Menyingkap Sejarah Teluk Palu yang Indahnya seperti Negeri Belanda

Siapa sangka sejak zaman dulu, Teluk Palu, Sulawesi Tengah, sudah menyimpan panorama yang sangat mempesona.
Bahkan menurut catatan Francois Valentyn tahun 1724, Teluk Palu pada zaman itu sangat indah seperti Negeri Belanda. Tentu, tidak bisa dibayangkan indahnya Teluk Palu saat itu.
Hal ini kemudian diungkap oleh Sejarawan Universitas Tadulako (Untad), Drs Charles Kapile yang ditemui PaluPoso, Minggu (1/3).
Seiring berjalannya waktu, begitu banyak perubahan yang terjadi di Teluk Palu dan sekitarnya. Menurut Charles, dari aspek sejarah sesuai catatan Francois Valentyn, menjelaskan bahwa penduduk Kota Palu kala itu berjumlah 3.000 jiwa. Pemerintahannya dipimpin oleh seorang raja (pemerintahan kerajaan).
"Kalau dipahami bahwa kerajaan di Palu itu jauh sebelum pemerintahan kolonial, pemerintahannya berbentuk kerajaan sebagai pemimpin dan kerajaan pada saat itu merdeka, artinya kerajaan yang belum ditaklukkan oleh Belanda,” cerita Charles diawal pembahasan tentang sejarah Teluk Palu.
Chasles kemudian mengungkapkan, dari catatan Francois Valentyn yang mengatakan bahwa Teluk Palu merupakan daerah yang sangat indah seperti Negeri Belanda. Wilayah sekitar teluk memiliki permukaan yang datar dan tanah lumpur yang hitam. Daerah ini terletak di antara gunung-gunung yang cukup tinggi dan tumbuh ribuan pohon kelapa.
“Saya tidak bisa bayangkan Kota Palu khususnya Teluk Palu itu indahnya seperti Negeri Belanda, kala itu," ujar Charles.
Yang perlu dipahami katanya, adalah di Teluk Palu ditumbuhi ribuan pohon kelapa. Ia kemudian mencontohkan, ternyata lambang Provinsi Sulteng disimbolkan dengan pohon kelapa.
"Saya tidak tahu sekarang pemerintah sudah membudidayakan pohon kelapa atau belum. Pada zaman pemerintahan Belanda, kelapa jadi andalan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat Eropa, sehingga jangan heran pemerintah Kolonial Belanda mewajibkan rakyatnya di Indonesia menanam kelapa,” kata Charles melanjutkan ceritanya.
Kota Palu secara geografis, pemerintahannya terletak di depan Teluk Palu dan di muara Sungai Palu. Selain pusat pemerintahan di Teluk Palu, juga ada pusat perdagangan dimana ada pelabuhan-pelabuhan kecil yang dibangun sebagai pengumpul hasil bumi di Kota Palu, yang nantinya dikirim ke Donggala.
Oleh karena itu, P.J Veth tahun 1869 menyebutnya sebagai Teluk Onsoewila karena Kota Palu terletak pada teluk yang sama. Artinya, Teluk Palu juga ada kesamaannya di daerah lain atau di negara lain.
Pada zaman itu menurut Charles, perairan Teluk Palu sangat dalam dan di masa kolonial mungkin pernah diukur kedalamannya.
Keindahan panorama Teluk Palu karena dikelilingi gunung-gunung. Teluk Palu membentang dari utara ke selatan sepanjang 30 Km dan lebar 9 Km. Dengan demikian teluk ini dapat memberikan keuntungan bagi perahu atau kapal-kapal kecil untuk mengangkut berbagai produk dari lembah Palu menuju Pelabuhan Donggala.
Kehebatan kolonial kala itu diakui Charles bukan hanya sekadar mengambil sumber daya di Kota Palu tetapi kolonial juga menjaga keasrian Teluk Palu.
Pada zaman kolonial, Palu dibagi menjadi dua wilayah yakni, Palu Timur dan Palu Barat. Secara ekologi wilayah Palu Timur lebih tinggi daratannya. Disamping itu juga di wilayah Palu Timur lebih cenderung sebagai pusat pemerintahan. Sementara Palu Barat adalah pusat perdagangan, dimana pemerintah membangun pasar pertama di Kota Palu yakni Pasar Tua yang saat ini berada di Kecamatan Palu Barat.
Kelebihan dari Teluk Palu adalah Sungai Palu yang saat itu lebarnya diperkirakan mencapai 600 meter.
Menurut P.J Veth, sungai ini bagi penduduk Kota Palu merupakan salah satu sarana komunikasi dan transportasi bagi perahu-perahu kecil mengangkut berbagai komoditi dari daerah pedalaman menuju daerah lainnya di luar Kota Palu seperti, Sulawesi Selatan.
"Sungai Palu sangat lebar pada saat itu, saya tidak bisa bayangkan lebarnya seperti apa. Jika dibandingkan dengan sekarang, mungkin tinggal beberapa meter saja. Sementara dari fungsinya sampai sekarang juga masih terlihat bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Palu dapat memanfaatkan hasil di Sungai Palu. Salah satunya penambangan pasir dan kualitas pasir di Sungai Palu masih terjamin hingga sekarang,” ujarnya.
Dengan demikian keadaan ekologi Kota Palu dengan teluknya yang mengandung sumberdaya alam yang sangat potensial, cukup menunjang kebutuhan penduduk pada saat itu.
Dalam perspektif sejarah menurut Staatsblad Van Nederlandsch dijelaskan bahwa salah satu usaha di masa kolonial Belanda pada tahun 1830 yakni, dibangun perusahaan industri garam di Talise bagian Timur untuk memberikan peluang bagi masyarakat sekitar Teluk Palu.
Hingga saat ini pun penggaraman Talise masih ada, meskipun nasib para petani garam terancam pascabencana 28 September.
Selain itu, salah satu potensi ekonomi yang tidak bisa diabaikan adalah di Teluk Palu terdapat jenis-jenis ikan. Itu artinya kondisi Teluk Palu pada saat itu sangat baik. Mulai dari lautnya, sungainya, kondisi penggaraman di Talise dan lingkungan di Teluk Palu masih sangat baik.
Sementara itu, Koordinasi Komunikasi Historia Sulteng, Moh Herianto menambahkan, selain pembangunan yang akan membuat Kota Palu menjadi kota berkembang, sisi lainnya adalah banyak terjadi kerusakan pada lingkungan. Belum lagi soal kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar Teluk Palu.
Menurutnya, melaksanakan pembangunan boleh-boleh saja, tetapi sebelumnya pemerintah perlu melakukan kajian terlebih dahulu.
Dari zaman ke zaman lanjutnya, Teluk Palu mengalami perubahan. Namun, apa salahnya jika pemerintah bersama masyarakat Kota Palu tetap menjaga Teluk Palu dan tidak meninggalkan kearifan lokal.
Tidak hanya itu katanya, yang perlu dilakukan adalah bagaimana Teluk Palu ini bisa menjadi daya tarik pariwisata.
“Menurut saya kita tidak bisa menghindari perubahan. Teluk Palu dibangun tapi jangan sampai merusak lingkungan di sekitarnya, mulai dari ekosistemnya, tumbuh-tumbuhan dan biota laut. Mengapa kolonial Belanda saja bisa menjaga Teluk Palu sedangkan kita warga Kota Palu justru ingin merusak Teluk Palu demi kepentingan pribadi,” ujarnya.
