Food & Travel
·
10 April 2021 20:46

Menaklukkan Gunung Malino dengan Membuka Jalur Baru

Konten ini diproduksi oleh Palu Poso
Menaklukkan Gunung Malino dengan Membuka Jalur Baru (432015)
Pendaki Gunung dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Sagarmatha, Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Untad) di Gunung Malino Tolitoli. Foto: Istimewa
Satu lagi prestasi yang diukir oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Sagarmatha, Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Untad), berhasil membuka jalur baru pada pendakian di Gunung Malino Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng).
ADVERTISEMENT
Pada pendakian Gunung Malino yang berlangsung mulai Kamis 25 Maret hingga 1 April 2021 itu, Mapala Sagarmatha dengan memberangkatkan 7 orang, berhasil mencapai puncak gunung yang memiliki ketinggian 2.396 mdpl itu melalui sisi barat, yakni melalui Desa Janja, Kecamatan Lampasio, Kabupaten Tolitoli.
Pencapaian pada kegiatan yang mengambil tema “Eksplorasi Buyule Malino 2021” dengan muatan utama pendakian dari sisi barat Gunung Malino tersebut, melengkapi prestasi sebelumnya, di mana Mapala Sagarmatha pada 2013 berhasil membuka jalur pendakian dari sisi timur.
Ketua Mapala Sagarmatha, Munawan, melalui keterangan tertulis yang diterima media ini, Sabtu (10/4), mengatakan kegiatan pendakian Gunung Malino dari sisi barat tersebut merupakan salah satu program kerja yang telah dipersiapkan sejak bulan Januari 2021. Tujuannya, membuka jalur pendakian dan mengumpulkan informasi terkait kearifan lokal.
ADVERTISEMENT
“Data yang dikumpulkan, seputar kearifan lokal masyarakat setempat, pengamatan vegetasi dan satwa, serta potensi lain yang terdapat di sekitar jalur pendakian,” kata Munawan.
Menaklukkan Gunung Malino dengan Membuka Jalur Baru (432016)
Ilustrasi pendaki gunung Foto: Thinkstock
Dari informasi dan data lapangan yang tim peroleh lanjutnya, maka ke depannya dapat menjadi acuan ataupun sebagai informasi tambahan bagi para pendaki yang ingin melakukan pendakian ke Gunung Malino.
“Di samping pengumpulan data kearifan lokal masyarakat setempat, tim juga mengumpulkan data-data sepanjang jalur pendakian, guna sebagai refensi di dalam pendakian,” jelasnya.
Tak hanya itu, menurut Munawan, kegiatan ekspedisi ini mendapat respon baik dari masyarakat setempat. Masyarakat menilai, jika kedepannya tempat tersebut banyak diminati para pendaki, maka tentu akan membangkitkan ekowisata desa tersebut.
“Pemerintah setempat, khususnya Desa Janja sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena pendaki bisa menggunakan jasa katinting (transportasi sungai) untuk memudahkan akses menuju shelter 1. Dengan menggunakan jasa ini, tentu akan menambah penghasilan masyarakat setempat,” ungkapanya
ADVERTISEMENT
Alif Hidayat selaku ketua Tim Pendakian Gunung dengan ketinggian 2.396 mdpl itu menuturkan, kegiatan membuka jalur sarat akan pengetahuan tentang navigasi darat, manajemen perjalanan, pun fisik dan mental peserta selama di lapangan.
“Tracking jalur ini terbilang mudah, melewati enam shelter kemudian puncak Malino, dengan waktu tempuh 4 hari pendakian normal,” jelasnya.