kumparan
KONTEN PUBLISHER
2 Januari 2020 18:45

Sulawesi Tengah Tingkatkan Pengembangan Budidaya Rumput Laut

IMG_20200102_191331.jpg
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah, Moh Arif Latjuba. Foto: Dok. PaluPoso
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2019 tentang Peta Panduan Pengembangan Industri Rumput Laut Nasional tahun 2018-2021, seluruh wilayah di Sulawesi Tengah berpotensi untuk pengembangan budidaya rumput laut.
ADVERTISEMENT
"Sejak awal 2019, pengembangan budidaya rumput laut di Sulawesi Tengah terus ditingkatkan," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah, Moh Arif Latjuba, Kamis (2/1), di ruang kerjanya.
Menurut Arif, Sulawesi Tengah merupakan daerah ke-3 se Indonesia yang memiliki potensi yang cukup baik untuk pengembangan budidaya rumput laut. Setelah Sulawesi Selatan dan kemudian Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah adalah wilayah yang bagus dan seluruh perairan di kabupaten cocok untuk budidaya rumput laut.
Sekaitan hal itu, untuk mendukung pengembangan rumpul laut di Sulawesi Tengah dalam hal benih pengembangan kultur jaringan rumput laut dan peningkatan sumber daya manusia, pada awal 2019, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggah mengadakan kerjasama dengan Seameo Biotrop di Bogor.
ADVERTISEMENT
“Tindaklanjut kerjasama tersebut kami mulai di bulan Juni dan pada November 2019 kami lanjutkan dengan peningkatan sumber daya manusia secara teknis dalam rangka untuk pelatihan kultur jaringan rumput laut di seluruh kabupaten di Sulawesi Tengah,” kata Arif.
Dinas Kelautan dan Perikanan tambahnya, sudah melakukan uji coba kebun bibit di tiga kabupaten di wilayah Sulawesi Tengah. Daerah yang dianggap berpotensi cepat pengembangan rumpul laut tersebut adalah Kabupaten Banggai Laut, Banggai Kepulauan dan Tojo Una-una.
“Semuanya sudah melapor di akhir 2019 dan hasilnya semua bagus perkembangannya untuk kultur jaringan rumput laut,” ujarnya.
Sementara itu, dalam pengembangan rumput laut, Sulawesi Tengah mendapat bantuan dari Kementerian Kelautan di dua kabupaten, yakni Kabupaten Banggai Laut dan Banggai Kepulauan.
ADVERTISEMENT
“Maret pendampingan penyiapan laboratorium satelit kultur jaringan dan ke depan harapannya kami bisa mandiri,” kata Arif.
ixzqh9miywabvxrq8ago.jpg
Rumput Laut (Foto: Dok: Wikimedia Commons)
Adapun strategi untuk meningkatkan pengembangan rumput laut, Sulawesi Tengah akan mengganti pola pembibitan rumput laut dengan yang baru. Langkah ini, menurut Arif sudah dipertimbangkan mengingat bibit Cottonii termasuk salah satu bibit yang memiliki waktu pertumbuhan yang cepat, hanya 30 hari untuk masa panen. Dalam waktu 30 hari, dari berat rumput laut 50 gram naik menjadi 300 gram.
Selain itu, bibit cottonii dianggap tahan terhadap penularan penyakit ice-ice.
Tidak hanya itu, nilai jual rumput laut jenis ini dianggap lebih baik dari pada bibit rumput laut sebelumnya, yakni berkisar Rp18.000 hingga Rp23.000 per kilogram rumput laut kering.
ADVERTISEMENT
“Dulu kami menggunakan bibit yang susah berkembang dan cepat terjangkit penyakit sehingga kami mengubah bibit,” sebut Arif.
Untuk memulai pengembangan rumput laut di semua kabupaten kata Arif, Dinas Kelautan dan Perikanan rutin melakukan sosialisasi dan percontohan di seluruh kabupaten tentang bibit rumput laut dan pengembangannya.
Sebagaimana diketahui Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng memiliki lima kebun bibit rumput laut, yakni dua di Kabupaten Banggai Laut, dua di Kabupaten Banggai Kepulauan dan satu di Kabupaten Tojo Una-una.
“Untuk uji coba 2019 ada dua kebun bibit di Kabupaten Banggai Laut dan Banggai Kepulauan adalah bantuan dari kementerian menggunkan dana APBN dan tiga merupakan dana APBD,” ujarnya.
Hanya saja ada kendala tersendiri dalam pengembangan rumput laut. Pemerintah kesulitan dalam mengembalikan pola pikir masyarakat untuk kembali membudidayakan rumput laut. Apalagi pascabencana, beberapa kabupaten gagal panen dan mengalami kesulitan dalam penyediaan kembali bibit.
ADVERTISEMENT
“Kendala awal penyediaan bibit tetapi sekarang justeru mengembalikan cara berpikir petani yang dulunya sempat putus asa karena bibit rumput laut yang sebelumnya gagal panen dan nilai pasarnya rendah,” jelasnya.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan