Konten Media Partner

Tumbilotohe, Tradisi Nyalakan Lampu di Penghujung Ramadhan

Palu Posoverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tumbilotohe, Tradisi Nyalakan Lampu di Penghujung Ramadhan, Parigi Moutong, Sulteng. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tumbilotohe, Tradisi Nyalakan Lampu di Penghujung Ramadhan, Parigi Moutong, Sulteng. Foto: Istimewa

Memasuki tiga malam terakhir Ramadhan, warga Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), menggelar tradisi pasang lampu.

“Tradisi ini kami gelar setiap tahunnya, saat memasuki tiga malam terakhir atau menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan,” kata Ketua Karang Taruna Kelurahan Bantaya, Muhammad Rifai Pakaya, usai pemasangan lampu di Bantaya, Minggu (9/5).

Ia mengatakan, sebanyak 1.600 lampu yang terbuat dari botol bekas dipasang pada tradisi Tumbilotohe tahun ini. Lampu-lampu tersebut masih sangat tradisional, masih menggunakan botol bekas, lalu disisi minyak tanah. Dan diberi sumbu serta ditata sedemikian rupa.

Selain lampu botol, juga dipasang lampu lead sepanjang 200 meter untuk menambah semarak suasana.

“Dengan adanya tradisi seperti ini antusias warga Parigi Moutong cukup tinggi untuk datang ke lokasi guna melihat keindahannya,” kata Muhammad.

Tumbilotohe adalah malam pasang lampu yang dimaknai sebagai motivasi bagi warga yang melaksanakan ibadah. Di mana dengan adanya lampu terang benderang ini dapat memudahkan mereka untuk melangkah ke masjid.

Tumbilotohe, Tradisi Nyalakan Lampu di Penghujung Ramadhan, Parigi Moutong, Sulteng. Foto: Istimewa

Istilah Tumbilotohe kata dia, berasal dari bahasa Gorontalo dan merupakan gabungan dua suku kata, Tumbilo yang berarti pasang dan Tohe yang berarti lampu. Sehingga, berdasarkan namanya Tumbilotohe dikatakan sebagai tradisi pasang lampu.

“Ini merupakan warisan budaya sejak abad 15. Awalnya masyarakat Gorontalo memasang lampu di depan rumah sebagai penerangan halaman rumah dan jalanan. Bagi warga lampu itu sebagai penerangan dalam melaksanakan ibadah di masjid-masjid untuk meraih malam Lailatul Qadar,” ujarnya.

Warga Gorontalo sebelumnya menggunakan penerangan yang disebut wango-wango atau lampu terbuat dari Wamuta atau Selundang yang dihaluskan dan diruncingkan dan kemudian dibakar.

Hingga kini, tradisi terus berkembang. Alat penerangan lain memanfaatkan minyak tanah. Masyarakat Gorontalo juga memanfaatkan ribuan lampu listrik untuk lebih menyemarakkan tradisi itu.

“Kami akan terus melaksanakan kegiatan ini. Dan mengajarkan kepada generasi selanjutnya agar pelaksanaan semacam ini tidak akan hilang,” tutupnya.

Tumbilotohe, Tradisi Nyalakan Lampu di Penghujung Ramadhan, Parigi Moutong, Sulteng. Foto: Istimewa