Konten Media Partner

Jembatan Yondo mPamona, Simbol Persatuan dan Gotong Royong di Poso

Palu Posoverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jembatan Yondo mPamona di Kota Tentena, Poso setelah dilakukan renovasi penuh. Jembatan ini dianggap sebagai simbol persatuan karena proses pembangunannya yang dikerjakan masyarakat secara gotong royong pada abad ke 20. Foto: Tim PaluPoso
zoom-in-whitePerbesar
Jembatan Yondo mPamona di Kota Tentena, Poso setelah dilakukan renovasi penuh. Jembatan ini dianggap sebagai simbol persatuan karena proses pembangunannya yang dikerjakan masyarakat secara gotong royong pada abad ke 20. Foto: Tim PaluPoso

Danau Poso merupakan satu dari 10 danau purba di Indonesia dan menjadi kebanggaan masyarakat karena dianggap memberikan kehidupan untuk masyarakat sejak dulu hingga sekarang.

Masyarakat yang tinggal di sekitar Danau Poso memiliki ragam budaya serta tradisi turun-temurun dan kemudian menjadi kehidupan yang bernilai dan dipertahankan hingga sekarang.

Sayangnya pembangunan mulai mengikis budaya dan tradisi yang dianggap sebagai nilai sejarah persatuan dan kesatuan masyarakat di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, khususnya masyarakat yang menggantungkan kehidupannya di Danau Poso.

“Bukan menolak pembangunan tetapi pentingkan nilai-nilai sejarah yang dipercaya masyarakat dan dianggap bernilai untuk kesejahteraan dan persatuan kami,” kata Ketua Dewan Adat Kelurahan Pamona Kristian Bontinge kepada media ini, Kamis (22/9).

Salah satu bangunan yang dianggap sebagai sejarah dan memiliki nilai budaya yakni jembatan Yondo mPamona.

“Bagi kami jembatan Yondo mPamona adalah monumen lambang gotong royong masyarakat karena proses pembangunannya yang bernilai budaya,” ujarnya.

Yondo mPamona merupakan jembatan di sungai Poso, Kota Tentena yang dibangun sekitar abad ke-20 oleh masyarakat Poso dan dilakukan secara gotong royong.

Jembatan itu dibangun dengan menggunakan kayu Kulahi sebagai tiang-tiangnya, kemudian gelagarnya yang tersusun berasal dari kayu pohon kacang hutan, sementara lantai dan relnya dari lembaran papan kayu.

Sejumlah Jurnalis Palu tengah melintas di Jembatan Yondo mPamona di Kota Tentena, Poso. Jembatan ini dianggap sebagai simbol persatuan karena proses pembangunannya yang dikerjakan masyarakat secara gotong royong pada abad ke 20. Foto: Tim PaluPoso

“Masing-masing mereka membawa kayu dan bambu dan mulai membangun jembatan secara gotong royong dengan pengetahuan orang tua dulu yang sangat terbatas,” cerita Kristian.

Kata Kristian, era tiga puluhan tiang-tiang dan lantai jembatan diperbaharui dan diberi atap, pengerjaannya juga masih dilakukan secara gotong royong. Kemudian tahun 1966 jembatan tersebut direnovasi pertama kali, di mana bahan yang dari bambu diganti dengan kayu dan atap rumbia diganti seng.

“Setiap kali memperbaharui atau merenovasi, pengerjaan jembatan Yondo mPamona selalu dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat,” tuturnya.

Menurut Kristian, jembatan Yondo mPamona bukan hanya sebagai penyeberangan namun juga bermakna lambang persatuan dan gotong royong yang tergambar dari setiap proses pembangunannya.

Kristian mengaku bangga dan agungkan jembatan Yondo mPamona karena setiap kayu berdiri dan membentang, serta tali yang direntang lurus di sungai Poso itu bernilai persatuan dan gotong royong.

“Ketika masih dibuat dengan kayu maka kebersamaan dan gotong royong itu masih ada,” ucapnya.

Jembatan Yondo mPamona pertama kali dibongkar tahun 1983 dan dibangun kembali dengan bahan baku kayu Kulahi seluruhnya tanpa campuran. Tahun 1983 pun menjadi tahun peresmian jembatan tersebut.

Tahun 2019, jembatan Yondo mPamona kembali dibongkar dan menghilangkan ciri khas jembatan dengan mengganti material besi.

“Jujur kami sangat kecewa karena menghilangkan ciri khas jembatan itu. Dulu kalau mengajarkan anak soal gotong royong kami hanya akan menunjukkan jembatan Yondo mPamona, sekarang bentuk jembatan saja sudah berbeda,” sesal Kristian. *(LI)