Aroma Bawang Putih dari Lembah Napu, Sulteng

Uji adaptasi panen perdana bawang putih di Lembah Napu, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, yang dilangsungkan Sabtu (18/7), cukup memberikan hasil yang memuaskan.
Hasil panen petani di Desa Watumaeta, Kecamatan Lore Utara itu cukup mengembirakan. Karena panen perdana sebagai uji adaptasi bawang putih ini terbilang baik untuk awal penanaman.
Hal ini tentunya menunjukkan peluang yang baik untuk dataran tinggi Napu dalam upaya menerapkan teknologi budidaya bawang putih dalam mewujudkan Gerakan Tiga Kali Ekspor (GraTIEKS) sesuai dengan program Kementerian Pertanian dalam meningkatkan kesejahteraan petani.
GraTIEKS merupakan gerakan yang dibuat sebagai ajakan pemerintah kepada seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian agar bekerja dengan cara yang tidak biasa. Artinya bekerja dengan memanfaatkan teknologi, inovasi, jejaring dan kerjasama yang kuat sehingga akses informasi tentang potensi komoditas ekspor di masing-masing daerah terbuka luas.
Panen perdana bawang putih di Lembah Napu tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian, Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPPP) bersama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah.
Hadir dalam panen perdana yakni, dua staf khusus Menteri Pertanian, Direktur Benih Dirjen Holtikultura, Kepala Balai Besar Pertanian Bogor Kepala BPTP Sulawesi Tengah, Kepala Karantina Pertanian Palu dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Poso.
Hal ini tentunya menjadi kabar baik sekaligus harapan untuk para petani di Lembah Napu.
Kepala BPTP Sulawesi Tengah, Fery Fahrudin Muneir, Sabtu (18/7), mengatakan, untuk uji adaptasi pertama dilakukan oleh kelompok Tani Mekar Baru dengan luasan 0,25 Ha, jarak tanam 10 cm x 15 cm dan 15 cm x 15 cm.
Pada uji kali ini juga, ada tiga varietas yang ditanam yakni jenis Lumbu Hijau, Sangga Sembalun dan Tinombo. Sedangkan untuk takaran pupuknya NPK 300 Kg/Ha, ZA 200 Kg/Ha, SP36 300 Kg/Ha, KCI 100 Kg/Ha dan Dolomit/Kaptan 2t/Ha.
Panen perdana ini dihasilkan Lumbu Hijau sebanyak 14,0 ton, Sangga Sembalun 15,4 ton dan Tinombo 14,7 ton.
Khusus varietas Tinombo, jenis ini merupakan varietas lokal Sulawesi Tengah yang telah dikembangkan di Dusun Tompeng, Desa Ogoalas, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Mautong.
Yang membuat varietas ini berbeda yakni aroma yang lebih menyengat daripada bawang putih varietas Lumbu Hijau dan Sangga Sembalun.
“Varietas Tinombo berasal dari Tinombo, Parigi, Sulteng dan dikembangkan ke Napu oleh petani yang berpengalaman dari NTB dan Jawa Barat. Daya adopsi teknologi mereka lebih cepat. Meskipun begitu akan tetap dilakukan pendampingan untuk pengawalan ini,” ujarnya.
Pada pertemuan yang dilangsungkan usai panen perdana, disebutkan bahwa kebutuhan bawang putih di Indonesia mencapai 500 ribu ton setiap tahunnya. Sayangnya petani baru mampu memenuhi sebanyak 88 ribu ton bawang putih setiap tahunnya. Itu artinya masih ada sebanyak 412 ribu ton yang terpaksa impor.
Pengembangan bawang putih di Lembah Napu nantinya diharapkan dapat mengurangi impor.
Di samping itu pemerintah juga berupaya untuk mengembangkan screen house sehingga tidak perlu mendatangkan bibit dari luar.
“Tujuannya disamping untuk kesejahtaraan petani, sudah pasti harapannya mengurang impor,” kata Fery.
Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Agribisnis, Lutfi Halide membangun semangat petani di Lembah Napu khususnya di Desa Watumaeta yang menjadi daerah pertama uji adaptasi pengembangan bawang putih.
Pemerintah daerah tengah berupaya mengajukan kebutuhan bagi petani di daerah Napu yang sedang diusahakan yakni peralatan petani dan pasar.
Terkait dengan masalah pertanian, BPTP sudah menguji coba tiga varitas dan produktivitasnya cukup bagus. Sedangkan untuk pasar akan diupayakan, mengingat saat ini lebih banyak ongkos daripada produksi.
“Kalau Napu sudah masuk wilayah pengembangan holtikultura di Indonesia akan kita keroyok. Ibarat mesin masih dipanaskan dulu baru dijalankan. Soal varitas sudah ada kajian akademiknya. Kalau ada yang tanya sudah bisa kita jawab,” ucap Lutfi.
Salah satu Penyuluh di Desa Watumaeta, Nengah menuturkan pada pemerintah perlu melakukan uji coba kembali untuk benih terbaik yang cocok ditanam di daerah Napu.
Menurutnya, Lembah Napu di Kecamatan Lore Utara, Lore Timur, Lore Tengah dan Lore Piore merupakan sentral holtikultura. Sayangnya yang menjadi kendala petani saat ini yakni, akses jalan dan pemasaran hasil produksi pertanian.
Sebanyak 10 persen hasil pertanian di Napu terbuang karena petani bingung pasarkan hasil panennya.
“Penyuluh siap melaksanakan program pemerintah dalam mensejahterakan petani, namun pemerintah perlu memperhatikan akses dan pasar,” katanya.
