Sulawesi Tengah Masih Jadi Daerah Penyumbang Pernikahan Anak Tertinggi

Konten Media Partner
7 September 2019 14:36 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi pernikahan dini. (Foto: Muhammad Faisal N/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pernikahan dini. (Foto: Muhammad Faisal N/kumparan)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sulawesi Tengah masih jadi salah satu daerah penyumbang pernikahan anak tertinggi di Indonesia meski Usia Kawin Pertama (UKP) rata-rata Sulteng per SDKI 2017 sudah bergerak naik jadi 20,1 tahun dari SDKI 2012 yaitu 19,78 tahun.
ADVERTISEMENT
"Ini merupakan pertanda remaja (Sulteng) sudah bergerak maju ke arah positif dan mungkin suatu saat remaja akan mengucapkan selamat tinggal nikah anak dan selamat datang cita-cita," kata Asisten Administrasi Umum, Hukum dan Organisasi, H. Muliono, mengapresiasi kesadaran remaja menunda pernikahan, saat membuka focus group discussion (FGD) Pencegahan Pernikahan Dini Pascabencana Pasigala, Jumat (6/9) di ruang pola BKKBN Sulteng.
Ia mengatakan, bencana yang menimpa tiga daerah di Sulawesi Tengah, Kota Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala), selain menimbulkan korban jiwa, juga ikut melahirkan masalah-masalah baru termasuk pernikahan dini, pelecehan anak dan perempuan di kalangan penyintas, baik yang mendiami huntara maupun shelter tenda pengungsian.
"Pernikahan dini merusak generasi bangsa, jangan sampai membawa kita kena bencana lainnya yaitu bencana demografi," ucap Muliono.
ADVERTISEMENT
Asisten Administrasi Umum, Hukum dan Organisasi Pemda Sulteng, H. Muliono, saat membuka focus group discussion (FGD) Pencegahan Pernikahan Dini Pascabencana Pasigala, Jumat (6/9) di ruang pola BKKBN Sulteng. Foto: Dok. Humas Pemprov Sulteng
Terkait FGD, Muliono berharap dapat menjaring alternatif solusi mencegah pernikahan dini dan penanganannya pada pasangan belia yang sudah terlanjur menikah.
Sementara Direktur Ketahanan Remaja Pusat, Eka Sulistia Ediningsih mengimbuh supaya kehadiran Pusat Informasi Konsultasi Remaja (PIKR) lebih dimaksimalkan untuk mengatasi masalah pernikahan dini, termasuk yang marak terjadi pascabencana.
Sebelumnya, Ketua Merial Institut, drg. Muh. Arif Rasyid selaku narasumber mengatakan hasil FGD akan jadi input yang disampaikan ke Pokja Kepemudaan di tingkat nasional.
Terlepas dari kasus pernikahan dini, Ia juga menambahkan bahwa Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) Sulteng dalam beberapa tahun terakhir terus menurun, bahkan di 2018 Sulteng menempati rangking 4 dari bawah sehingga jadi konsennya untuk diperbaiki.
ADVERTISEMENT
"Kalau ini naik, ini akan meningkatkan rerata IPP Indonesia," ujarnya.
Reporter: Mallongi