Konten Media Partner

Pulau Kelelawar Parigi Moutong, Destinasi Wisata yang Semakin Meredup

Palu Posoverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nampak kelelawar menggantung di pohon-pohon di pulau Kelelawar, Desa Tomoli, Kabupaten Parigi Moutong: Foto: Intan/PaluPoso
zoom-in-whitePerbesar
Nampak kelelawar menggantung di pohon-pohon di pulau Kelelawar, Desa Tomoli, Kabupaten Parigi Moutong: Foto: Intan/PaluPoso

Matahari masih sembunyi di balik awan menyelimuti langit Pulau Kelelawar. Nampaknya akan hujan, angin berhembus cukup kencang menerbangkan daun-daun dan jatuh berguguran di pasir pantai. Di tempat yang sama, tidak jauh dari pantai, belasan anak-anak gembira riang berkejar-kejaran bermain air.

Begitu kiranya suasana objek wisata Pulau Kelelawar, Desa Tomoli, Kecamatan Toribulu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, di pagi hari, Minggu (22/12). Pulau Kelewat adapah sebuah lokasi wisata tempat hidupnya ribuan kelelawar yang letaknya kurang lebih 97 kilometer dari Kota Palu.

Belasan anak-anak yang bermain di pantai adalah murid-murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hari itu mereka diajak berlibur gurunya.

Berada tepat di bibir pantai, berdiri kukuh rumah panggung berbahan kayu. Bentuknya cukup besar untuk menampung pengunjung pantai. Layaknya tempat pertemuan, di tempat itu anak-anak PAUD, guru dan orangtua sibuk mengatur tempat peristirahatan.

Nampak kelelawar menggantung di pohon-pohon di pulau Kelelawar, Desa Tomoli, Kabupaten Parigi Moutong: Foto: Intan/PaluPoso

Tidak jauh dari rumah panggung itu, berdiri pula tempat bersantai lainnya. Bukan dari kayu, tetapi berbahan semen. Jumlahnya sebanyak 10 buah terbagi di kiri dan kanan rumah panggung, letaknya berhadapan dengan pantai. Namun nampaknya keberadaan tempat peristirahatan itu kurang menarik perhatian. Nampak di bagian sisinya ditumbuhi semak belukar, bahkan beberapa di antaranya tidak lagi memiliki atap.

Lokasi itu umumnya memiliki toilet. Jumlahnya dua buah. Letaknya di bagian tengah obyek wisata. Tetapi karena letaknya agak jauh dan dipenuhi semak belukar. Toilet tersebut dipastikan tidak berfungsi. Menurut warga sekitar toilet tersebut masih berfungsi tetapi tidak punya pasokan air.

Walaupun begitu, keberadaan anak-anak PAUD membuat pantai di Pulau Kelelawar hidup pagi itu. Tidak heran, kehadiran mereka turut mengundang warga sekitar datang ke tempat itu. Sedangkan para orangtua juga tidak kalah sibuk, mereka menyediakan segala persiapan yang dibutuhkan anaknya di rumah panggung. Mereka menyediakan pakaian ganti dan bekal serta tak sedikit pula yang mengabadikan gambar anak-anaknya dalam ponsel, seperti yang dilakukan Jufri.

Menurut Jufri kepada PaluPoso, lokasi wisata tersebut adalah wisata andalan desa. Objek wisata ini cukup banyak mengundang perhatian turis, baik lokal dan mancanegara. Sebab menyajikan hal berbeda, seperti keindahan alam pantai terutama Pulau Kelelawar. Namun, sudah sejak lama lokasi wisata itu tidak terurus.

Pulau Kelelawar, Desa Tomoli, Kabupaten Parigi Moutong: Foto: Intan/PaluPoso

"Dulu belum 60 persen pembangunannya malah sudah banyak yang mengunjungi objek wisata ini. Tetapi lama-kelamaan mulai berkurang seperti sekarang," kata Jufri yang saat itu ikut menjadi tim dari pembangunan gazebo dan rumah panggung tersebut.

