News
·
6 Maret 2021 11:08

Pendidikan di Tengah Pandemi, Internet Jadi Hambatan Anak-anak di Morowali

Konten ini diproduksi oleh Palu Poso
Pendidikan di Tengah Pandemi, Internet Jadi Hambatan Anak-anak di Morowali  (304795)
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Amir Amirudin. Foto: Intan/PaluPoso
Di tatanan new normal menghadapi COVID-19, semua aspek jadi berubah. Tidak terkecuali dunia pendidikan. Banyak kalangan terutama orangtua mulai mengeluhkan sistem pembelajaran saat ini yang dianggap kurang efektif dengan hanya mengandalkan anak-anak sekolah belajar melalui Dalam Jaringan (Daring) atau dari rumah ke rumah.
ADVERTISEMENT
“Iya, memang situasi saat ini tidak normal kalau semua orang menginginkan keadaan normal,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Amir Amirudin, Sabtu (6/3). Ia tidak menampik jika sistem pembelajaran saat ini jadi berubah selama masa pandemi.
Menurut Amir, mustahil sekolah bisa melangsungkan pembelajaran seperti saat normal lalu sebelum pandemi seperti ini. Apalagi Kabupaten Morowali yang terus bertahan di zona merah karena angka penderita COVID-19 sangat tinggi di daerah ini.
Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran COVID-19 sebagai Bencana Nasional, menyebabkan masyarakat harus beradaptasi dengan tatanan new normal.
Pendidikan di Tengah Pandemi, Internet Jadi Hambatan Anak-anak di Morowali  (304796)
Ilustrasi anak Sekolah Dasar Foto: Shutterstock
“Sehingga yang terpenting, anak-anak kita tetap terlayani walaupun sekolah tidak efektif. Itu harapannya,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Memang benar, jika harus mencari sistem pembelajaran yang sama dengan saat kondisi masih normal, bagi Amir sama dengan impossible (tidak mungkin). Dan keluhan para orangtua soal bentuk pembelajaran saat ini, tidak hanya dikeluhkan beberapa orangtua, tapi menjadi keluhan nasional.
“Yang penting itu saja. Anak-anak bisa terlayani walau sekolah tidak lagi seharian,” katanya lagi mengulangi.
Di Kabupaten Morowali, seluruh sekolah di berbagai wilayah mulai dari pulau-pulau terkecil sampai di perkotaan, melaksanakan proses pembelajaran serupa dari rumah ke rumah. Setiap kelas dibagi jumlah kelompok hingga lima sampai enam kelompok. Masing-masing kelompok bersekolah di setiap rumah yang dipilih menjadi tempat kumpul.
“Itu kami lakukan karena di Morowali jaringan internet kurang memadai. Masih banyak daerah yang tidak mendapat akses internet bagus. Makanya kita lebih pilih belajar dari rumah ke rumah ketimbang online,” jelas Amir.
ADVERTISEMENT
Untuk saat ini dari sejumlah sekolah yang masih melakukan proses pembelajaran dari rumah ke rumah, baru Kecamatan Menui Kepulauan yang sudah mulai melaksanakan proses pembelajaran di sekolah.
“Itu berdasarkan izin dari bupati melalui camat. Jadi camat melihat apakah situasi belajar mulai kondusif dan melaporkannya kepada bupati. Bisa seperti itu. Sejauh ada izin camat,” tutup Amir.