Menelisik Jejak Kejayaan Kota Tua Donggala
·waktu baca 2 menit

Kota tua Donggala di Sulawesi Tengah sudah terkenal sejak abad ke-19. Dulu, kota ini menjadi jalur lalu lintas perdagangan dari berbagai bangsa. Cina, Gudjarat, Spanyol, Portugis, maupun bangsa Arab. Sejarah artefak dan heritage kota Donggala menjadi bukti akan kejayaan itu, dan menjadi bagian dari identitas budaya Nusantara bernilai tinggi.
Kota ini dibangun dengan pola denah kotak-kotak, didominasi rumah bercirikan arsitektur rumah panggung, dikarenakan pengaruh pemukiman para pedagang bugis. Selain itu juga ada bangunan gudang kopra beratap silinder bercirikan arsitektur Kolonial.
Peninggalan masa lalu itu masih ditemui di kawasan pelabuhan dan di bagian lain kota Donggala. Namun kondisinya semakin memprihatinkan pasca-pemindahan administrasi kepabeanan pelabuhan Donggala ke Pantoloan, Kota Palu. Namun puncak kejayaan kota ini tidak terlepas karena adanya pelabuhan laut di kota itu.
“Pelabuhan itu menjadi mata rantai perniagaan dan pelayaran di selat Makassar pada dekade 1902 hingga 1960. Pada era itu, kawasan pelabuhan merupakan kawasan yang tumbuh dinamis. Pelabuhan adalah darah yang memompa jantung perekonomian bagi warga kota Donggala,” kata Jamrin Abubakar, penulis dan sejarawan Donggala, saat berbincang, pada Senin (14/2).
Akan tetapi ketika aktifitas pelabuhan Donggala dipindahkan ke Pantoloan pada tahun 1978, berangsur kesibukan di pelabuhan yang bersejarah ini sepi. Banyak pedagang pindah ke kota Palu.
“Pemindahan pelabuhan Donggala akhirnya meninggalkan goresan luka. Dan luka sejarah itu pun kini menjadi rindu dendam akan kejayaan masa silam,” ujarnya.
Ketenaran kota tua ini, sudah sejak lama menjadi perhatian bangsa Asia, Amerika, dan Eropa. Tahun 1669 kapal dagang Portugis pernah menyerang kota Donggala. Juga kejayaan kota tua Donggala tercatat dalam buku The Narrative of Captain David Woodard yang diterbitkan di London.
Tapi jauh sebelum itu, sebuah naskah Cina kuno terjemahan tentang nusantara oleh oleh J.V. Mills dalam Archipel Nomor 21 (Chinese Navigation) pada tahun 1430, di halaman 79 naskah kuno itu, begitu banyak mengulas tentang karakteristik kota tua ini.
“Ketika penjajah Belanda menguasai Sulawesi Tengah Tahun 1905, Gubernur Jenderal W. Rooseboom di Batavia, membagi Sulteng menjadi dua wilayah, Afdeeling Poso dan Afdeeling Donggala. Dan oleh pemerintah Kolonial Belanda, pelabuhan Donggala kemudian dijadikan sebagai pelabuhan niaga dan penumpang,” (Bang Jalu)
