Larasakti dan Buah Stroberi

Hari ini kebun stroberi Salubay panen. Ratusan buah stroberi segar dipaking dalam sekotak mika berukuran sedang.
Ada sekitar 40 kotak mika stroberi yang sudah siap untuk dijual. Beragam ukuran pun ditawarkan untuk para pelanggan.
Giat ini rutin dilakukan Larasakti dan anak-anaknya setiap dua hari sekali. Penen stroberi banyak memberikan keuntungan bagi ibu rumah tangga berusia 49 ini.
Keluarganya menjadi satu-satunya petani buah stroberi yang ada di Sulteng saat ini. Kebunnya berlokasi di Jalan Trans Sulawesi, Kilometer 47, Kebun Kopi, Kabupaten Donggala.
Namanya adalah kebun stroberi Salubay. Dimulai pada tahun 2008 atau 12 tahun yang lalu. Larasakti mengakui memulai pekerjaan ini tidaklah mudah, sebab gagal sudah harus siap dihadapi.
“Namanya mau mulai ya pasti agak ragu-ragu. Yah, takut gagal dan rugi nanti,” kata Larasakti.
Ibu tiga anak ini mulai menjadi petani stroberi bersama suaminya dan dibantu oleh anak-anaknya. Kebunnya juga tidak begitu luas, tidak sampai 1 hektare. Namun, keberuntungan memihak kepada keluarga ini karena panennya berhasil.
“Kalau panen banyak itu bulan Juni dan Desember. Dapatnya sampai ratusan mika buah stroberi yang kami jual,” ujar Larasakti.
Wanita berdarah Jawa ini awalnya hanya coba-coba. Ia membeli bibit stroberi sebanyak 30 ribu pohon dari daerah Jawa.
Hasil panen pertama kala itu dijual dengan harga Rp 4.000 per satu mika berukuran sedang. Sekarang harganya sudah naik menjadi Rp 20 ribu per mika.
“Ukurannya macam-macam, kalau yang besar ya tidak banyak isinya dalam kemasan,” katanya.
Panen dua hari sekali membuahkan hasil baik. Tiga anak Larasakti bisa ia sekolahkan sampai ke tingkat perguruan tinggi. Ia juga kini mengembangkan kebun stroberi untuk wisata.
Pengunjung bisa masuk ke kebun stroberi dan makan sepuasnya. Sayangnya, sifat pohon stroberi yang sensitive jadi alasan pengunjung dibatasi hanya dua sampai tiga orang saja.
Hanya Rp 35.000 per orang, pengunjung sudah bisa berfoto di kebun stroberi, melihat proses penanaman pohon stroberi, sampai dengan menikmati langsung buah stroberi langsung dari pohonnya.
“Pernah buka wisata tapi sekarang setelah bencana gempa lalu kami tutup untuk sekarang. Mungkin nanti dibuka lagi dalam waktu dekat ini,” ujarnya.
Pemasaran buah stroberi Salubay ini lumayan banyak. Satu-satunya kebun stroberi di Sulawesi Tengah membuat hasil panen Larasakti selalu laku, habis terjual pasca petik.
Buah stroberi Salubay yang sudah dipaking, selanjutnya dikirim ke hotel-hotel, supermarket dan cafe terbesar di Kota Palu.
Buah-buah segar stroberi ini bertahan selama 24 jam tanpa pendingin dan akan bertahan selama 3 hari jika disimpan di lemari pendingin.
“Ini stroberi memang ukurannya sedang, jenis stroberi Belanda. Pernah coba stroberi jenis lain yang ukurannya besar tapi tidak subur karena ketinggiannya kurang,” ujarnya.
