Konten Media Partner

Budidaya Akuaponik Solusi di Tengah Pandemi COVID-19

Palu Posoverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Budidaya Akuaponik di Desa Siavu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Foto: Intan Hamid
zoom-in-whitePerbesar
Budidaya Akuaponik di Desa Siavu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Foto: Intan Hamid

Rukiyani (62), warga Desa Siavu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tak bisa menyembunyikan keceriaannya saat menceritakan pengalamannya bisa menjual ikan lele berkat budidaya akuaponik di halaman rumahnya.

Sekitar lima bulan lalu, Rukiyani memulai budidaya akuaponik. Tepatnya di bulan Desember. Di saat pandemi COVID-19 mulai merebak di Wuhan, China, dan belum memasuki Indonesia.

Budidaya itu awalnya diperkenalkan oleh anaknya Syahril, yang kebetulan dosen pengajar di Program Studi Perikanan, Fakultas Peternakan dan Perikanan (Fapetkan), Universitas Tadulako (Untad).

Dengan dibantu Syahril, Rukiyani membangun tempat budidaya akuaponik. Total biaya yang dihabiskan sekitar Rp 500 ribu. Jumlah itu untuk pembelian bahan-bahan baku pembuatan tempat budidaya ikan dan sayuran, seperti pipa, lem, kayu, gabus dan terpal.

Terpal dan kayu gunanya sebagai tempat budidaya ikan lele dan sisanya untuk kebutuhan budidaya sayuran. Namun supaya lebih berhemat, Rukiyani memanfaatkan barang bekas seperti botol plastik air mineral untuk tempat menanam sayuran.

"Setiap tiga minggu kami panen sayuran. Dan itu akan kami bagikan ke tetangga. Kalau ikan lele sudah berapa kali panen dan terjual hampir 6o kilo," kata Rukiyani saat ditemui, Minggu (7/6).

Rukiyani, pembudidaya akuaponik di Desa Siavu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Foto: Intan Hamid

Saat memutuskan budidaya akuaponik, Rukiyani memilih ikan lele dibanding ikan nila sebagai pendamping sayuran nanti. Alasannya, ikan lele dalam pemeliharaannya tidak serumit ikan nila yang membutuhkan oksigen lebih banyak di dalam kolam.

Ikan lele cenderung dapat bertahan hidup dalam kolam yang tingkat oksigennya rendah dengan tidak mengabaikan pengontrolan kualitas air agar amonia tidak menumpuk di dasar kolam. Amonia adalah salah satu limbah yang berasal dari metabolisme ikan yang terlarut dalam air berupa feses dan sisa makanan yang tidak termakan dan mengendap di dasar kolam budidaya.

Dijelaskan Syahril, dalam sistem budidaya akuaponik amonia berfungsi sebagai pupuk untuk pertumbuhan sayuran. Selebihnya, sayuran yang tumbuh dengan pupuk amonia ikan lele, berfungsi sebagai filter amonia melalui akar. Sehingga kandungan amonia dalam air kolam bisa lebih berkurang dan ikan bisa mendapatkan oksigen.

Beberapa sayuran hasil akuaponik milik Syahril dan Rukiyani yakni, kangkung air (Ipomoea aquatica), sawi (Brassica Juncea L) dan selada atau daun sla (Lactuca Satira). Semuanya dipastikan aman dikonsumsi karena pertumbuhannya menggunakan pupuk alami.

"Jumlah tanaman sebenarnya menjadi alasan amonia dapat berkurang di kolam. Tapi sayuran yang tumbuh di tempat saya masih jauh lebih sedikit dari jumlah lele," ujar Syaril.

Syaril saat memanen ikan hasil budidaya dari akuaponik di Desa Siavu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Foto: Intan Hamid

Namun hal itu tidak mengapa, lantaran ikan lele termaksud golongan ikan yang mudah dirawat. Supaya mengurangi zat amonia-nya, Syahril akan menguras bak penampungan ikan lele dalam seminggu.

Hal itu cukup berbeda dengan ikan nila yang butuh aerasi (oksigen). Lama waktu pemeliharaan ikan lele tiga bulan setelah itu ikan lele bisa dipanen.

Riska Emelia Sartika, Eko Efendi dan Suparmono dalam Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan dengan judul penelitian 'Efektifitas Sistem Akuaponik dalam Mereduksi Konsentrasi Amonia pada Sistem Budidaya Ikan' mengungkapkan, dibutuhkan 30 tanaman kangkung air agar amonia dalam kolam ikan bisa tersaring dengan baik dan aman untuk ikan-ikan yang hidup di dalamnya.

Dalam sistem budidaya akuaponik nantinya akan ada keterkaitan antara sayur yang hidup di atas permukaan air dengan ikan lele yang ada di bawahnya. Sehingga ada kalanya dibutuhkan pompa air untuk mengatur sirkulasi air yang berasal dari kolam ikan menuju tanaman sayuran. Namun bila kondisi itu tidak memungkinkan, misalnya biaya yang kurang, atau penyediaan listrik kurang memadai, budidaya ini bisa tetap dilakukan sekalipun di tengah keterbatasan. Seperti yang terjadi di rumah Rukiyani ibu Syaril.

Di Desa Tiavu listrik sering padam, sehingga mau tidak mau metode yang dilakukan dengan sistem "guyurponik" atau menuangkan air kolam secara manual ke dalam pot-pot sayuran.

Budidaya ikan lele jadi pendapatan yang menjanjikan di wilayah itu. Setiap minggu ada-ada saja pembelinya. Kabar baiknya juga, budidaya itu diikuti warga setempat. Sehingga bisa membantu ekonomi warga.

"Saya sendiri yang mendorong agar warga di desa membuka usaha akuaponik. Kebetulan di desa saya belum ada yang tau budidaya ini maka saya memperkenalkan kepada mereka," katanya.

Menurut Syahril, budidaya akuaponik bisa hemat tempat serta bisa panen dua sekaligus yaitu ikan dan sayuran. Budidaya ini sangat cocok diterapkan di daerah perkotaan yang minim lahan.

Budidaya akuaponik di Desa Siavu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Foto: Intan Hamid

Aquaponik Solusi Lumbung Pangan

Akademisi Prodi Perikanan, Fapetkan Untad, Dr. Fadly Y. Tantu menganggap budidaya akuponik sangat tepat diterapkan saat ini sebagai mitigasi dampak pandemi COVID-19, dalam hal ini untuk membantu meringankan beban ekonomi masyarakat khususnya memenuhi kebutuhan konsumsi pangan rumah tangga.

"Apa yang dilakukan Ibu Rukiyani bisa menjadi contoh ketahanan pangan keluarga. Semacam lumbung pangan keluarga untuk kebutuhan protein, vitamin dan mineral. Sekaligus untuk peningkatan imunitas dan asupan gizi," ujar Fadly.

Teknologi akuaponik merupakan teknologi sederhana yang mengitegrasikan kegiatan akuakultur (produksi ikan) dengan hidroponik (produksi sayuran) dalam sistem produksi. Teknologi ini murah dan mudah diaplikasikan di halaman rumah.

Fungsi lain dari akuaponik menjadi sumber ekonomi. Sehingga akuaponik dapat memiliki dua peran, yakni sebagai ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi keluarga.

"Saat ini saya sedang mempersiapkan akuaponik di rumah saya. Mudah-mudahan bulan ini sudah jadi," ujar Fadly.