Konten Media Partner

Kisah Daeng Ago, Pembuat Bingkai Foto asal Palu

Palu Posoverified-green

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Satu-satunya bingkai foto yang diciptakan Andang yang bermotif batik.Hasil Karya Andang yang dibuatnya dan kemudian di pasarkannya. Foto: Kristina Natalia/PaluPoso
zoom-in-whitePerbesar
Satu-satunya bingkai foto yang diciptakan Andang yang bermotif batik.Hasil Karya Andang yang dibuatnya dan kemudian di pasarkannya. Foto: Kristina Natalia/PaluPoso

Hasil karya satu ini terbilang sederhana namun unik. Sebuah bingkai foto yang dibuat dengan menggunakan barang-barang bekas. Kardus, sisa kain jahitan, dan sedotan minuman adalah bahan dasar pembuatan bingkai foto ini.

Jangan salah menilai sebelum melihat langsung proses pembuatannya. Bingkai yang bermotifkan batik ini tidak semua tangan bisa membuatnya. Iskandar Daeng Ago adalah seorang yang punya keahlian khusus untuk membuat bingkai foto ini.

Hasil karyanya ini pernah dibawa oleh Pemerintah Indonesia ke Singapura sebagai salah satu contoh hasil karya masyarakat Indonesia yang memanfaatkan barang-barang bekas menjadi berkualitas.

Bingkai foto yang diciptakan Andang yang bermotif batik.Hasil Karya Andang yang dibuatnya dan kemudian di pasarkannya. Foto: Kristina Natalia/PaluPoso

Pria yang akrab disapa Andang ini adalah penghasil bingkai foto satu-satunya yang ada di Sulawesi Tengah. Bingkai foto yang ia hasilkan bukan bingkai foto pada umumnya.

Bingkai yang ia buat adalah bingkai yang bermotifkan batik dan bobotnya jauh lebih ringan dari bingkai foto kayu yang dipasarkan.

Ide ini muncul pada tahun 2007, di mana Andang memulainya atas dasar hadiah untuk sang istri tercinta, Misnawati (43). Sebagai suami Andang ingin melihat foto sang istri terlihat lebih indah jika menggunakan bingkai foto. Sayangnya keterbatasan ekonomi membuat Andang tidak bisa memberikan bingkai untuk foto sang istri.

Bingkai foto yang diciptakan Andang yang bermotif batik.Hasil Karya Andang yang dibuatnya dan kemudian di pasarkannya. Foto: Kristina Natalia/PaluPoso

Pria berusia 49 itu akhirnya mulai membuat bingkai dari barang-barang bekas. Kertas koran, kardus, sisa kayu tripleks dan sisa kain jadi dasar pembuatan bingkai foto.

“Kebetulan saya bisa menjahit jadi banyak sisa kain yang bisa saya pakai untuk membuat bingkai foto untuk istri saya pada waktu itu,” cerita Andang.

Andang kemudian mulai menggulung-gulungkan kertas koran dengan rapi. Potongan kardus mulai ia satukan dan dibentuk dengan menggunakan sedotan minuman. Lem kemudian ia gunakan untuk merekat bahan-bahan itu. Yang membuat bingkai foto karya Andang semakin indah adalah kain yang bermotifkan batik dan berwarna warni.

Ketika Andang membuat bingkai foto dari bahan bekas. Foto: Kristina Natalia/PaluPoso

Cara kerja untuk menempelkan kain di rangka bingkai tidak mudah. Andang harus menyatukan garis-garis motif batik agar terlihat lebih rapi.

“Tidak asal tempel, yang sulit itu menyatukan motif agar tidak terputus motifnya dan terlihat lebih rapi, gambar juga terlihat lebih timbul dan seperti hidup,” ujarnya.

Andang yang juga bekerja sebagai tukang bangunan ini tidak menyangka bahwa hasil karyanya menarik perhatian dan disukai banyak orang. Karyanya yang terbilang unik dan sangat mencerminkan keanekaragaman budaya Indonesia ini banyak diminati masyarakat khususnya sekolah-sekolah yang ada di Kota Palu.

Ketika Andang membuat bingkai foto dari bahan bekas. Foto: Kristina Natalia/PaluPoso

Bahkan, hak cipta karya ini telah Andang kantongi sebagai hasil karya sendiri dan pernah mendapat bantuan usaha dari Bank BRI.

“Alhamdulillah, karya ini baru saya yang buat dan sampai sekarang saya punya langganan di beberapa sekolah di Kota Palu,” ujarnya.

Ayah satu anak ini memulai kehidupannya di Palu, menjadi seorang loper koran di salah satu media cetak pada 1999 silam.

Keahlian yang dimilikinya pun terus ia kembangkan. Beralamatkan di Jalan Asam 2 Nomor 37, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Andang membuat bingkai foto ini untuk menambah penghasilan.

Ketika Andang membuat bingkai foto dari bahan bekas. Foto: Kristina Natalia/PaluPoso

Namun sayang, keahlian ini belum bisa dibantu sang istri. Pasalnya, hingga sekarang sang istri belum tahu benar cara membuat bingkai ini sebagus hasil buatan Andang.

Beberapa kali Andang juga mengajarkan keluarganya untuk membuat bingkai foto bermotifkan batik ini, namun sayang tidak ada satupun yang bisa menyelesaikan satu bingkai pun.

“Pesanan dari langganan selama ini hanya saya yang kerjakan,” sebutnya.

Bingkai foto hasil Andang ini terbilang berkualitas jika dibandingkan dengan bingkai foto lainnya. Selain motifnya yang unik, bobotnya pun jauh lebih ringan. Bingkai foto ini pun tidak mudah rusak jika terjatuh sekalipun.

Andang saat memperlihatkan hasil karya bingkai foto yang bermotif batik. Foto: Kristina Natalia/PaluPoso

Tidak hanya itu harganya pun terbilang sangat terjangkau, Andang menjualnya dengan harga yang murah yakni berkisar dari Rp 15.000 dan yang termahal Rp 250.000 dengan ukuran besar.

Andang menjelaskan, pemilihan motif biasanya ia sesuaikan dengan foto yang akan dipajang, sertifikat, piagam maupun poster. Selain ukuran yang berbeda, motif dan warna pun Andang sesuaikan agar terlihat lebih indah.

Tidak hanya itu, bingkai ini pun lebih rapih dan seakan tidak terbuat dari barang-barang bekas. Andang mengatakan, bahwa bingkai yang ia buat juga mudah dibersihkan dan tahan lebih lama.

“Bingkai ini tidak mudah jatuh, kalau pun jatuh bingkai ini tidak ada rusak dan tidak mudah pecah, kecuali kacanya terbentur oleh benda keras lain,” ujarnya.