Berziarah ke Makam Guru Tua, Tokoh Penyebar Agama Islam di Sulteng

Selain bersilaturahmi ke rumah sanak saudara, momen Lebaran Idul Fitri juga kerap diisi dengan berziarah ke kuburan kerabat atau keluarga yang sudah meninggal. Bahkan, tak jarang pula ada yang menyempatkan diri berziarah ke makam para alim ulama.
Mereka berziarah dengan berbagai niat, tujuan, dan maksud tertentu. Salah satunya adalah Ema (46), warga Desa Tuva, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Selain berziarah ke makam orang tua dan sebagian keluarganya di Kota Palu, Ema menyempatkan diri berziarah ke makam Al-Habib Idrus bin Salim Al-Jufri di Masjid Alkhairaat di Jalan Sis Aljufri, Kelurahan Kamonji, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Jumat (7/6).
Biasanya, makam ulama yang juga dikenal dengan sebutan Guru Tua ini akan semakin ramai didatangi peziarah pada momen peringatan hari wafatnya (haul). Tahun 2019 akan menjadi Haul Guru Tua yang ke-51.
Habib Idrus atau Guru Tua meninggal di Palu pada 22 Desember 1969, saat berusia 77 tahun. Akan tetapi, rencananya tahun ini haul dirinya akan dilaksanakan pada 15 Juni mendatang.
Ulama yang juga dikenal dengan nama Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri ini lahir di Taris, Hadramaut, Yaman, pada 15 Maret 1892. Ia dikenal sebagai salah satu ulama karismatik.
Guru Tua dikenal sebagai tokoh ulama yang berjasa menyebarkan agama Islam di Sulawesi Tengah. Ia juga pendiri lembaga pendidikan Islam Alkhairaat sebagai salah satu sumbangsih nyatanya dalam berdakwah. Alkhairaat didirikan pada tahun 1930, tahun pertama Guru Tua datang ke Palu--yang saat itu masih bernama Celebes di bawah masa pemerintahan kolonial Belanda.
Kembali ke soal kegiatan berziarah ke makam beliau. Lantas, apa yang membuat Ema tertarik berziarah ke makam Guru Tua?
Ceritanya, pada tahun 2003-2006, Ema mengalami sakit lumpuh. Semua persendiannya lemah tak berdaya hingga hanya sanggup berbaring di tempat tidur.
Berbagai usaha untuk sembut telah ia tempuh, mencoba berbagai pengobatan medis hingga mendatangi orang 'pintar'. Namun, semua hasilnya nihil, Ema tak kunjung sembuh.
Akhirnya, berbekal tekad dan harapan untuk sembuh, Ema bernazar (berjanji) bahwa jika dirinya sembuh, dia akan berziarah ke makam Habib Idrus alias Guru Tua. Nazar itu disaksikan oleh sanak keluarga dan suaminya, Taha.
Tujuh hari usai mengucapkan nazar tersebut, Ema lalu mulai dapat berdiri dan berjalan, meski masih tertatih-tatih.
"Tidak lama dari bernazar itu, saya sudah dapat berjalan," katanya saat ditemui Palu Poso di pemakaman tersebut, Jumat (7/6).
Makanya, kedatangannya ke makam Guru Tua adalah sekadar untuk menunaikan nazarnya. Ema turut serta mengajak buah hatinya, Adam (7). Ema mengaku baru sempat menunaikan nazarnya pada tahun 2019, karena pada tahun-tahun sebelumnya tidak sempat, meski menginjakkan kaki di Kota Palu.
Selain itu, Ema juga sering bermimpi berjumpa dengan seseorang, yang menurutnya, berpenampilan seperti wali, kadang terlihat tua, kadang terlihat muda, di dalam masjid. Ema tidak tahu siapa orang tersebut. Biasanya, mimpi itu hadir pada malam Jumat.
Ema berpikir itu adalah sebuah tanda pengingat bahwa ia harus segera menunaikan nazarnya. Saat berziarah itu, Ema berdoa di dekat makam Guru Tua, memohon kepada Allah Swt. agar diberi kesehatan dan kelimpahan rezeki yang berkah dan dijauhkan dari segala bencana.
"Tunai sudah janji, saya sudah datang ke makam Habib Idrus," ujarnya.
Kontributor: Ikram
