Konten Media Partner

Dampak Corona, Pasar Tradisional di Palu, Sulawesi Tengah, Sepi Pembeli

Palu Posoverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pasar tradisional Inpres Manonda Palu, Rabu (1/4). Foto: Dok. PaluPoso
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pasar tradisional Inpres Manonda Palu, Rabu (1/4). Foto: Dok. PaluPoso

Sejak diberlakukannya imbauan untuk tidak berada di tempat-tempat keramaian, pasar tradisional di Kota Palu, Sulawesi Tengah, cenderung sepi.

Pantauan PaluPoso pagi hingga siang ini, Rabu (1/4), Pasar Tradisional Manonda, Kecamatan Palu Barat, tidak seperti biasanya. Aktivitas jual beli yang ramai dan padat hampir tidak terlihat lagi. Kondisi ini menjadi keluhan pedagang di Pasar Tradisional Manonda.

Sejumlah pedagang mengeluh stok pedagang pun menumpuk. “Stok menumpuk. Kalau biasanya dua hari barang sudah laku sekarang tidak lagi karena pembeli sepi,” kata seorang pedagang sayuran, Yati (51).

Pedagang lain, Irman (46) mengungkapkan hal yang sama. Irman mengeluhkan sepinya pembeli sejak Kota Palu diumumkan ada yang positif virus corona.

"Malamnya diumumkan ada yang positif, besoknya pembeli hanya dua tiga orang. Sepi sekali,” kata Irman.

Menurutnya, pemerintah harus memberikan solusi agar pendapatan pedagang tetap normal. “Kami juga kalau tidak jualan mau dapat penghasilan dari mana,” ujarnya.

Tidak hanya berdampak pada sepinya pembeli di pasar tradisional, harga sembako dan kebutuhan pokok ikut merangkak naik.

Yang paling berdampak adalah harga gula pasir dan besar. Satu kilogram gula pasir dijual dengan harga Rp 20.000 dari sebelumnya dijual dengan harga Rp 18.000 per kilogram dan HET gula pasir Rp 12.500 per kilogram. Harga gula terus merangkak naik sejak beberapa bulan terakhir.

Sementara harga beras juga bergerak naik, dari Rp 10.000 per kilogram menjadi Rp 12.000 per kilogram.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Palu, Syamsul Saifudin, mengatakan imbauan untuk mengurangi berada di tempat-tempat ramai diperpanjang.

Imbauan ini kata Syamsul untuk kepentingan bersama sehingga diharapkan dapat diikuti oleh masyarakat.

“Termasuk berada di pasar. Kita berharap agar semua ini cepat berlalu,” katanya.

Syamsul menjelaskan kenaikan gula pasir memang secara nasional. Dari pabrik harga gula dijual Rp 15.000 per kilogram. “Kebutuhan pokok lainnya memang naik tetapi tidak semua kebutuhan pokok dan stoknya juga masih cukup,” katanya.

Untuk mengantisipasi kenaikan kebutuhan pokok, Dinas Perdagangan dan Perindustrian melakukan pemantauan sejak Selasa (31/3) di sejumlah pasar tradisional.

"Kami dan pak Wali Kota juga sedang mengatur untuk pedagang ini tetap berpenghasilan meskipun keadaan seperti ini,” ujarnya