Optimisme Tumbuh di Tengah Ancaman Punahnya Tradisi Menenun di Donggala
·waktu baca 3 menit

Di masa lampau, menenun Buya Sabe (Sarung Donggala) sudah menjadi aktivitas rutin kaum ibu dan anak gadis di Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Bahkan menenun Buya Sabe tersebut sudah menjadi sumber pendapatan rumah tangga.
Seorang pengrajin Buya Sabe di Desa Towale, Ibu Firma (63) mengatakan, waktu yang dibutuhkan untuk proses pembuatan hingga menjadi satu lembar kain Buya Sabe tergantung corak dan kerumitannya. Dan, itu memerlukan kesabaran.
"Harus tekun, cermat, dan betah duduk dengan kaki berselonjor di bawah alat tenun selama berjam-jam setiap harinya," ujar perempuan paruh baya ini ditemui di kediamannya, Ahad (3/6).
Sepintas, pekerjaan ini mamang sangat menjenuhkan. Dari merajut benang hingga merapatkan benang rajutan membutuhkan waktu yang lama.
“Paling cepat seminggu hingga satu bulan, tergantung waktu kita mengerjakannya,” ujarnya.
Sarung Donggala jenisnya bermacam-macam, kata dia. Ada Buya Awi, Buya Bomba, Buya Bomba Kota, Kombinasi Bomba dan Subi, Garusu, Buya Cura dan lain sebagainya.
Hampir setiap rumah di desa tersebut memiliki alat menenun. Karena menenun sudah menjadi kegiatan turun temurun. Ibu Firma menuturkan, pekerjaan penenun Buya Bomba sudah dia sudah lakoni sejak masih gadis. Pengetahuan menenunnya dia peroleh dari sang ibunya.
Dulu, pekerjaan menenun ini menjadi sebuah kewajiban bagi seorang anak gadis. Inilah yang diwariskan secara turun temurun. Namun menurutnya, seiring perkembangan zaman, sudah banyak anak gadis di Desa Towale malu menjadi penenun Buya Sabe.
“Bila sudah tidak ada lagi anak gadis yang mau belajar menjadi penenun Buya Sabe, kerajinan tradisional ini akan punah dan tinggal kenangan,” ujarnya lirih.
Namun optimisme untuk terus melestarikan tradisi menenun di Desa Towale berangsur kembali. Setelah desa tersebut menerima dana hibah dari Bank Indonesia. Kepala Desa Towale, Subhan Tahir mengaku bersyukur atas bantuan BI.
“Dengan bantuan BI itu kami membangun Galeri Tenun Sarung Donggala. Tumbuh kembali optimisme dan semangat yang mulai kendur,” jelas Subhan kepada media ini.
Sebelumnya, desainer nasional Merdi Sihombing saat berada di Donggala mengaku prihatin dengan menurunnya minat generasi muda terhadap tenun sarung Donggala. Merdi mengajak para penenun Sarung Donggala kembali bangkit.
Menurut Merdi, masa depan tenun sarung Donggala sangat bagus dan bisa menjadi kekuatan Nasional. Pengembangan tenun harus didukung semua pihak agar para pengrajin tetap bisa berkarya dan \ dihargai utamanya para penenun perempuan yang menjadi korban bencana agar bisa bangkit kembali.
Sayangnya ujar Penerima Rekor Museum Rekor Indonesia atas rekor Penemuan Teknik Tenun dengan Pewarna Alam itu, tenun Donggala hanya terkenal di tingkat domestik. Merdi ingin tenun sarung Donggala bisa tampil di kancah nasional maupun internasional. (Bang Jalu)
