Peta Kekuatan Kelompok MIT Ali Kalora di Sulteng

Kekuatan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso diperkirakan melemah setelah dua anggotanya Wahid alias Aan alias Bojes dan Aziz tewas tertembak di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah.
Kedua anggotanya itu tewas pascabaku tembak dengan Satgas Tinombala di salah satu perkebunan warga di Desa Bolano Barat, Kabupaten Parimo, pada Selasa (17/11), sekitar Pukul 05.30 WITA.
Sebelum tewas tertembak, kedua anggota MIT Poso itu muncul di Kota Palu dan dilakukan pengejaran oleh Satgas Tinombala dan Densus 88.
Kepada PaluPoso, Dandrem 132 Tadulako, Brigjen TNI, Farid Makruf mengakui kekuatan Kelompok MIT Poso pimpinan Ali Kalora terus melemah menyusul berkurangnya anggotanya yang kini tersisa 11 orang.
Dua anggotanya yakni, Bojes dan Aziz yang tewas tertembak berperan sebagai kurir yang dilepas untuk mencari makan dan rute jalan pergerakan kelompok MIT.
“Begitu mereka mati tertembak, tentu saja berpengaruh pada pergerakan mereka,” kata Farid, Selasa (1/12).
Sebagaimana diketahui, kelompok MIT Poso sudah mulai terbentuk setelah konflik di Kabupaten Poso. Untuk kekuatan persenjataan, kelompok MIT Poso saat ini sangat terbatas yang hanya memiliki sepucuk senjata jenis M16 dan dua pucuk revolver.
Selama berada di pegunungan Sulawesi Tengah, Farid mengatakan, kelompok MIT kerap melakukan barter dengan warga yang tinggal di sekitar wilayah Operasi Tinombala.
Barter yang dimaksud yakni, kelompok MIT memberikan uang kepada warga untuk dibelikan bahan makanan.
“Kalau ketemu masyarakat di atas pondok dan ada makanan masak maka dia ambil dan tinggalin uang. Itu kebiasaan mereka,” kata Farid.
Menurut Farid, pascapenyerangan dan penganiayaan yang dilakukan di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, diperkirakan DPO kelompok MIT Poso masih bersembunyi di sekitar pegunungan Kabupaten Sigi.
“Kami masih berkonsentrasi di Lembantongoa,” katanya.
Terkait dengan pasukan khusus yang sudah tiba di Poso pada Selasa (1/12), diharapkan dapat memperkuat Satgas Tinombala dalam memburu DPO kelompok MIT Poso.
Sebelum membantu operasi perburuan, pasukan khusus akan melakukan adaptasi dan mempelajari daerah operasi. Pasukan khusus yang jumlah satuannya setingkat pleton itu akan ada di Sulawesi Tengah sampai perburuan DPO Kelompok MIT Poso selesai.
“Setelah itu baru kita tugaskan, berapa lamanya tergantung kesiapan mereka,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Desa Lembantongoa, Deki Basalulu menambahkan, kelompok MIT Poso memang sering berada di sekitar pegunungan Kecamatan Palolo, tepatnya di sekitar Desa Lembantongoa untuk meminta makanan dengan sistem teror.
“Kalau mau balapor kita gerek,” kata Deki menirukan ucapan anggota MIT ketika meneror warga.
Sistem teror seperti ini membuat warga ketakutan dan sering dialami warga yang berada di kebun.
“Kalau yang lalu sering dorang ba singgah minta makanan dengan sistem teror,” kata Deki.
