Konten Media Partner

Kemenkumham Sulteng Bentuk Warga Binaan Jadi Agen Penyembuhan Napi Narkoba

Palu Posoverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kemenkumham Sulteng membentuk warga binaan jadi agen penyembuhan napi narkoba. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Kemenkumham Sulteng membentuk warga binaan jadi agen penyembuhan napi narkoba. Foto: Istimewa

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Sulawesi Tengah meminta seluruh lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) memaksimalkan program rehabilitasi sosial untuk warga binaan kasus penyalahgunaan narkotika.

“Jadi kita bukan hanya fokus pada masa hukuman yang ditetapkan untuk warga binaan itu tetapi bagaimana lapas dan rutan itu juga menjalankan fungsi lain yaitu membuat mereka yang candu menjadi sembuh,” kata Kakanwil Kemenkumham Sulawesi Tengah, Budi Argap Situngkir, Senin (21/3).

Budi mengatakan, sejak dijalankan pada tahun 2021 ada puluhan warga binaan yang telah selesai menjalani rehabilitasi. Warga binaan tersebut kemudian menjadi agen-agen penyembuhan untuk narapidana lainnya.

“Jalani enam-enam bulan dan saya minta program ini dimaksimalkan dengan baik sehingga banyak warga binaan yang juga terbantu dari bahaya narkoba,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Palu, Gamal Bardi menambahkan, saat ini Lapas Palu telah mengikutkan 50 warga binaan dalam program rehabilitasi sosial.

Sebelumnya pada tahun 2021, ada 30 warga binaan kasus penyalahgunaan narkotika yang ikut rehabilitasi dan sudah dinyatakan lulus.

“Kalau yang sudah lulus kami pindahkan ke blok percontohan dan mereka akan menjadi agen untuk membantu teman-teman mereka yang lain,” kata Gamal.

Saat ini pihak Lapas Palu belum bisa menambah jumlah warga binaan yang ada di rumah rehabilitasi narkoba karena keterbatasan anggaran.

Selain menerima materi bahaya narkoba dari Badan Nasional Narkotika (BNN), para warga binaan juga akan mendapat bimbingan keterampilan.

“Supaya ada kegiatan mereka, ada yang mereka hasilkan. Ada yang melukis, membuat aroma terapi dan membuat tanaman hias,” kata Gamal.

“Selain jalankan rehabilitasi, mereka juga akan digali potensinya sehingga fokus mereka bukan lagi di barang haram itu tetapi bagaimana setiap hari mereka bisa menghasilkan karya,” ujar Gamal.