sih, rasanya kayak saya nggak dianggap ada. Saya diem, mikir, apa salah saya? Padahal saya nggak pernah bikin ribut atau bikin masalah. Tapi tetep aja, mereka seolah sepakat buat ngediemin saya, secara nggak langsung bikin saya ngerasa sendiri di tengah keramaian.Yang bikin susah, saya nggak bisa keluar dari grup itu. Saya takut dianggap drama atau lebay, terus jadi bahan omongan. Tapi kalau terus di sana, saya ngerasa makin kecil, makin nggak berarti. Dilema banget, rasanya kayak nggak ada jalan keluar.
Bullying di grup chat ini bikin saya sadar kalau intimidasi nggak harus lewat kata kata kasar atau pukulan. Kadang, perlakuan yang terlihat "nggak peduli" justru jadi senjata paling tajam. Grup chat yang awalnya kelihatan seru ternyata bisa jadi tempat paling toxic, terutama kalau nggak ada empati di dalamnya.
Circle itu, katanya tempat kita saling support, tapi kalau isinya cuma saling menjatuhkan atau mengabaikan, apa gunanya? Saya harap ke depannya, kita semua bisa lebih peka. Karena kadang, yang terlihat sepele buat kita, bisa jadi hal yang bikin orang lain ngerasa kecil banget.
Naufal Abiyyu Ghazy, mahasiswa S1 Informatika UNS