Tidak terawatnya kondisi wisata diakui Sekretaris Desa Tomoli, Sofyan. Sebenarnya, pemerintah desalah yang menjadi penanggung jawab pengelolaan wisata tersebut. Namun pengelolaannya belum begitu maksimal. Walaupun begitu, Pemerintah Desa (Pemdes) tetap memprioritaskan keberlanjutan usaha itu dengan membangun jembatan dengan anggaran sekitar Rp 300 juta di tahun 2020.

"Sudah diusulkan untuk tahun depan. Jembatannya nanti memanjang lurus ke arah pantai dan akan berdampingan dengan habitat kelelawar saat ini," ujarnya.

Diungkapkan Sofyan, setiap tahun sebenarnya lokasi wisata itu mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten. Tetapi beberapa tahun terakhir bantuan tersebut sudah tidak ada lagi. Salah satu alasannya karena terbentur dengan kepemilikan lahan. Beberapa warga mengklaim, tanah di garis pantai tersebut milik mereka. Sehingga pemerintah agak kesulitan melakukan pembenahan lokasi wisata.

Gazebo-gazebo yang berada di sekitar Pulau Kelelawar, Desa Tomoli, Kabupaten Parigi Moutong: Foto: Intan/PaluPoso

"Di sinilah letak kesulitannya karena klaim warga tersebut. Sebenarnya kami Pemdes paham dengan aturan sepanjang 100 meter dari bibir pantai tidak bisa menjadi milik pribadi. Tapi mau bagaimana lagi. Kita tidak ingin berbenturan dengan warga," ujarnya.

Di sisi lain karena minimnya pengelolaan lokasi wisata tersebut, hingga kini kehadirannya belum memberikan dampak ekonomi kepada warga sekitar. Hal itu bisa dilihat dengan tidak adanya penjual di tempat itu. Warga terlihat menyediakan makanan sendiri. Biasanya mereka membawa bekal dari rumah atau memasaknya langsung di tepi pantai.

Kembali membahas mengenai keunikan destinasi wisata yang ada di Pulau Kelelawar. Dari namanya saja Pulau Kelelawar. Selain itu, kelelawar yang hidup di pulau itu ada tiga warna. Yakni hitam, coklat dan kuning. Kelelawar-kelelawar itu akan didapati bergelantungan di atas pohon saat matahari terbit. Sebaliknya, kelelawar tersebut akan berterbangan memenuhi langit-langit pantai saat matahari akan terbenam. Di situlah letak daya tarik wisata Pulau Kelelawar.

Keberadaan kelelawar di wilayah itu seperti abadi. Mereka mendiami wilayah itu tanpa melakukan migrasi, kecuali satu hal, terjadi gangguan.

Pintu masuk ke Pulau Kelelawar, Desa Tomoli, Kabupaten Parigi Moutong: Foto: Intan/PaluPoso

Menurut beberapa orang warga, awalnya kelelawar-kelelawar menghuni pulau yang berada di bagian tengah. Tetapi, karena terjadi gangguan yang tidak lain dilakukan manusia, mereka berpindah tempat. Sehingga, saat ini kelelawar tersebut menghuni pulau yang berada di sebelahnya.

Pulau tersebut masih menyatu dengan daratan yang didiami warga. Untuk menuju ke tempat itu, selain bisa menggunakan perahu juga dapat ditempuh dengan jalan kaki. Namun, kendaraan tidak bisa masuk ke tempat itu.

Gangguan-gangguan itu sebenarnya berasal dari warga sekitar dan warga dari luar desa. Mereka menangkapnya dan menjual kelelawar tersebut. Hal tersebut menjadikan populasi kelelawar di tempat itu makin berkurang. Hal ini sangat disayangkan, mengingat hadirnya kelelawar di pulau itu menjadi nilai jual tersendiri bagi pengunjung.