Canda yang Menjadi Senjata Luka Psikologis dalam Sunyi

Mahasiswa S1 Informatika UNS
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Naufal Abiyyu Ghazy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bullying sering dianggap masalah kecil, apalagi jika pelakunya mengatasnamakan candaan. “Cuman bercanda kok,” jadi alasan yang kerap terlontar. Tapi apa benar sesederhana itu? Banyak korban yang harus menanggung luka psikologis mendalam karena kata-kata atau perilaku yang "seolah" tidak serius. Candaan ini, meski tampak ringan, bisa berubah menjadi senjata yang perlahan menghancurkan rasa percaya diri seseorang.
Sebagian besar bullying di sekitar kita memang bukan berupa kekerasan fisik. Kata-kata sering menjadi senjata utama yang, meski tidak terlihat, dampaknya terasa hingga lama. Julukan yang merendahkan, komentar sarkastik, atau ejekan terkait kelemahan seseorang adalah contoh yang sering dianggap biasa. Padahal, hal-hal ini bisa membekas di hati korban. Berdasarkan laporan UNICEF, lebih dari 30% anak muda mengaku kehilangan rasa percaya diri akibat bullying verbal. Luka psikologis seperti ini memang sulit dilihat, tetapi efeknya nyata—dari rasa minder, trauma, hingga keinginan untuk menjauh dari lingkungan sosial.
Ironisnya, kita hidup di masyarakat yang kerap menormalkan candaan kasar. Ungkapan seperti “gitu doang baper” sering jadi tameng bagi pelaku untuk menghindari tanggung jawab. Di sekolah, kampus, bahkan lingkungan kerja, candaan semacam ini dianggap bagian dari budaya pergaulan. Namun, di balik tawa yang tampak, ada korban yang menahan rasa sakit. Mereka terjebak dalam situasi sulit melawan dan dianggap terlalu serius, atau diam dan terus menjadi sasaran. Akibatnya, banyak korban yang memilih memendam luka mereka, meski perlahan menghancurkan mentalnya.
Luka akibat bullying verbal tidak sembuh seiring waktu. Efeknya bisa bertahan hingga dewasa, memengaruhi cara seseorang membangun hubungan sosial atau memandang dirinya sendiri. Banyak korban yang tumbuh dengan rasa tidak aman, sulit mempercayai orang lain, atau merasa bahwa dirinya tidak cukup berharga. Ini bukan hanya merugikan individu, tetapi juga memengaruhi kualitas masyarakat secara keseluruhan.
Untuk menghentikan siklus ini, kesadaran adalah kunci. Kita perlu menyadari bahwa kata-kata punya kekuatan besar, baik untuk membangun maupun menghancurkan. Sebelum melontarkan candaan, penting untuk bertanya pada diri sendiri apakah itu bisa menyakiti orang lain. Selain itu, empati perlu ditanamkan dalam pergaulan. Memahami perasaan orang lain adalah langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif. Dan jika kita melihat ada seseorang yang menjadi korban, kita tidak boleh hanya diam. Menjadi pendukung bagi mereka atau melaporkan tindakan tersebut bisa membawa perubahan besar.
Bullying bukan masalah yang bisa disepelekan. Di balik candaan yang terdengar ringan, ada luka yang mungkin tak pernah sembuh. Saatnya berhenti membiarkan hal ini terjadi dan mulai menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. Jangan sampai candaan kita jadi senjata yang melukai orang lain tanpa kita sadari.
Naufal Abiyyu Ghazy, mahasiswa S1 Informatika UNS
