Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Cara Pasutri di Huntara Memenuhi Kebutuhan Seks, Sampai Harus ke Hutan

Salah satu lokasi huntara di Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Foto: Dok. PaluPoso/Firman

Cuaca cerah di Sabtu pagi (13/4) mengiringi perjalanan tim PaluPoso menuju sebuah lokasi hunian sementara (huntara) yang berada kurang lebih berjarak 50 kilometer dari arah utara Kota Palu. Tepatnya di Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Dari jalan poros arah Palu-Lero, wartawan PaluPoso harus memintas rute belok kanan melalui rute jalan yang cukup ekstrem, bergelombang, berbatu, dan belum diaspal. Jarak kurang lebih satu kilometer harus ditempuh untuk bisa tiba di huntara yang akan dituju.

Tiba di lokasi shelter huntara, suasana tampak agak lengang dan sepi. Sebab, sebagian besar penghuni masih sibuk beraktivitas. Salah seorang warga yang berhasil wartawan PaluPoso temui hari itu bernama Hasrudin (40). Pria dengan senyum ramah itu mengaku, baru kali itu, ada jurnalis yang mampir ke tempat mereka.

Suami dari Asniar (38) itu kini tinggal bersama enam orang anaknya dalam satu bilik berukuran 4x5. Ia kemudian mengisahkan suka duka kehidupan mereka di dalam huntara.

Menurut pengakuannya, rumah mereka yang berada di seputaran pesisir Pantai Desa Lero telah hilang disapu gelombang tsunami yang menerjang pada 28 September 2018. Hasrudin sebelumnya merupakan nelayan, tetapi kini harus 'banting stir' menjadi pedagang ikan keliling, usai perahu dan perlengkapan melautnya juga lenyap disapu tsunami.

"Untuk menghidupi enam orang anak, saya harus berdagang ikan, meskipun itu jauh dari pekerjaan saya sebelumnya. Dengan satu unit motor cicilan terpaksa harus dilalui demi keluarga," katanya, Sabtu (13/4).

Menjawab pertanyaan terkait pemenuhan kebutuhan biologis selama tinggal di huntara, Hasrudin, dengan agak tersipu, mengaku agak kesulitan memenuhi hasrat biologisnya selama di huntara. Meskipun lantai yang mereka tempati tidak berbentuk panggung, tetapi keberadaan enam orang anaknya membuat penyaluran kebutuhan biologisnya itu kadang harus tertunda.

Menyiasati hal itu, Hasrudin harus menetapkan pola waktu yang tepat dan trik tertentu untuk memenuhi kebutuhan biologisnya bersama sang istri.

"Biasanya pada pagi hari kami melakukannya (hubungan suami istri) di saat anak-anak telah berangkat ke sekolah. Namun kalau malam harinya, biasanya menunggu anak-anak telah tertidur pulas. Begitulah sudah, kami hidup di huntara ini semuanya serba terbatas, tinggal pintar-pintarnya saja untuk mengakalinya," jelasnya.

Lokasi pengambilan air bagi warga korban bencana yang tinggal di lokasi huntara Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Foto: Dok. PaluPoso/Firman

Lain lagi dengan trik yang dilakukan oleh pasangan suami istri lainnya di huntara Desa Lero. Anhar (42), misalnya, pria yang bekerja serabutan sebagai kuli bangunan ini menuturkan, jika hasratnya untuk melakukan hubungan suami istri sudah tidak dapat terbendung lagi, dia mengaku terpaksa mengajak istrinya untuk mencari lokasi yang tepat dan aman di tengah hutan.

Maklum, anak mereka ada tiga dan cukup lama untuk menunggu mereka tidur, karena ketiganya memiliki hobi menonton siaran televisi. Ditambah lagi, lokasi huntara mereka berada jauh dari permukiman dan masuk ke dalam belukar.

"Ya gitulah, apa boleh buat, daripada nunggu anak-anak lama ketiduran, terpaksalah cari tempat yang sunyi di tengah hutan," ujarnya sambil tertawa, Sabtu (13/4).

Masalah Keterbatasan Air dan Kebutuhan Listrik

Setelah menyusuri bilik lainnya dan mengobrol menggunakan bahasa daerah setempat dengan beberapa warga, wartawan PaluPoso akhirnya diperkenankan untuk memasuki salah satu huntara. Hawa panas menyeruak dari dalam bilik tersebut, Sabtu siang (13/4).

Gerah bercampur pengap akibat kurangnya ventilasi serta tumpukan barang membuat ruangan tersebut semakin sempit dan tak nyaman dihuni. Tidak terasa, bulir-bulir keringat menetes membasahi baju.

Nur Aliya (39) menjelaskan bahwa huntara tersebut dihuni oleh 25 kepala keluarga dengan total 150 jiwa. Jumlah WC yang tersedia di huntara ada 6 ùnit. Namun, bila hendak buang hajat, warga harus mengambil air sendiri menggunakan ember sejauh 100 meter. Sebab, tidak ada pipa air maupun tandon di tempat itu.

Begitu dengan kebutuhan mandi maupun mencuci, warga juga harus berjalan sejauh 1.000 meter lebih untuk menjangkaunya. Untuk kebutuhan air minum, janda 2 anak ini mengaku harus memasaknya terlebih dahulu, dengan cara mengambil air dari sumur suntik yang ditampung di beberapa unit tandon.

Kebutuhan listrik warga di huntara, kata Nur Aliya, masih dapat terpenuhi, meskipun harus membayar iuran Rp 6.000 per bulannya. Namun hal itu, telah disepakati dalam pertemuan dan disetujui oleh penghuni huntara.

"Bantuan logistik sudah tiga bulan terakhir ini tidak ada lagi datang. Terpaksa saya bantu-bantu ibu bercocok tanam dan memasarkannya untuk menghidupi dua orang anak saya. Begitulah pak, hidup harus dijalani," ujarnya lirih.

Penulis: Firman (Kontributor)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.36