Pendeta Akan Berikan Pendampingan Keluarga Korban Teroris MIT Poso

Insiden pembunuhan keji yang dialami empat petani di Desa Kalimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), membuat publik terkejut. Hal itu sudah pasti tidak akan berbeda dengan yang dialami keluarga korban di Desa Kalimago.
Menyadari hal itu, seluruh Pendeta Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Klasis Napu Kabupaten Poso, Senin (17/5), akan ke Desa Kalimago untuk memberikan pelayanan rohani berupa trauma healing kepada keluarga korban pembunuhan yang diduga dilakukan teroris MIT Poso.
“Sudah tentu dengan kejadian ini membuat warga di sana trauma begitu juga keluarganya. Makannya kami terpanggil untuk datang ke sana memberikan pelayanan,” kata Pendeta Thomas Tontosi, salah satu pendeta senior di GKST Klasis Napu ini, kepada media ini, Minggu (16/5).
Semua pendeta yang ada di Kabupaten Poso turut bersedih mendengar kejadian tersebut. Sehingga usai mendengar kejadian itu, seluruh pendeta bersepakat turun langsung ke Desa Kalimago untuk membantu menguatkan moral keluarga korban.
“Saat ini kami masih memberikan kepercayaan bagi aparat untuk memberikan rasa aman. Namun kami meminta ketegasannya untuk memberikan perlindungan bagi petani Poso,” katanya.
Thomas tinggal di Lembah Napu, Desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara. Jarak antara Desa Wuasa dan Desa Kalimago cukup dekat. Cukup menempuh waktu 30 menit untuk sampai.
Namun, diakui Pendeta Thomas, wilayah Desa Kalimago yang berada di bawah pegunungan, sangat mudah diakses bagi para teroris tersebut, tapi bisa jadi sulit dijangkau oleh aparat yang berjaga sebab tantangan yang dihadapi adalah hutan dengan kondisi wilayah yang cukup luas.
“Kami menyadari mungkin aparat kita terbatas. Mereka tidak mungkin ada di setiap sudut. Namun jangan sampai kejadian ini membuat nilai kebangsaan kita tercabik-cabik. Saya kira kami masih percaya kepada aparat keamanan,” kata Thomas.
