Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Derita Anak Korban Gempa Palu, Terpaksa Minum Air Gula Pengganti Susu

Ibu Asnida sedang mengayun anaknya di tenda pengungsian lokasi Lapangan Golf Palu Jalan Martadinata, Kelurahan Talise Kecamatan Mantikulore Kota Palu, Kamis (21/3). Foto: PaluPoso/Andi Lena

Bertahan lima bulan di tenda-tenda pengungsian membuat penyintas korban bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi di Kota Palu, Sulawesi Tengah, khususnya balita semakin menderita. Orang tua yang sudah kehilangan pekerjaan tidak bisa lagi memberi susu dan makanan yang dapat menunjang asupan gizi anak-anak mereka.

Novia, bocah berusia 1 tahun 10 bulan sudah lebih dari tiga bulan tak lagi bisa minum susu seperti anak seusianya untuk menunjang pertumbuhannya. Asnida (41), ibu dari Novia menuturkan bantuan susu balita dari pemerintah dan relawan hanya diberikan selama 2 bulan pascabencana 28 September 2018.

"Pada awal mengungsi sebulan dua bulan anak yang saat ini mengalami kelemahan tubuh dan tidak bisa berdiri lama pascabencana 28 September 2018 lalu masih mendapat bantuan susu balita dari pemerintah maupun dan relawan," ujar Asnida saat ditemui di tenda pengungsian di kawasan lapangan Golf Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kamis (21/3).

Seiring berjalannya waktu, bantuan susu hingga saat ini tak lagi kunjung datang. Asnida kini tidak lagi memiliki pendapatan setelah usaha kiosnya habis diterjang tsunami bersama rumahnya di Jalan Kampung Nelayan.

“Mau bagaimana lagi, tidak ada pekerjaan ya tidak ada uang. Terpaksa anak saya yang paling kecil ini tinggal diberi teh manis, air gula, kalau gula tidak ada terpaksa diberi air mineral biasa saja,” katanya.

Ibu berjilbab yang sedang mengayun anaknya yang tertidur di dalam tenda itu berharap kepada pemerintah agar memberikan bantuan berupa modal kerja. Supaya bisa lagi berjualan kecil-kecilan dan dapat membeli susu dan makanan untuk anak-anaknya. Saat ini suaminya juga belum mendapat pekerjaan. “Suami sementara ini cari-cari apa yang bisa dijual, seperti mengumpulkan besi tua untuk tambah-tambah beli bahan makanan,” katanya.

Dia juga mengaku tidak bisa terlalu berharap seluruhnya akan dibantu pemerintah, tapi paling tidak pemerintah bisa meringankan beban mereka di pengungsian dengan memberi berupa modal kerja atau lapangan kerja. “Tidak tahu mau minta bantuan ke mana lagi, kalau bukan ke pemerintah,” harapnya.

Ibu empat anak ini juga mengaku prihatin dengan kondisi anak bungsunya, Novia, yang kondisinya begitu memprihatinkan. Sebelum terjadi bencana gempa, anaknya masih kuat berdiri lama, sejak pascagempa dan tinggal di tenda pengungsian kakinya menjadi lemah dan tidak bisa berdiri terlalu lama. “Kalau menurut dokter yang pernah periksa anak saya, ada gejala gizi buruk,” ungkapnya.

Beberapa penyintas korban tsunami di Jalan Kampung Nelayan yang berada di tenda pengungsian kompleks lapangan golf Palu Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, sedang berbincang-bincang. Foto: PaluPoso/Andi Lena

Asnida mengatakan sebelumnya Puskesmas Talise rutin memberi makanan asupan gizi, seperti bubur dan lauknya. Namun, sudah sebulan tidak ada lagi bantuan makanan asupan gizi balita yang datang. “Sebelum-sebelumnya dari puskemas yang paling sering membantu, baik bantuan asupan gizi balita juga rutin memeriksa kesehatan pengungsi di tenda-tenda ini. Tapi hampir sebulan ini belum ada lagi datang memeriksa,” tuturnya.

Pengungsi lainnya, Ical (39), berharap secepatnya bisa dipindahkan ke hunian sementara (Huntara), karena dia juga khawatir dengan kesehatan anaknya yang baru berusia 1 tahun lebih dan istrinya yang sedang mengandung. “Sudah mau setengah tahun kami bertahan di tenda-tenda ini. Tapi belum juga kepastian kapan kami akan dipindahkan ke Huntara. Dari pemerintah kelurahan juga belum bisa memastikan kami akan mendapatkankan Huntara atau tidak,” ujarnya.

Ical juga berharap apabila pemerintah memiliki pasokan susu balita bisa disalurkan ke pengungsi yang memiliki balita, karena banyak balita di pengungsian tidak lagi bisa minum susu. “Pokoknya anak-anak kecil di tenda-tenda sini sekarang kalau tidak minum teh manis yah air gula saja yang penting ada rasa manisnya. Ada istilah kami di sini dari susu kotak berganti menjadi teh manis dan air gula. Lama-lama tinggal air putih dikasih anak-anak,” ujarnya berkelakar.

Hingga saat ini jumlah pengungsi yang bertahan di tenda-tenda pengungsian di lapangan Golf tercatat 18 kepala keluarga dan semua merupakan penyintas korban tsunami yang sebelumnya bermukim di sepanjang Jalan Kampung Nelayan, Teluk Palu.

Penulis: Andi Lena

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.36