kumparan
12 Sep 2019 13:16 WIB

Bertemu Penyintas Bencana Palu: Ada yang Stroke hingga Hamil 6 Bulan

Pasangan suami-istri penyintas Bencana Palu, Tomi (65) dan Yati (48), masih bertahan di tenda pengungsian bantuan Turki di Shelter Balaroa, Kota Palu. Foto: PaluPoso
Nasib pasangan suami-istri penyintas Bencana Palu, Tomi (65) dan Yati (48), masih belum banyak membaik, meski bencana itu sudah nyaris setahun berlalu. Mereka adalah korban bencana likuefaksi di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, 28 September 2018.
ADVERTISEMENT
Rumah dan harta benda mereka yang berada di Jalan Aliander, Kompleks Perumnas Balaroa, lenyap ditelan bumi akibat likuefaksi. Kini, mereka dan anak mereka memulai hidup kembali dari nol.
Tomi, yang dulunya pedagang ayam, tidak dapat lagi mencari nafkah karena sakit stroke. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Yati terpaksa bekerja untuk menggantikan peran suaminya mencari nafkah.
"Saya harus berjalan menjajakan kue di sekolah-sekolah karena suamiku menderita stroke," kata Yati ditemui di tenda pengungsiannya, Kamis (12/9).
Yati mengaku, penghasilan dari berjualan kue tak seberapa, per harinya hanya berkisar Rp 10.000 karena jajanan tersebut merupakan titipan dari keluarganya. Keuntungan yang dia peroleh berdasarkan jumlah kue yang laku terjual.
"Saya berjualan kue tidak setiap hari karena tidak tiap hari keluarga saya membuat jajanan. Penghasilannya (jual kue) tidak menentu, hanya berkisar Rp 10.000 per hari. Itu pun jika ada kue yang akan dijual. Bila belum jualan, saya hanya mengurus keluarga saya saja di tenda pengungsian," katanya.
Suasana terkini di lokasi pengungsian korban bencana likuefaksi Balaroa, Palu, Kamis (12/9). Foto: PaluPoso
Di balik tekanan ekonomi yang harus ditanggungnya sebagai tulang punggung keluarga, Yati masih bisa bersyukur karena anak semata wayangnya, yang kini duduk di kelas IV SD Balaroa, bisa memahami keadaan.
ADVERTISEMENT
"Alhamdulilah, anak saya Rafli Azhari bisa mengerti dengan keadaan ekonomi kami. Rafli selama hidup di tenda pengungsian, tidak pernah minta uang jajan sepersen pun. Dia pergi ke sekolah hanya bekal seadanya saja," ujarnya lirih.
Hampir setahun hidup dalam tenda pengungsian, Yati mengaku memetik hikmah dari kondisi yang dialaminya saat ini. Ia lebih memahami arti dari kesabaran di balik impitan ekonomi. Karena jika mereka mengontrak rumah, mereka tidak mempunyai biaya.
"Semuanya disyukuri saja. Mau ke mana lagi? Jangankan biaya untuk ngontrak rumah, uang dari hasil jualan kue saja tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Lagi pula kami tidak dibebankan bayar listrik. Meskipun panasnya hidup di tenda, tapi kami sudah terbiasa merasakannya," katanya.
ADVERTISEMENT
Untuk kebutuhan air bersih, Yati mengaku harus bangun pagi untuk mengambil air dari musala yang berjarak kurang lebih 50 meter dari tenda pengungsiannya. Sebab, tandon air yang disediakan tidak berfungsi lagi alias kosong.
Ratih (28), seorang penyintas Bencana Palu yang masih bertahan di tenda pengungsian. Ia berharap segera mendapatkan bantuan huntap dari pemerintah. Foto: PaluPoso
Di tenda pengungsian lainnya, yakni di Shelter Kelurahan Balaroa, PaluPoso menyambangi salah seorang penyintas bencana alam lainnya, Ratih (28). Wanita yang kini hamil enam bulan tersebut, memiliki dua orang anak yang masih duduk di sekolah dasar.
Sebelumnya, Ratih bersama keluarganya tinggal di Jalan Seruni, Kompleks Perumnas Balaroa. Suami Ratih bekerja sebagai kuli harian, sehingga ia sangat berharap ke depannya bisa memiliki hunian sendiri.
"Saya ingin memiliki rumah sendiri lagi meskipun hanya hunian tetap saja. Saya berharap kepada pemerintah agar memperhatikan nasib kami pengungsi di shelter ini," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Ratih mengatakan, sebenarnya ada bantuan logistik dari pemerintah dan Non Goverment Organization (NGO), tidak tetapi sifatnya tak berkesinambungan, hanya diberikan saat sesudah beberapa bulan mereka menetap di shelter pengungsian. Namun ia tetap bersyukur.
Suplai air bersih di shelter Balaroa sedikitnya bisa mencukupi kebutuhan harian mereka, meskipun telah ada pipa saluran air dari sumber terdekat yang mengalir ke tandon yang telah disediakan.
Lurah Balaroa, Rahmansyah, dikonfirmasi melalui telepon selulernya menjelaskan bahwa penghuni yang masih berada di tenda pengungsian di shelter Kelurahan Balaroa berjumlah 221 Kepala Keluarga.
"Sekitar 200 lebih telah direlokasi ke beberapa huntara yang ada di Kota Palu," kata Rahmansyah.
Lokasi pengungsian korban Bencana Sulteng. Foto: Dok. Palu Poso
Menjawab pertanyaan ketersedian air di shelter tersebut, Rahmansyah mengaku pihaknya tetap melakukan upaya pemerataan air.
ADVERTISEMENT
"Memang di lokasi tersebut tidak ada sumber mata air. Kami sudah mengupayakan melakukan sambungan pipa dari Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi. Namun karena musim kemarau. Debit airnya mengalami penurunan drastis," ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Shelter Kelurahan Balaroa, Abas, belum memberikan keterangan yang pasti kepada PaluPoso. Saat disambangi di rumahnya yang berada di seputaran lokasi shelter Balaroa, Abas tidak berada di tempat.
Ketika dikonfirmasi melalui telepon mengenai jumlah kepala keluarga serta total penghuni shelter saat ini, termasuk permasalahan kebutuhan air bersih, Abas tak banyak beri keterangan.
"Saya belum bisa menjawab, Pak. Karena saya dengar dari ketua blok, bahwa masih ada lagi warga yang keluar dari tenda ke huntara. Jadi saya belum tau berapa KK lagi yang ada di tenda pengungsian," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Tim PaluPoso
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·